Apa itu Brain Rot, Mengapa Paparan Konten Ringan Bisa Bikin Otak Rusak?
SUARA3NEWS - Fenomena brain rot atau “pembusukan otak digital” menjadi istilah yang semakin sering dibahas di era media sosial. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang mengalami penurunan fokus, kejenuhan mental, dan melemahnya kemampuan berpikir akibat terlalu sering mengonsumsi konten ringan, cepat, dan dangkal—seperti video pendek, meme absurd, dan hiburan instan lainnya.
Oxford University Press bahkan menetapkan “brain rot” sebagai Oxford Word of the Year 2024, menandakan besarnya pengaruh fenomena ini pada kehidupan masyarakat global.
Meskipun bukan istilah medis resmi, para dokter, psikolog, dan akademisi Indonesia mengakui bahwa efek yang ditimbulkan brain rot nyata dan semakin terlihat pada anak, remaja, hingga dewasa.
Prof. Dr. Sri Lestari, Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjelaskan bahwa brain rot menyerang area lobus prefrontal, bagian otak yang mengatur pengambilan keputusan dan berpikir kritis:
“Brain rot adalah sinyal bahwa kendali diri dan literasi digital rendah. Bagian otak yang mengatur nalar melemah, sehingga seseorang mudah terpengaruh konten dangkal atau bahkan hoaks.”
sementara dalam rilis resmi IPB University, Dr. Melly Latifah seorang Pakar Perkembangan Anak memperingatkan bahwa brain rot berdampak serius pada anak dan remaja:
“Konten absurd, terutama yang dihasilkan AI, bisa mengacaukan pemahaman realitas anak. Jika dikonsumsi berlebihan, dapat terjadi overload kognitif dan kelelahan mental.”
Menurut laporan terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024, sekitar 79,5 persen masyarakat Indonesia kini sudah terhubung ke internet. Tingginya akses digital ini sejalan dengan temuan Digital 2025 dari DataReportal, yang mencatat bahwa pada Januari 2025 terdapat sekitar 143 juta akun media sosial aktif di Indonesia.
Masifnya penggunaan media sosial juga terlihat dari durasinya. Masih berdasarkan laporan Digital 2025, pengguna di Indonesia menghabiskan rata-rata hampir tiga jam setiap hari untuk menjelajahi berbagai platform digital.
Situasi ini turut bersinggungan dengan kondisi kesehatan mental remaja. Survei I-NAMHS pada 2022 menemukan bahwa sekitar satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Temuan tersebut berasal dari survei nasional yang melibatkan sejumlah lembaga akademik termasuk Universitas Gadjah Mada.
Manfaat Menyadari Brain Rot dan Cara Mencegahnya
Walau istilah “brain rot” terdengar negatif, memahami fenomena ini justru memberikan sejumlah manfaat penting bagi pengguna internet.
Manfaat Menyadari Brain Rot :
-
Meningkatkan Literasi Digital Dengan mengetahui bahwa konten ringan dapat memengaruhi cara otak bekerja, seseorang cenderung lebih selektif dalam memilih jenis konten yang dikonsumsi setiap hari.
-
Mendorong Kebiasaan Screen Time yang Lebih Sehat Kesadaran terhadap risiko brain rot membantu orang lebih bijak mengatur waktu layar—misalnya dengan membatasi penggunaan harian atau melakukan digital detox.
-
Melatih Kemampuan Kognitif Saat memahami bahwa konten serba instan bisa melemahkan kemampuan berpikir mendalam, banyak orang menjadi lebih terdorong untuk melakukan aktivitas yang menstimulasi otak: membaca, berdiskusi, belajar hal baru, dan latihan berpikir kritis.
-
Menjaga Kesehatan Mental Karena brain rot berkaitan dengan kejenuhan dan tekanan mental, memperhatikan pola konsumsi konten dapat menurunkan stres serta menjaga stabilitas emosi.
-
Meningkatkan Produktivitas Otak yang lebih segar dan terlatih membuat seseorang lebih mudah fokus pada pekerjaan penting, tidak hanya terjebak dalam kebiasaan scrolling tanpa tujuan.
Cara Mencegah & Mengurangi Brain Rot :
-
Kurasi Konten — Pilih konten yang lebih mendidik dan bermakna, kurangi konsumsi konten hiburan instan yang membuat otak pasif.
-
Waktu Tanpa Layar — Sediakan 1–2 jam setiap hari untuk benar-benar lepas dari gadget agar otak dapat beristirahat sejenak.
-
Gunakan Teknik Pomodoro — Lakukan pola fokus 25 menit dan istirahat 5 menit agar tidak mudah terdistraksi media sosial.
-
Aktivitas Offline Bermakna — Lakukan kegiatan seperti membaca, olahraga, meditasi, atau hobi kreatif yang merangsang konsentrasi dan kerja otak.
-
Evaluasi Kebiasaan Digital — Periksa seberapa sering melakukan scrolling tanpa tujuan dan dampaknya terhadap mood, fokus, serta produktivitas harian.

