Jelang Isra Mi’raj, Permintaan LPG 3 Kg di Malang Raya Naik

Jan 15, 2026 - 10:57
 0
Jelang Isra Mi’raj, Permintaan LPG 3 Kg di Malang Raya Naik
Ilustrasi LPG 3 kg. Menjelang Isra Mi’raj, kebutuhan LPG bersubsidi di Malang Raya mengalami peningkatan di tingkat rumah tangga.(suara3news)

SUARA3NEWS -  Menjelang peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, suasana di sejumlah permukiman padat penduduk di Malang Raya mulai menunjukkan perubahan. Bukan soal acara keagamaan atau persiapan pengajian, melainkan kekhawatiran warga terhadap ketersediaan LPG 3 kilogram, tabung gas yang selama ini menjadi sandaran utama dapur rumah tangga kecil.

Sejak beberapa hari terakhir, warga di Kota Malang, Kabupaten Malang, hingga Kota Batu mengaku lebih cepat kehabisan stok gas melon dibanding hari biasa. Kondisi ini membuat sebagian warga memilih menyimpan cadangan lebih awal, terutama untuk mengantisipasi kebutuhan memasak saat peringatan Isra Mi’raj.

“Biasanya satu tabung cukup sampai akhir pekan, sekarang baru tiga atau empat hari sudah habis,” ujar Siti, warga kawasan Lowokwaru, Kota Malang, saat ditemui Selasa (14/1/2026). Ia mengaku khawatir harus berkeliling mencari pangkalan jika kehabisan gas mendadak.

Bukan Kelangkaan, tapi Pola Konsumsi Berubah

Berbeda dengan isu kelangkaan yang kerap muncul, peningkatan kebutuhan LPG 3 Kg kali ini lebih dipicu oleh pola konsumsi masyarakat. Aktivitas memasak meningkat karena persiapan hajatan kecil, konsumsi keluarga, hingga kegiatan sosial dan keagamaan menjelang Isra Mi’raj.

Pangkalan LPG di wilayah Kabupaten Malang mengakui adanya lonjakan permintaan, meski pasokan dinilai masih dalam batas aman. Namun, situasi ini menuntut pengelolaan distribusi yang lebih rapi, agar tidak terjadi penumpukan pembelian di satu titik.

“Kalau warga belinya bersamaan, stok langsung terasa menipis. Padahal pengiriman tetap sesuai jadwal,” ujar salah satu pengelola pangkalan LPG di wilayah Kepanjen.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa masalah LPG bukan semata soal pasokan, melainkan juga perilaku belanja masyarakat yang berubah ketika mendekati momen keagamaan.

Warga Kecil Paling Rentan Terdampak

Bagi keluarga berpenghasilan rendah, LPG 3 Kg bukan sekadar kebutuhan, tetapi bagian dari kestabilan ekonomi harian. Ketika stok sulit didapat, warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli di pengecer dengan harga lebih tinggi atau mencari alternatif lain.

“Kalau beli di eceran, harganya bisa beda jauh. Itu yang memberatkan,” kata Agus, buruh harian di Kecamatan Pakis.

Kondisi inilah yang membuat isu LPG selalu sensitif di tingkat akar rumput. Sedikit saja gangguan distribusi, dampaknya langsung dirasakan dapur warga.

Peran Pangkalan dan Kesadaran Bersama

Pemerintah daerah dan pihak terkait sebenarnya telah berulang kali mengingatkan agar pembelian LPG dilakukan sesuai kebutuhan, bukan untuk ditimbun. Di sisi lain, pangkalan juga diminta lebih transparan dan disiplin dalam menyalurkan LPG sesuai aturan.

Pengamat kebijakan publik di Malang Raya menilai, momen seperti Isra Mi’raj seharusnya menjadi alarm dini, bukan kepanikan.

“Selama distribusi berjalan normal, yang dibutuhkan adalah komunikasi ke warga. Jangan sampai isu kecil berkembang jadi keresahan,” ujarnya.

Ujian Kesiapan Distribusi di Malang Raya

Lonjakan kebutuhan LPG jelang Isra Mi’raj menjadi uji kesiapan sistem distribusi energi bersubsidi di Malang Raya. Bukan hanya soal jumlah tabung, tetapi bagaimana semua pihak, pemerintah, distributor, pangkalan, dan warga, berperan menjaga keseimbangan.

Bagi warga, ketersediaan LPG 3 Kg menjelang hari besar keagamaan bukan sekadar persoalan logistik, tetapi menyangkut rasa aman di rumah sendiri.(hz)