Bung Karno Tentang Imperialisme-Kolonialisme dan Tawarkan Pancasila Sebagai Ideologi Dunia Pada Tanggal 30 September 1960
SUARA3NEWS, Kota Malang - Pada tanggal 30 September tahun 1960 Indonesia pernah mendapatkan atensi dari public Internasional. Hal tersebut terjadi pada saat Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno mendapatkan kesempatan untuk berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang di helat di New York, Amerika Serikat 64 tahun silam.
Dilansir dari Sumber-sumber Arsip (Guide Arsip) Pidato Presiden Soekarno Di Sidang Umum PBB Ke-15 New York, 30 September 1960 yang diterbitkan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (RI), pria yang akrab disapa Bung Karno tersebut menyampaikan pidato monumental yang berjudul “To Build The World New” atau yang dalam bahasa Indonesia berarti membangun dunia kembali.
Pidato terebut merupakan sebuah bentuk gugatan sang bung besar atas terjadinya praktik kolonialisme dan imperialisme yang masih terjadi khususnya di wilayah negara kawasan Asia dan Afrika.
“Let as face the fact that this organization, and it’s present methods and by it’s present forms is a product of the western state system. Pardon me, but I cannot regard the system with refrence, I cannot even regard it with very much affection altough I do respect it greatly. Imperialism and kolonialism were offspring of that western state system. And in common with the vast majority of this organization, i hate imprealism, I detest kolonialism,” sepenggal kutipan pidato Bung Karno terhadap praktik imperialisme dan kolonialisme.
Dan salah satu tawaran Bung Karno yang mendapatkan atensi dari para delegasi Sidang Umum PBB adalah ide agar Pancasila dapat dijadikan ideologi alternatif di dunia.
Pada momen tersebut pula Bung Karno memperkenalkan Ideologi Pancasila kepada public internasional dengan menjabarkan sila-sila yang terkandung di dalam Pancasila.
“We calld they it something Pancasila, Pancasila are the five pillars of our state. First belive in god, second nationalism, third internationalism, fourth democracy, finnaly the last sila the end of these pillars is social justice,” kutipan pidato Bung Karno saat memperkenalkan Pancasila kepada para delegasi Sidang Umum PBB Ke-15.
Sebagai informasi yang dikutip dari salah satu berita di mpr.go.id (laman publikasi Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia) pada berita yang tertanggal 26 Mei 2023, pidato Bung Karno tersebut telah di tetapkan sebagai Memory of The World (MoW) oleh United Nations of Educational, Scientfic, and Cultural Organization (UNESCO) pada saat sidang pleno executive board UNESCO pada tanggal 10-24 Mei 2024 lalu.
Dalam pemberitaan tersebut Wakil Ketua MPR RI, Dr. Ahmad Basarah juga mengucapkan terima kasih atas penetapan tersebut. Pihaknya juga berpendapat bahwa melalui pidato tersebut Bung Karno berusaha menyampaikan alasan pentingnya setiap negara untuk mengadopsi ideologi Pancasila ini.
“Hal ini sudah semestinya, sebab pidato Bung Karno yang berjudul To Build the World A New (Membangun Dunia Kembali) yang disampaikan di PBB pada 30 September 1960 memang merupakan memori dunia,” terang Ahmad Basarah.
“Bung Karno membuktikan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak hanya bersifat nasional dan ke-Indonesiaan, tetapi universal dan internasional. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah nilai universal, kemanusiaan universal, nasionalisme universal, demokrasi universal dan keadilan sosial universal. Khusus nasionalisme, Bung Karno menjelaskan bahwa nilai ini universal, sebab nasionalisme dianut oleh semua negara modern,” ujar Ahmad Basarah.

