Darurat Semeru: Erupsi Kuat 19 November 2025, Status Resmi Naik ke Level IV Awas

Nov 21, 2025 - 11:46
 0
Darurat Semeru: Erupsi Kuat 19 November 2025, Status Resmi Naik ke Level IV Awas

SUARA3NEWS, Lumajang — Gunung Semeru kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan pada Rabu, 19 November 2025. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) resmi menaikkan status gunung menjadi Level IV (Awas) sejak pukul 17.00 WIB, menyusul serangkaian letusan dan terjadinya awan panas yang intens. 

PVMBG mencatat letusan pertama terjadi sekitar pukul 14.13 WIB. Aktivitas berupa awan panas berulang disertai peningkatan kegempaan — termasuk gempa letusan, gempa guguran, dan gelombang harmonik — yan mengindikasikan suplai magma sedang naik ke permukaan.

Kolom abu teramati mencapai sekitar 2.000 meter di atas puncak (sekitar 5.676 meter di atas permukaan laut). Abu berwarna kelabu pekat bergerak menuju arah utara dan barat-laut.

Amplitudo maksimum tercatat mencapai 37 mm, yang menunjukkan intensitas gempa cukup besar. Pengamatan visual terganggu oleh kabut tebal, sehingga pengukuran jarak luncur awan panas menjadi sulit dilakukan langsung. 

Dampak & Tindakan Resmi 

  • PVMBG melarang aktivitas dalam radius 8 km dari kawah karena risiko lontaran batu pijar.
  •  Untuk sektor tenggara di sepanjang aliran Besuk Kobokan, zona bahaya diperluas hingga 20 km dari puncak.
  • Warga diminta menjauhi sempadan Besuk Kobokan karena potensi awan panas dan lahar yang dapat menyebar ke area tersebut.
  • PVMBG juga menganjurkan penggunaan masker atau pelindung pernapasan bagi mereka yang terpapar abu vulkanik untuk mencegah gangguan pernapasan.

Risiko Tambahan dan Ancaman Lanjutan

  •  Lahar hujan: Potensi lahar sangat tinggi terutama jika terjadi hujan deras; aliran lahar kemungkinan mengikuti alur sungai seperti Besuk Kobokan.
  • Awan panas & guguran lava: Karena suplai magma masih aktif, awan panas dan lontaran batu pijar berpeluang terjadi kembali.
  • Paparan abu: Endapan abu dapat menyebabkan masalah pernapasan, iritasi mata, serta menekan infrastruktur seperti atap dan saluran air.
  • Dampak penerbangan: Kolom abu setinggi 2.000 meter berpotensi mengganggu operasional penerbangan lokal; otoritas penerbangan perlu memantau terus.

Kenaikan kegempaan menunjukkan suplai magma yang sedang aktif, membuat gunung berpotensi meletus susulan.

Risiko utama meliputi lahar, guguran batu pijar, paparan gas/abu, dan gangguan infrastruktur.

Mitigasi yang disarankan antara lain memperketat peringatan dini dan pengamatan, memperbarui peta zona bahaya, kampanye edukasi publik, penutupan jalur pendakian saat status naik, serta penyediaan fasilitas kesehatan darurat dan pemeriksaan kualitas air di wilayah terdampak.