Gaji Pas-pasan, Hidup Tertekan? Pakar Keuangan Ungkap Cara Aman Mengelola Uang
SUARA3NEWS - Gaji yang datang setiap bulan sering kali terasa hanya singgah sebentar. Baru awal bulan, sebagian sudah habis untuk kebutuhan pokok, cicilan, dan tagihan rutin. Di tengah kenaikan biaya hidup, banyak pekerja dengan gaji pas-pasan merasa tertekan, bukan karena kurang bekerja keras, tetapi karena uang yang diterima tak pernah benar-benar cukup hingga akhir bulan.
Kondisi ini bukan dialami satu dua orang. Di berbagai daerah, pekerja dengan penghasilan setara upah minimum harus berhadapan dengan realitas harga kebutuhan yang terus naik, sementara kemampuan menabung makin terbatas. Situasi inilah yang kerap memicu stres finansial, bahkan tanpa disadari membentuk pola hidup “bertahan hari ke hari”.
Namun menurut para penasihat keuangan, masalah utama sering kali bukan semata besaran gaji, melainkan cara mengelola uang yang belum tepat dan tidak sesuai dengan kondisi riil pendapatan. Dengan pendekatan yang lebih aman dan realistis, tekanan keuangan tetap bisa dikendalikan, meski penghasilan tergolong pas-pasan.
UMK Berbeda, Tekanan Hidup Tidak Sama
Besaran UMK memang berbeda di tiap kota. Namun, perbedaan tersebut hampir selalu berjalan seiring dengan biaya hidup.
Sebagai ilustrasi, pekerja dengan UMK di Kota Pasuruan atau Kota Malang menghadapi tantangan menjaga pengeluaran pokok seperti makan, transportasi, dan tempat tinggal, meski tekanannya relatif berbeda dibanding kota besar.
Sementara di Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota pelajar dan pariwisata, UMK relatif lebih rendah dibanding kota industri. Namun biaya hidup—terutama hunian dan kebutuhan harian—tidak selalu murah, terutama di kawasan perkotaan.
Di sisi lain, Jakarta memiliki UMP tertinggi secara nasional, tetapi juga diiringi biaya hidup yang jauh lebih tinggi, mulai dari sewa tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ini menunjukkan bahwa besar kecilnya gaji minimum tidak bisa dilepaskan dari konteks kota tempat seseorang hidup. Dua pekerja dengan nominal gaji berbeda bisa sama-sama mengalami tekanan finansial jika pengelolaannya tidak seimbang dengan biaya hidup.
Baca Juga :PP Pengupahan Diteken Presiden Prabowo, Ini Skema Baru Penentuan UMP 2026 dan Dampaknya bagi Pekerja
Menurut Pakar, Ini Kesalahan yang Paling Sering Terjadi
Pendiri komunitas edukasi finansial Ligwina Hananto menjelaskan, salah satu kesalahan umum pekerja bergaji UMK adalah mencampur kebutuhan pokok, cicilan, dan gaya hidup dalam satu aliran uang.
“Masalahnya bukan ingin hidup layak, tapi ketika standar hidup dibentuk oleh lingkungan, bukan oleh kemampuan finansial,” ujar Ligwina dalam kelas literasi keuangan daring yang membahas keuangan pekerja dan keluarga muda.
Tekanan sosial—seperti kebiasaan nongkrong, belanja daring, atau cicilan barang konsumtif—sering kali membuat pengeluaran membesar tanpa terasa.
Cara Aman Mengelola Keuangan Gaji UMK
Menurut penasihat keuangan, pendekatan paling aman bagi pekerja bergaji standar bukanlah penghematan ekstrem, melainkan penataan yang realistis dan konsisten.
Beberapa prinsip yang disarankan antara lain:
-
Membagi gaji berdasarkan fungsi sejak awal diterima, bukan dari sisa
-
Membedakan kebutuhan nyata dengan kebiasaan sosial
-
Menyisihkan dana darurat meski nominalnya kecil
-
Mengendalikan cicilan agar tidak menekan ruang hidup
Pendekatan ini dinilai lebih manusiawi dan lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.
Potret Lapangan: Bertahan di Tengah Tekanan Sehari-hari
Di berbagai kota, tidak sedikit pekerja yang mengaku pengeluarannya membengkak bukan karena kebutuhan mendesak, melainkan karena penyesuaian gaya hidup.
Di kota industri, pengeluaran transportasi dan makan menjadi beban rutin. Di kota pendidikan dan pariwisata, biaya hunian dan kebutuhan harian kerap menyedot sebagian besar gaji. Sementara di kota metropolitan, hampir seluruh aspek kehidupan menuntut biaya lebih tinggi.
Perubahan biasanya baru terjadi ketika tekanan mulai terasa nyata—gaji habis lebih cepat, cicilan menumpuk, dan kebutuhan tak terduga sulit dipenuhi.
Keluar dari Lingkaran Utang dan Gaya Hidup ‘Tampak Mewah’
Menurut Prita Hapsari, CFP, perencana keuangan independen yang juga tergabung dalam Financial Planning Standards Board (FPSB) Indonesia menegaskan, utang tidak selalu buruk, tetapi menjadi masalah ketika digunakan untuk menopang gaya hidup, bukan kebutuhan produktif.
Langkah yang disarankan antara lain:
-
Menghentikan penambahan utang konsumtif
-
Memprioritaskan pelunasan utang berbunga tinggi
-
Menurunkan standar konsumsi secara bertahap
-
Menyusun ulang tujuan keuangan jangka pendek yang realistis
“Yang penting bukan cepat berubah, tapi konsisten,” kata Prita.
Sejalan dengan itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam berbagai publikasi literasi keuangan menekankan bahwa pengelolaan keuangan yang sehat tidak ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan, melainkan oleh kemampuan menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan secara konsisten.
Keuangan Sehat Tidak Selalu Terlihat
Menurut para pakar, stabilitas keuangan sering kali tidak tercermin dari gaya hidup luar. Banyak pekerja bergaji sederhana justru merasa lebih tenang karena memahami batas kemampuan dan prioritas hidupnya.
Mengelola keuangan dengan gaji setara UMK memang penuh tantangan, apalagi dengan biaya hidup yang berbeda di tiap kota. Namun dengan pendekatan yang aman, realistis, dan sesuai konteks wilayah, pekerja tetap memiliki peluang keluar dari tekanan finansial dan membangun kestabilan jangka panjang.(hz)

