Data BNPB: Waspada Banjir, Longsor, dan Gempa di Awal 2026

Jan 28, 2026 - 04:43
 0
Data BNPB: Waspada Banjir, Longsor, dan Gempa di Awal 2026
Peta risiko BNPB menunjukkan wilayah Indonesia yang rentan terhadap banjir dan tanah longsor pada awal 2026, dipengaruhi curah hujan tinggi dan kondisi lingkungan. Sumber: BNPB

SUARA3NEWS - Indonesia mengawali tahun 2026 dengan peringatan serius dari alam. Dalam hitungan hari sejak Januari dimulai, bencana alam kembali terjadi di berbagai wilayah. Banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem hingga ancaman gempa dan aktivitas gunung api muncul hampir bersamaan, memukul warga yang belum sepenuhnya pulih dari bencana akhir 2025.

Data resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga 5 Januari 2026, telah terjadi 16 kejadian bencana alam di Indonesia. Seluruh kejadian tersebut didominasi bencana hidrometeorologi, dengan banjir dan tanah longsor sebagai peristiwa paling sering terjadi dan berdampak langsung pada masyarakat.

BNPB: Awal 2026 Didominasi Bencana Hidrometeorologi

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa pola bencana di awal 2026 masih sejalan dengan tren tahunan di Indonesia.

“Berdasarkan data yang masuk hingga 5 Januari 2026, seluruh kejadian bencana yang tercatat merupakan bencana hidrometeorologi. Banjir masih mendominasi, disusul cuaca ekstrem dan tanah longsor,” kata Abdul Muhari, dalam keterangan resmi BNPB, 5 Januari 2026.

BNPB mencatat dampak sementara dari rangkaian bencana tersebut meliputi:

  • 4 orang meninggal dunia
  • 33.196 warga terdampak dan mengungsi
  • Kerusakan rumah dan fasilitas umum masih dalam tahap pendataan oleh BPBD daerah

Tanah Longsor Jadi Ancaman Nyata di Daerah Lereng

Salah satu bencana yang paling mengkhawatirkan adalah tanah longsor, terutama di wilayah perbukitan dan lereng pegunungan. Peta risiko dari GIS BNPB menunjukkan, daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Barat, hingga Sulawesi memiliki tingkat kerawanan longsor tinggi saat musim hujan.

Menurut BNPB, longsor umumnya dipicu oleh kombinasi hujan deras berkepanjangan dan kondisi tanah yang sudah jenuh air.

“Sebagian besar kejadian longsor dipicu hujan intensitas tinggi dalam durasi lama, ditambah kondisi lereng curam dan minim vegetasi penahan,” ujar Abdul Muhari, menjelaskan analisis BNPB berbasis peta risiko, Januari 2026.

Banjir Masih Jadi Bencana Paling Sering Terjadi

Selain longsor, banjir tetap menjadi bencana paling rutin melanda Indonesia. Dari 16 kejadian awal Januari 2026, 13 di antaranya adalah banjir yang terjadi di wilayah permukiman padat, daerah aliran sungai, hingga kawasan perkotaan.

BNPB menilai, persoalan banjir tidak hanya disebabkan hujan ekstrem, tetapi juga tata ruang dan lingkungan.

“Banjir yang terjadi berulang menunjukkan masih lemahnya pengelolaan lingkungan dan drainase di sejumlah daerah. Ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah,” tegas Abdul Muhari, 5 Januari 2026.

Gempa dan Gunung Api: Ancaman yang Tak Boleh Diabaikan

Meski awal 2026 didominasi bencana hidrometeorologi, BNPB mengingatkan bahwa Indonesia tetap berada di wilayah Cincin Api Pasifik. Aktivitas gempa dan gunung api masih berpotensi terjadi sewaktu-waktu.

Beberapa wilayah di Indonesia timur dilaporkan mengalami gempa kecil hingga menengah dalam beberapa pekan terakhir. Sementara itu, aktivitas gunung api seperti Gunung Ibu di Maluku Utara dan Gunung Semeru di Jawa Timur menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik.

“Kami mengimbau masyarakat di sekitar kawasan rawan gempa dan gunung api untuk tetap mengikuti informasi resmi dari BNPB, BPBD, dan PVMBG,” kata Abdul Muhari, akhir Januari 2026.

Kenapa Bencana Terus Berulang? Ini Penjelasan BNPB

BNPB menilai, meningkatnya kejadian bencana tidak bisa dilepaskan dari kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Perubahan iklim global memicu hujan ekstrem, sementara kerusakan lingkungan memperbesar dampaknya.

Berdasarkan analisis BNPB dan data GIS kebencanaan, faktor utama pemicu bencana meliputi:

  • Curah hujan ekstrem
  • Alih fungsi lahan di kawasan rawan
  • Berkurangnya daerah resapan air
  • Permukiman padat di zona berisiko tinggi

“Risiko bencana akan terus meningkat jika tidak diimbangi dengan mitigasi yang kuat dan kesadaran masyarakat,” tegas BNPB dalam laporan kebencanaan awal 2026.

Imbauan BNPB: Waspada Tanpa Panik

BNPB mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan, terutama selama puncak musim hujan yang diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.

Langkah sederhana yang disarankan BNPB antara lain:

  • Mengenali potensi bencana di lingkungan sekitar
  • Memantau peringatan dini cuaca dan kebencanaan
  • Menyiapkan rencana evakuasi keluarga
  • Tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi

 Awal 2026 menjadi pengingat bahwa bencana bukan peristiwa sesaat, melainkan risiko yang selalu ada di sekitar kita. Data BNPB menunjukkan, hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi bencana masing-masing.(hz)

Helmy zulkarnain S.I.kom Wartawan / redaktur Suara3News Helmy Zulkarnain adalah wartawan Suara3News yang aktif menulis berita nasional, gaya hidup sosial budaya dan teknologi. Ia juga terlibat dalam peliputan berbagai peristiwa publik Bidang liputan: Pemerintahan & Hukum, Nasional, Sosial Budaya wilayah liputan: Malang Raya, Nasional