Trotoar Jembatan Embong Brantas Ambrol, puluhan Rumah di Kampung Warna-Warni Malang Tertimbun Longsor
SUARA3NEWS - Trotoar sisi timur Jembatan Embong Brantas yang berada tepat di atas kawasan wisata Kampung Warna-Warni Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, ambrol pada Minggu malam (23/11). Runtuhan trotoar dan dinding penahan tanah jatuh langsung ke permukiman padat di bawah jembatan dan menyebabkan belasan rumah warga rusak tertimbun material longsor.
Ambrol Mendadak Setelah Hujan Lebat
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Malang selama beberapa hari terakhir diduga mempercepat erosi pada struktur penahan jembatan. Bagian trotoar yang roboh diperkirakan sepanjang 25 meter dengan lebar sekitar 1,5 meter. Material berupa beton, pagar pembatas, hingga tanah penahan runtuh dan menghantam atap, halaman, serta akses masuk rumah warga.
Data sementara mencatat sedikitnya 22 rumah terdampak. Beruntung tidak ada korban jiwa, namun warga sempat panik saat mendengar suara ambruk yang terjadi tiba-tiba di tengah intensitas hujan tinggi.
Pengakuan Warga: Material Jatuh Menembus Atap
Salah satu warga, Dasuki (60), mengaku terkejut ketika mendengar suara keras dari arah tebing jembatan. Tak lama kemudian, material runtuhan menimpa bagian atap rumahnya.
“Tiba-tiba langsung ada suara kayak gemuruh. Pas dicek, material sudah masuk ke atap rumah. Untung keluarga selamat,” ujarnya.
BPBD Kota Malang bersama petugas kebersihan dikerahkan ke lokasi untuk melakukan pembersihan awal dan meminimalkan potensi longsor susulan.
Kepala DPUPRPKP Kota Malang, Dandung Djulharjanto, memastikan pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) untuk memastikan kondisi struktur jembatan.
“Kami sudah koordinasi dengan BBPJN dan tim balai sudah berada di lapangan untuk pemeriksaan struktur,” kata Dandung saat meninjau lokasi kejadian.
Dinas Perhubungan (Dishub) juga menerapkan pengaturan lalu lintas di sekitar jembatan, termasuk kemungkinan pengalihan rute bagi kendaraan berat demi keamanan.
Faktor Penyebab: Drainase Buruk dan Pelengsengan Tidak Merata
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyoroti persoalan teknis pada area sekitar jembatan, mulai dari drainase yang tidak optimal hingga pelengsengan (dinding penahan) yang tidak merata.
“Ada bagian yang tidak terstruktur dengan baik sehingga rentan mengalami erosi ketika hujan deras. Kami lakukan penanganan cepat untuk mencegah kerusakan meluas,” ujarnya.
Dampak Kerusakan
-
22 rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang
-
Material longsor menutup akses dan area halaman warga
-
Kekhawatiran warga akan potensi longsor lanjutan
-
Peluang gangguan akses menuju Stasiun Kota Baru jika perbaikan memerlukan rekayasa lalu lintas
Untuk tahap awal, pemerintah kota melakukan:
pembersihan material runtuhan, pemasangan pembatas area berbahaya, pemeriksaan teknis oleh DPUPRPKP dan BBPJN
Perbaikan darurat diperkirakan berlangsung sekitar dua minggu, sambil menunggu rekomendasi teknis BBPJN untuk penanganan permanen mencakup penguatan struktur penahan dan perbaikan sistem drainase.

