Krisis Emosi di Era Digital: Mengapa Generasi Muda Kian Mudah Cemas dan Impulsif

Jan 3, 2026 - 14:57
 0
Krisis Emosi di Era Digital: Mengapa Generasi Muda Kian Mudah Cemas dan Impulsif
ilustrasi Seseorang terlihat lesu dalam suasana reflektif, menggambarkan kelelahan mental yang menjadi perhatian dalam isu kesehatan psikologis.(foto/unsplash)

SUARA3NEWS - Tekanan hidup di era digital tidak lagi sekadar soal ekonomi atau persaingan kerja. Dalam beberapa tahun terakhir, para ahli psikologi menyoroti satu persoalan yang kian mengemuka dan menyentuh banyak orang, khususnya generasi muda: krisis emosi yang dipicu oleh gaya hidup serba cepat, media sosial, dan tuntutan untuk selalu relevan.

Fenomena ini tidak muncul tiba-tiba. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa emosi memiliki peran besar dalam membentuk perilaku manusia modern, mulai dari cara mengambil keputusan, membelanjakan uang, hingga membangun relasi sosial di ruang digital.

Emosi dan Keputusan Sehari-hari

Penelitian psikologi perilaku menunjukkan bahwa emosi positif maupun negatif dapat mendorong seseorang bertindak secara impulsif. Salah satu contohnya terlihat dalam kebiasaan belanja online, di mana perasaan senang, takut tertinggal tren, atau ingin diakui sering kali mengalahkan pertimbangan rasional.

Studi yang meneliti perilaku dewasa awal menemukan bahwa kondisi emosional tertentu membuat seseorang lebih mudah melakukan pembelian tanpa perencanaan matang. Dalam konteks kehidupan digital, dorongan ini diperkuat oleh iklan personal, diskon kilat, dan arus informasi yang nyaris tanpa jeda.

FOMO, Kecemasan yang diam-diam Menguasai

Di balik keputusan impulsif tersebut, terdapat fenomena psikologis yang kini semakin dikenal luas, yakni Fear of Missing Out atau FOMO. Rasa takut tertinggal dari tren, pengalaman, atau pencapaian orang lain membuat banyak individu merasa harus selalu terhubung dan mengikuti arus.

FOMO bukan hanya soal gaya hidup, tetapi juga mencerminkan kebutuhan psikologis akan penerimaan sosial. Di media sosial, perbandingan yang terus-menerus dengan kehidupan orang lain dapat memicu kecemasan, rasa tidak cukup, hingga tekanan emosional yang berkelanjutan.

Para ahli menyebut, FOMO memperkuat respons emosional seseorang sehingga keputusan yang diambil sering kali bersifat reaktif, bukan reflektif.

Emosi, Ingatan, dan Relasi Sosial

Psikologi modern memandang emosi dan cara berpikir sebagai dua hal yang saling terkait. Emosi memengaruhi bagaimana seseorang memproses informasi, mengingat pengalaman, dan merespons situasi sosial.

Penelitian menunjukkan bahwa seseorang cenderung lebih mudah mengingat peristiwa ketika kondisi emosional saat mengingat selaras dengan emosi saat peristiwa itu terjadi. Tak heran jika pengalaman emosional yang kuat, baik positif maupun negatif, melekat lebih lama dalam ingatan.

Selain itu, sebagian besar pengalaman emosional penting cenderung dibagikan kepada orang lain. Fenomena ini memperlihatkan bahwa emosi tidak bersifat pribadi semata, tetapi juga membentuk interaksi dan dinamika sosial, terutama di ruang digital.

Kesehatan Mental Anak Muda Jadi Sorotan

Meningkatnya tekanan emosional turut berdampak pada kesehatan mental generasi muda. Data dan laporan global menunjukkan lonjakan kasus kecemasan, depresi, serta gangguan emosional di kalangan remaja dan dewasa muda.

Tekanan untuk tampil sempurna, budaya perbandingan di media sosial, serta stigma terhadap isu kesehatan mental membuat banyak anak muda memilih memendam masalahnya sendiri. Kondisi ini memperkuat kesan bahwa krisis emosi bukan sekadar isu personal, melainkan persoalan sosial yang lebih luas.

Dampak Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari

Psikolog menilai bahwa emosi juga memengaruhi cara seseorang memandang uang, pekerjaan, dan masa depan. Uang, misalnya, tidak hanya dipahami sebagai alat tukar, tetapi juga simbol rasa aman, ketakutan, bahkan pengalaman emosional masa lalu.

Cara seseorang bereaksi terhadap tekanan finansial, kegagalan, atau pencapaian sering kali berakar pada kondisi emosional yang tidak disadari. Di era digital, tekanan ini terasa berlipat karena semua berlangsung di ruang publik yang bisa diakses siapa saja.

Mengapa Isu Emosi Menjadi Penting

Para pakar menekankan bahwa memahami peran emosi sangat penting dalam merancang kebijakan publik, pendidikan, hingga regulasi media sosial. Pendekatan yang hanya berfokus pada angka dan statistik dinilai tidak cukup tanpa memahami dimensi psikologis manusia.

Kesadaran akan pentingnya kesehatan emosional dinilai dapat membantu menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih terbuka membicarakan kondisi mental tanpa stigma.

Krisis emosi di era digital bukanlah fenomena sesaat atau sekadar tren viral. Ia mencerminkan perubahan besar dalam cara manusia hidup, berinteraksi, dan memaknai dirinya di tengah arus informasi yang terus mengalir.

Memahami emosi bukan berarti melemahkan rasionalitas, tetapi justru menjadi kunci untuk membangun keputusan yang lebih sadar, hubungan sosial yang lebih sehat, dan kehidupan digital yang lebih manusiawi.(hz)