Inflasi Malang Terasa di Dapur Warga

Feb 2, 2026 - 17:38
 0
Inflasi Malang Terasa di Dapur Warga
Ilustrasi bahan bahan pokok di pasar tradisonal, Kenaikan harga bahan pangan harian menjadi salah satu pemicu inflasi yang mulai menekan daya beli rumah tangga warga.(unsplash)

SUARA3NEWS - Angka inflasi Kota Malang memang masih terlihat “aman” di atas kertas. Namun di dapur warga, ceritanya berbeda. Kenaikan harga bahan pokok, terutama cabai rawit dan komoditas pangan harian, mulai benar-benar terasa dan menekan daya beli rumah tangga sejak awal 2026.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/YoY) Kota Malang mencapai sekitar 2,8 persen. Angka ini masih berada dalam rentang sasaran nasional. Tetapi jika dilihat lebih rinci, lonjakan harga terjadi tidak merata dan justru menghantam kebutuhan paling dekat dengan warga: makanan sehari-hari.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar. Komoditas cabai rawit mencatat kenaikan harga paling tajam, disusul beras kualitas tertentu, bawang merah, serta sejumlah kebutuhan dapur lain yang dikonsumsi hampir setiap hari.

“Kalau dilihat persentase inflasi memang tidak besar, tapi dampaknya ke rumah tangga sangat terasa. Cabai naik sedikit saja langsung memukul belanja harian,” ujar Siti Aminah, ibu rumah tangga di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, saat ditemui, Rabu (29/1/2026).

Inflasi Rendah, Tapi Tekanan Nyata

Secara statistik, inflasi Kota Malang tergolong terkendali. Namun para ekonom menilai inflasi pangan memiliki efek psikologis dan ekonomi yang lebih besar dibanding komoditas lain karena langsung menyentuh kebutuhan dasar.

Kenaikan harga cabai rawit sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026 tercatat mencapai puluhan persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi cuaca, distribusi yang terganggu, serta ketergantungan pasokan dari luar daerah menjadi faktor utama.

Selain pangan, tekanan juga datang dari kelompok transportasi dan energi. Penyesuaian harga BBM non-subsidi dan ongkos distribusi turut mendorong biaya logistik, yang pada akhirnya dibebankan ke harga jual di pasar.

“Inflasi di Malang saat ini bukan soal angka besar atau kecil, tetapi soal siapa yang paling terdampak. Kelompok berpendapatan rendah paling rentan,” kata seorang pengamat ekonomi daerah di Malang.

Siapa Paling Terkena Dampaknya?

Tekanan inflasi paling terasa pada:

  • Rumah tangga berpendapatan rendah
  • Pekerja sektor informal
  • Buruh harian dan pedagang kecil
  • Ibu rumah tangga sebagai pengelola belanja harian

Bagi kelompok ini, kenaikan harga pangan tidak bisa diimbangi dengan kenaikan pendapatan. Akibatnya, terjadi penyesuaian pola konsumsi: mengurangi lauk, menekan porsi belanja, hingga menunda kebutuhan lain.

Di sisi lain, kelompok menengah ke atas relatif lebih tahan terhadap gejolak harga, sehingga dampak inflasi menjadi tidak merata.

Tantangan Pemerintah Daerah

Pemerintah Kota Malang sejauh ini mengandalkan operasi pasar, pemantauan harga, serta koordinasi dengan Bulog dan distributor untuk menjaga stabilitas pasokan. Namun tantangan inflasi pangan bersifat struktural dan berulang setiap tahun.

Ketergantungan pasokan dari luar daerah, minimnya cadangan pangan lokal, serta rantai distribusi yang panjang membuat harga mudah bergejolak saat terjadi gangguan cuaca atau permintaan tinggi.

Tanpa penguatan produksi dan distribusi pangan lokal, tekanan inflasi serupa diperkirakan akan kembali muncul, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran.

Apa Artinya bagi Warga Malang Raya?

Inflasi bukan sekadar angka di laporan statistik. Bagi warga Malang Raya, inflasi berarti:

  • Belanja dapur makin mahal
  • Pendapatan terasa “menyusut”
  • Daya beli melemah meski gaji tetap
  • Tekanan ekonomi rumah tangga meningkat

Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat, inflasi pangan berpotensi memperlebar kesenjangan dan meningkatkan kerentanan sosial di perkotaan.

Stabilitas inflasi Kota Malang patut diapresiasi, namun realitas di lapangan menunjukkan tekanan nyata pada kehidupan sehari-hari warga. Menjaga inflasi tetap rendah tidak cukup; yang lebih penting adalah memastikan harga kebutuhan pokok benar-benar terjangkau dan pasokan stabil.

Bagi warga, kewaspadaan terhadap pengelolaan keuangan rumah tangga menjadi kunci. Bagi pemerintah, penguatan ketahanan pangan lokal bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.(hz)

Helmy zulkarnain S.I.kom Wartawan / redaktur Suara3News Helmy Zulkarnain adalah wartawan Suara3News yang aktif menulis berita nasional, gaya hidup sosial budaya dan teknologi. Ia juga terlibat dalam peliputan berbagai peristiwa publik Bidang liputan: Pemerintahan & Hukum, Nasional, Sosial Budaya wilayah liputan: Malang Raya, Nasional