Jangan Tunggu Anak Jadi Korban: Begini Cara Mencegah Bullying Sejak Dini

Nov 27, 2025 - 14:17
 0
Jangan Tunggu Anak Jadi Korban: Begini Cara Mencegah Bullying Sejak Dini
ilustrasi bullying anak di sekolah

SUARA3NEWS - Kasus perundungan di sekolah kembali menjadi sorotan nasional setelah berbagai laporan terbaru menunjukkan tren peningkatan di sejumlah daerah. Kondisi ini mendorong para orang tua untuk lebih waspada dan memahami apa yang sebenarnya menyebabkan bullying terjadi, serta bagaimana mencegahnya sejak dini sebelum anak menjadi korban maupun pelaku.

Apa yang Terjadi dan Mengapa Bullying Masih Berulang?

Pakar psikologi perkembangan anak menilai bahwa bullying sering muncul karena kombinasi berbagai faktor—mulai dari pola asuh yang kurang responsif, lingkungan sekolah yang minim pengawasan, hingga budaya normalisasi kekerasan, baik di rumah maupun di ruang digital.

Menurut Psikolog Pendidikan, Dr. Ratri Handayani, bullying tidak muncul tiba-tiba.

"Anak belajar dari apa yang ia lihat. Jika ia terbiasa menyaksikan kekerasan verbal, merendahkan orang lain, atau pola asuh yang keras, risiko ia menjadi pelaku atau korban akan meningkat," ujarnya.

Lingkungan sebaya yang tidak sehat, kompetisi akademik yang tinggi, serta paparan konten kekerasan di media sosial juga menjadi akar masalah yang sering luput diperhatikan.

di Mana Akar Permasalahan Sebenarnya?

Berdasarkan berbagai temuan lapangan, akar masalah bullying umumnya bermula dari tiga titik:

  • Rumah: pola komunikasi yang keras, minimnya empati, kurangnya kehangatan, serta pembiasaan anak untuk “harus menang”.

  • Sekolah: pengawasan yang lemah, sistem pengaduan yang tidak jelas, dan budaya tutup mata terhadap tindakan agresif yang dianggap “wajar”.

  • Lingkungan digital: normalisasi hinaan, menyebarkan data diri seseorang tanpa persetujuan, hingga candaan yang merendahkan.

Pakar Sosiologi Anak, Aditya Kunandar, menegaskan bahwa perbaikan harus dimulai dari rumah.

“Orang tua adalah garda pertama. Jika anak terbiasa didengar, dihargai, dan diajarkan empati, tingkat agresinya akan jauh lebih rendah,” katanya.

Apa yang Harus Diperbaiki Terlebih Dahulu?

Sebelum menuntut sekolah memperketat aturan, para ahli sepakat bahwa perubahan paling dasar harus datang dari keluarga. Ada tiga fokus utama:

  1. Perkuat hubungan emosional di rumah Anak yang merasa aman secara emosional cenderung lebih berani bicara ketika mengalami perundungan. “Komunikasi terbuka adalah vaksin pertama terhadap bullying,” kata Konselor Keluarga, Meydi Pranata.

  2. Ajarkan empati dan batasan perilaku sejak dini  Anak perlu tahu bahwa bercanda tidak boleh menyakiti orang lain—baik secara fisik maupun mental.

  3. Batasi konsumsi konten yang mendorong perilaku agresif Konten kekerasan sering menjadi model perilaku yang diimitasi tanpa disadari.

Bagaimana Sekolah dan Orang Tua Bisa Mencegah Bullying?

Berbagai ahli sepakat bahwa pencegahan bullying harus berupa kerja sama tiga arah: orang tua, sekolah, dan lingkungan digital.

Berikut langkah yang paling efektif dan mudah dipraktikkan:

  • Rutin mengecek kondisi emosional anak, bukan sekadar nilai akademiknya.

  • Membangun sistem pelaporan aman di sekolah, agar anak tidak takut untuk berbicara.

  • Mengajarkan keterampilan sosial, seperti menyampaikan pendapat tanpa merendahkan orang lain.

  • Mengawasi interaksi digital anak, terutama grup chat dan media sosial.

  • mengenali tanda-tanda awal perundungan, seperti perubahan perilaku, menarik diri, atau tiba-tiba takut sekolah.

Mengapa Orang Tua Berperan Paling Besar?

Ahli Psikologi Sosial Universitas Indonesia, Dr. Yudi Pramana, menjelaskan: “Pencegahan bullying yang paling efektif selalu dimulai dari rumah. Sekolah bisa memberi aturan, tapi karakter anak dibentuk dari pola asuh dan pengalaman hariannya.”

Menurutnya, orang tua harus berhenti berasumsi bahwa bullying hanyalah bagian dari dinamika pertemanan. “Jika orang tua masih menganggap bullying sebagai hal wajar, siklusnya tidak akan pernah putus,” tegasnya.

Mencegah bullying bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi terutama keluarga. Dengan komunikasi yang hangat, pengawasan yang tepat, serta pendidikan empati sejak dini, anak dapat terlindungi dari risiko menjadi korban maupun pelaku.

Jangan menunggu sampai ada korban baru. Pencegahan paling efektif dimulai dari langkah kecil di rumah—hari ini.

Helmy zulkarnain S.I.kom Wartawan / redaktur Suara3News Helmy Zulkarnain adalah wartawan Suara3News yang aktif menulis berita nasional, gaya hidup sosial budaya dan teknologi. Ia juga terlibat dalam peliputan berbagai peristiwa publik Bidang liputan: Pemerintahan & Hukum, Nasional, Sosial Budaya wilayah liputan: Malang Raya, Nasional