Kuliah Tinggi, Kerja Sulit: Ini Data Lulusan di Malang Raya

Feb 2, 2026 - 17:48
 0
Kuliah Tinggi, Kerja Sulit: Ini Data Lulusan di Malang Raya
Para Pencari kerja mengantre memasuki area job fair di Kota Malang. Data terbaru menunjukkan lulusan terdidik di Malang Raya masih menghadapi kesenjangan antara kompetensi dan kebutuhan industri.(suara3news)

SUARA3NEWS - Kuliah tinggi tak lagi otomatis berujung pada pekerjaan. Di Malang Raya—wilayah yang dikenal sebagai kota pendidikan banyak lulusan perguruan tinggi dan sekolah kejuruan justru menghadapi kenyataan pahit: ijazah ada di tangan, tetapi pintu kerja tak mudah terbuka.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, lulusan SMK dan perguruan tinggi menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi di Jawa Timur. Angkanya melampaui lulusan pendidikan dasar, menandakan adanya persoalan serius dalam penyerapan tenaga kerja terdidik. Fenomena ini kian terasa di Malang Raya, daerah yang setiap tahun melahirkan ribuan lulusan baru, sementara peluang kerja formal tumbuh jauh lebih lambat.

Lulusan Lebih Tinggi Malah Lebih Rentan Menganggur

BPS mencatat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Timur pada Februari 2025 sebesar 3,61 persen, turun ringan dari tahun sebelumnya tetapi masih menunjukkan persoalan struktural dalam penyerapan tenaga kerja.

Lebih mencolok lagi, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan lulusan perguruan tinggi memiliki angka TPT tertinggi dibanding lulusan pendidikan lebih rendah:

  • TPT lulusan SMK sekitar 5,87%
  • TPT lulusan universitas sekitar 5,60%

Ini jauh lebih tinggi dibanding kategori pendidikan dasar atau lebih rendah yang mencatat TPT di bawah 2%.

Artinya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, justru semakin besar kemungkinan mereka belum terserap pasar kerja. Kondisi ini merupakan salah satu gambaran klasik skill mismatch — yaitu ketidaksesuaian antara kompetensi yang dimiliki lulusan dengan kebutuhan industri.

Di tingkat rumah tangga, lulusan terdidik yang gagal masuk sektor formal kerap terdorong ke pekerjaan informal dengan upah rendah dan tanpa kepastian. Banyak yang akhirnya bekerja di luar bidang keahlian, berpindah-pindah pekerjaan, atau bergantung pada pendapatan keluarga. Dalam jangka panjang, situasi ini menekan daya beli rumah tangga, menunda kemandirian ekonomi generasi muda, dan memperlebar jarak antara biaya pendidikan yang tinggi dengan hasil ekonomi yang diterima.

Fakta Ketimpangan di Lapangan

Bukan hanya di provinsi secara umum, data lokal juga memperlihatkan fenomena serupa. Sebuah laporan BPS menunjukkan tingkat pengangguran di Kota Malang relatif lebih tinggi dibanding angka provinsi secara keseluruhan, mencapai sekitar 5,69 persen. Situasi ini diperparah oleh arus masuk lulusan baru dari universitas dan sekolah vokasi di kota pendidikan ini setiap tahunnya — sedangkan kapasitas penyerapan kerja belum bertambah signifikan.

Di Kabupaten Malang, lulusan SMK bahkan memiliki angka pengangguran yang lebih tinggi lagi, mencapai sekitar 8,42%, sedangkan lulusan SMA sekitar 7,12% pada Agustus 2024 berdasarkan statistik ketenagakerjaan terbaru.

Apa Penyebab Utama Skill Mismatch?

Fenomena skill mismatch muncul karena beberapa faktor yang saling berkaitan:

1. Kurikulum Pendidikan Belum Sinkron dengan Kebutuhan Industri

Banyak lulusan SMK dan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang tidak sesuai kebutuhan nyata perusahaan. Sebagai contoh, lulusan teknik mesin yang hanya memahami teori tetapi minim pengalaman praktis lapangan akan kesulitan bersaing ketika perusahaan menginginkan kompetensi teknis siap pakai.

2. Pertumbuhan Lapangan Kerja Formal Lambat

Meskipun jumlah angkatan kerja tumbuh, sektor yang menyerap tenaga kerja formal masih terbatas. Banyak lulusan akhirnya terseret ke sektor informal atau usaha kecil yang meskipun produktif tidak memberikan kepastian jaminan pekerjaan formal.

3. Kurangnya Pemetaan Keterampilan Terhadap Rantai Nilai Industri

Industri di Malang Raya — seperti manufaktur, pariwisata, logistik, dan jasa kreatif — berkembang tetapi tidak selalu secara linier dengan lulusan lokal yang memiliki keterampilan tepat. Kesenjangan ini makin memperlebar jurang antara kemampuan yang ada dan kebutuhan pasar.

Para pengamat ketenagakerjaan mencatat ketidaksiapan lulusan dalam keterampilan praktis menjadi salah satu penyebab kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan industri.

Dampak Nyata ke Warga Malang Raya

Dampak dari skill mismatch ini tidak hanya soal angka statistik. Berikut beberapa implikasi kehidupan nyata warga:

  • Pengangguran Terdidik: Lulusan baru yang sulit mendapatkan kerja merasa terjebak antara pendidikan formal dan realitas kerja.
  • Penurunan Produktivitas Individu: Kualitas hidup lulusan yang tidak bekerja atau bekerja di sektor tidak sesuai keahlian bisa menurun.
  • Tekanan Ekonomi Keluarga: Banyak keluarga menanggung biaya pendidikan tinggi tetapi belum mendapat imbal hasil optimal di dunia kerja.
  • Pemborosan Sumber Daya Pendidikan: Energi, waktu, dan biaya yang dihabiskan untuk pendidikan tidak tertukar secara efisien menjadi tenaga kerja produktif yang dicari industri.

Solusi yang Sudah dan Sedang Dijalankan

Pemerintah daerah bersama dinas ketenagakerjaan dan pendidikan telah mulai menggencarkan beberapa strategi, antara lain:

  • Job Fair dan Kolaborasi dengan Industri
    Menyelenggarakan job fair yang lebih intensif untuk mempertemukan lulusan dan pelaku industri lokal.
  • Program Keterampilan Kerja Tambahan
    Pelatihan keterampilan spesifik yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha.
  • Penguatan Link and Match
    Mendorong kampus, SMK, dan universitas menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan dunia usaha (link and match), bukan hanya teori saja.

Namun tantangan masih besar karena skill mismatch bersifat multifaset dan memerlukan sinergi yang kontinu antara pendidikan, pemerintah, dan dunia bisnis.

Malang Raya punya modal besar sebagai pusat pendidikan, tetapi belum sepenuhnya berhasil mengubah modal pendidikan itu menjadi peluang kerja nyata bagi lulusan. Skill mismatch bukan sekadar angka statistik — ia berdampak langsung pada kehidupan masyarakat yang berharap pendidikan tinggi dapat membuka pintu kesempatan kerja yang layak.

Jika tidak diatasi dengan kecepatan dan ketepatan kebijakan yang tepat, fenomena ini berpotensi berulang dan meningkatkan ketimpangan ekonomi di wilayah pendidikan terbesar di Jawa Timur.(hz)

Helmy zulkarnain S.I.kom Wartawan / redaktur Suara3News Helmy Zulkarnain adalah wartawan Suara3News yang aktif menulis berita nasional, gaya hidup sosial budaya dan teknologi. Ia juga terlibat dalam peliputan berbagai peristiwa publik Bidang liputan: Pemerintahan & Hukum, Nasional, Sosial Budaya wilayah liputan: Malang Raya, Nasional