Intip Teknologi AI Satelit NASA yang Menangkap Objek Tanpa Perintah Manusia
SUARA3NEWS - Satelit yang mampu memilih sendiri apa yang harus dipotret kini menjadi bagian dari uji coba terbaru NASA. Teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) ini dirancang agar satelit dapat menentukan target pengamatan tanpa harus menunggu instruksi manusia dari Bumi. Sistem tersebut diberi nama Dynamic Targeting.
Menurut penjelasan resmi NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL), teknologi ini sedang diuji pada satelit kecil jenis CubeSat. Sistem AI ditempatkan langsung di dalam perangkat satelit untuk membantu menilai kondisi di jalur orbit, lalu menentukan apakah satelit perlu mengambil gambar pada lokasi tertentu atau menunggu kesempatan yang lebih tepat.
Cara Kerja Dynamic Targeting
Berdasarkan informasi yang dirilis NASA, sistem AI ini mampu melakukan analisis awal hanya dalam waktu sekitar 90 detik. AI mengecek kondisi cuaca, terutama potensi gangguan seperti awan tebal, dan mengukur tingkat kejernihan area yang hendak dipotret. Jika dinilai tidak optimal, satelit akan menunda pengambilan gambar dan mengalihkan fokus ke area lain yang lebih jelas.
NASA menyebutkan bahwa pendekatan ini dirancang untuk membuat proses pengambilan citra lebih efisien karena hanya gambar yang dapat digunakan yang akan dikirim kembali ke pusat kontrol di Bumi.
Tujuan Pengembangan Teknologi
NASA menjelaskan bahwa pengujian ini bertujuan meningkatkan kualitas pemantauan Bumi, terutama dalam situasi yang berubah cepat seperti:
-
Fenomena cuaca ekstrem,
-
Kebakaran hutan,
-
Pergerakan asap, debu, atau awan,
-
Perubahan permukaan laut,
-
Hingga aktivitas gunung berapi.
Dengan kemampuan memilih target pengamatan secara otomatis, satelit dapat mengirimkan gambar yang lebih relevan dan lebih akurat untuk analisis lanjutan.
Foto Ilustrasi
Potensi Penerapan dalam Pemantauan Bencana
Menurut NASA, teknologi seperti ini dapat mempercepat akses data visual yang dibutuhkan untuk analisis bencana. Satelit dapat langsung menangkap perubahan yang terjadi tanpa menunggu instruksi manual, sehingga waktu respons bisa menjadi lebih cepat.
Indonesia merupakan salah satu negara yang secara geografis memiliki tingkat aktivitas geologi dan meteorologi yang tinggi. Data citra yang diperoleh lebih cepat dari satelit berpotensi mendukung pemantauan:
-
Aktivitas gunung berapi,
-
Banjir,
-
Longsor,
-
Kebakaran hutan,
-
dan cuaca ekstrem.
Tahap Pengujian dan Tantangannya
NASA menjelaskan bahwa sistem ini masih dalam tahap demonstrasi dan belum digunakan secara penuh dalam satelit-satelit pengamatan Bumi lainnya. Selama tahap pengujian, sejumlah tantangan teknis harus diamati, antara lain:
-
Akurasi deteksi objek,
-
Kemampuan AI bekerja di lingkungan ruang angkasa,
-
Stabilitas sistem saat menghadapi perubahan cahaya dan gangguan atmosfer,
-
Serta kebutuhan energi yang digunakan oleh modul AI onboard.
NASA menekankan bahwa pengujian dilakukan untuk memastikan sistem ini tetap aman dan dapat diandalkan sebelum diterapkan dalam misi pengamatan yang lebih besar.
Arah Pengembangan Berikutnya
Berdasarkan keterangan NASA Earth Science, tujuan jangka panjang dari pengembangan teknologi AI onboard adalah meningkatkan kemampuan satelit untuk memantau Bumi secara mandiri, mengurangi beban komunikasi dengan pusat kendali, serta menjaga kualitas data yang dikirim tetap tinggi.
NASA juga menyebutkan bahwa keberhasilan uji coba ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan sistem pemantauan baru yang lebih cepat, efisien, dan responsif terhadap perubahan di permukaan Bumi.

