Cuaca Tak Menentu di Awal Tahun, Petani Sayur Malang Mulai Mengeluh Hasil Panen Menurun
SUARA3NEWS - Awal tahun 2026 menjadi masa yang tidak mudah bagi petani sayur di Malang Raya. Cuaca yang sulit diprediksi, dengan pola hujan dan suhu yang berubah cepat, mulai berdampak langsung pada hasil panen. Di sejumlah wilayah dataran tinggi, petani mengeluhkan kualitas sayur menurun bahkan sebagian gagal panen.
Kondisi ini dirasakan petani di kawasan lereng dan dataran tinggi seperti Kecamatan Poncokusumo, Tumpang, Ngantang, hingga wilayah perbatasan Kota Batu. Daerah-daerah tersebut selama ini dikenal sebagai sentra sayuran seperti kubis, sawi, wortel, kentang, dan bawang daun yang sangat bergantung pada kestabilan cuaca.
“Biasanya Januari hujan masih bisa diprediksi, tapi sekarang kadang panas menyengat, besoknya hujan deras. Tanaman jadi stres,” ujar Sumarno, petani sayur di Poncokusumo, Kabupaten Malang. Ia mengaku sebagian tanamannya mengalami busuk akar, sementara daun sayuran lain tumbuh tidak sempurna.
Keluhan serupa disampaikan petani lain di wilayah Batu bagian barat. Menurut mereka, hujan lebat yang datang tiba-tiba membuat lahan terlalu lembap, memicu serangan jamur dan hama. Akibatnya, hasil panen tidak maksimal dan kualitas sayur turun sehingga harga jual ikut tertekan.
Dampak cuaca tak menentu ini juga mulai terasa di pasar-pasar tradisional Malang Raya. Beberapa pedagang menyebut pasokan sayur tertentu berkurang, sementara harga perlahan naik untuk komoditas yang kualitasnya masih layak jual.
“Harga sawi dan kubis naik tipis karena yang bagus makin sedikit. Banyak sayur dari petani kualitasnya turun, cepat layu,” kata Rini, pedagang sayur di Pasar Dinoyo, Kota Malang. Ia menyebut kondisi ini membuat pedagang dan pembeli sama-sama berada di posisi sulit.
Secara umum, cuaca ekstrem dengan pola hujan tidak teratur memang menjadi tantangan utama. Hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat, diselingi panas ekstrem, membuat petani kesulitan menentukan waktu tanam dan perawatan. Biaya produksi pun meningkat karena petani harus lebih sering mengganti bibit atau melakukan penyemprotan tambahan.
Petani berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah, khususnya melalui dinas pertanian. Bantuan berupa pendampingan teknis, informasi cuaca yang lebih akurat, hingga solusi adaptasi pertanian dinilai sangat dibutuhkan.
“Kalau bisa ada pendampingan soal pola tanam yang cocok dengan cuaca sekarang. Kami di lapangan sering cuma menebak,” ujar Sumarno. Ia juga berharap ada bantuan jika kondisi ini berlanjut dan benar-benar menekan pendapatan petani kecil.
Cuaca yang tak menentu di awal 2026 menjadi pengingat bahwa sektor pertanian, terutama petani kecil di Malang Raya, berada di garis depan menghadapi perubahan iklim. Ketidakpastian cuaca bukan sekadar persoalan alam, tetapi tantangan nyata bagi keberlanjutan ekonomi warga yang menggantungkan hidup dari hasil bumi. ( hz)

