Orem-Orem Malang, Kuliner Legendaris yang Bertahan Diam-Diam dan Tetap Dicari Hingga Kini
SUARA3NEWS - Di balik popularitas bakso dan rawon yang kerap disebut sebagai ikon kuliner Malang, ada satu hidangan tradisional yang bertahan tanpa banyak sorotan: orem-orem. Sajian berbahan tempe dan kuah santan ini telah lama menjadi bagian dari keseharian warga Malang, namun justru jarang diangkat secara mendalam sebagai kuliner legendaris daerah.
Kuliner Kampung yang Menjadi Identitas Lokal
Orem-orem dikenal sebagai makanan rumahan khas Malang. Hidangan ini lazim disajikan dengan potongan ketupat, tempe goreng, ayam suwir, serta kuah santan berempah yang gurih dan hangat. Dalam praktiknya, orem-orem lebih sering dijumpai di warung sederhana ketimbang rumah makan besar.
Keberadaannya yang tidak mencolok justru menjadi ciri khas. Orem-orem tumbuh sebagai kuliner yang dekat dengan kehidupan masyarakat, bukan sebagai sajian pesta atau makanan seremonial.
Asal Usul Orem-Orem dan Jejak Tradisinya
Tidak ada catatan tunggal tentang kapan orem-orem pertama kali muncul. Namun sejumlah pelaku kuliner menyebut hidangan ini telah dikenal sejak puluhan tahun lalu sebagai makanan kampung berbasis tempe—bahan pangan yang sejak lama menjadi identitas kuliner Jawa Timur.
Dalam perkembangannya, orem-orem tidak mengalami banyak perubahan resep. Kuah santan yang dimasak perlahan dengan bumbu sederhana tetap menjadi karakter utama, sementara tempe dan ayam berfungsi sebagai penguat rasa dan tekstur.
Sederhana, tapi Punya Karakter Kuat
Sekilas, orem-orem tampak seperti masakan santan biasa. Namun keunikan justru terletak pada perpaduan rasa yang seimbang: gurih santan, aroma rempah, serta tempe yang dimasak hingga menyerap bumbu.
Bagi sebagian warga Malang, orem-orem bukan sekadar makanan, melainkan pengingat suasana rumah dan masa kecil. Sensasi ini yang membuat hidangan tersebut tetap dicari, meski tanpa promosi besar atau inovasi ekstrem.
Bertahan di Tengah Gempuran Kuliner Modern
Di era kuliner viral dan menu kekinian, orem-orem cenderung berjalan di jalurnya sendiri. Warung-warung orem-orem bertahan dengan pelanggan setia, sebagian besar berasal dari lintas generasi.
Menariknya, dalam beberapa tahun terakhir, orem-orem mulai dikenal kembali oleh generasi muda yang mencari pengalaman kuliner lokal yang otentik. Media sosial turut berperan, meski eksposurnya masih jauh dibandingkan kuliner Malang lainnya.
Nilai Ekonomi dan Sosial di Balik Seporsi Orem-Orem
Sebagian besar penjual orem-orem merupakan pelaku usaha kecil yang mengandalkan resep keluarga. Usaha ini bukan hanya menopang ekonomi rumah tangga, tetapi juga menjaga keberlanjutan kuliner lokal.
Keberadaan orem-orem di berbagai sudut Malang menunjukkan bahwa kuliner tradisional tetap memiliki ruang hidup, selama ada konsistensi rasa dan hubungan emosional dengan konsumennya.
Mengapa Orem-Orem Layak Disebut Kuliner Legendaris
Julukan legendaris tidak selalu identik dengan popularitas nasional. Dalam konteks orem-orem, status legendaris justru terletak pada daya tahannya sebagai makanan rakyat yang tidak tergerus zaman.
Puluhan tahun bertahan dengan resep sederhana, tanpa kehilangan peminat, menjadi bukti bahwa orem-orem memiliki posisi tersendiri dalam peta kuliner Malang.
Peluang Orem-Orem di Masa Depan
Dengan meningkatnya minat terhadap wisata kuliner berbasis budaya lokal, orem-orem memiliki peluang untuk dikenal lebih luas. Namun tantangannya tetap sama: menjaga keaslian di tengah perubahan selera pasar.
Bagi Malang, orem-orem bukan hanya soal rasa, tetapi tentang menjaga cerita kuliner yang tumbuh dari dapur-dapur kecil dan bertahan lewat kesederhanaan.
Orem-orem Malang adalah contoh bagaimana kuliner legendaris tidak selalu hadir dengan sorotan besar. Ia bertahan melalui rasa, tradisi, dan kedekatan dengan masyarakat. Di tengah hiruk-pikuk tren kuliner modern, orem-orem tetap menemukan jalannya sendiri—tenang, sederhana, dan relevan.(hz)

