Ikan Sapu-Sapu Membanjiri Sungai Malang: Tanda Air Kian Rusak atau Peluang yang Terlambat Disadari?
SUARA3NEWS - Air keruh, bau lumpur menyengat, dan di bawah permukaan—ikan sapu-sapu bergerombol tanpa henti. Pemandangan ini kini makin sering terlihat di sungai-sungai Malang. Terlihat sepele, tapi sebenarnya ini sinyal keras: ada yang sedang tidak baik-baik saja.
Di sejumlah aliran sungai di Malang, satu jenis ikan mendadak jadi “penguasa diam-diam”: sapu-sapu. Tubuhnya keras, warnanya kusam, dan sering dianggap tak bernilai.
“Kalau dapat banyak, ya paling dibuang lagi. Nggak laku,” kata Suyanto (47), warga bantaran sungai di kawasan Blimbing, yang hampir setiap pekan menjaring ikan tersebut saat air surut.
Namun di balik anggapan itu, ada cerita yang jauh lebih besar—tentang perubahan ekosistem yang berlangsung tanpa banyak disadari.
Bukan Ikan Lokal, Tapi Mendominasi
Ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) bukan berasal dari Indonesia. Spesies ini diduga masuk dari Amerika Selatan melalui perdagangan ikan hias, lalu dilepas ke alam bebas.
Tanpa predator alami, populasinya berkembang cepat dan mulai menggeser ikan lokal.
Dosen akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, Very Hasan, menjelaskan bahwa daya tahan ikan ini jadi faktor utama.
“Spesies ini mampu hidup di berbagai kondisi perairan, bahkan yang kualitasnya buruk,” ujarnya.
Semakin Banyak, Semakin Jadi Alarm
Fenomena di Malang bukan kebetulan. Ikan sapu-sapu justru berkembang pesat di perairan yang tercemar.
Artinya sederhana: semakin banyak ikan ini muncul, biasanya kualitas air semakin memburuk.
Masalahnya tidak berhenti di situ.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menegaskan bahwa ikan ini belum aman dikonsumsi.
“Belum bisa dimanfaatkan sebelum ada kajian resmi. Kandungan logam beratnya sering melebihi ambang batas aman,” tegasnya.
Sejumlah penelitian menunjukkan, ikan dasar seperti sapu-sapu berpotensi mengakumulasi logam berat seperti timbal (Pb) dan merkuri (Hg) dari sedimen. Dalam beberapa kasus, kandungannya dilaporkan melampaui batas aman konsumsi, terutama di perairan yang terpapar limbah domestik dan industri.
Banyak Ditangkap, Tapi Tak Bernilai
Di berbagai titik sungai di Malang, warga bisa menangkap ikan sapu-sapu dalam jumlah besar hanya dalam sekali jaring.
Ironisnya, hasil tangkapan itu hampir tidak punya nilai ekonomi.
Sebagian dibuang, sebagian dibiarkan. Padahal, kemunculan massal ini justru menjadi indikator penting kondisi sungai saat ini.
Lebih jauh, dominasi ikan ini juga berdampak pada ekosistem. Aktivitasnya di dasar sungai bisa merusak habitat dan mengganggu keberlangsungan ikan lokal yang lebih sensitif.
Ancaman Sekaligus Peluang
Meski sering dianggap hama, ikan sapu-sapu bukan sepenuhnya tanpa manfaat.
Di habitat aslinya, ikan ini dikenal sebagai “pembersih alami” karena memakan alga dan sisa organik di dasar perairan. Dalam kondisi tertentu, perannya membantu mengurangi penumpukan limbah.
Sejumlah riset dan inisiatif mulai mencoba memanfaatkannya sebagai:
- bahan pakan ternak
- pupuk organik
- hingga kerajinan dari kulitnya yang keras
Di beberapa negara Amerika Selatan, ikan ini bahkan dikonsumsi sebagai sumber protein alternatif—tentu dengan syarat hidup di perairan yang bersih.
Di Indonesia, peluang itu sebenarnya terbuka. Namun satu hal masih menjadi penghalang utama: keamanan dari paparan logam berat.
Cermin yang Tak Bisa Dihindari
Lonjakan populasi ikan sapu-sapu bukan sekadar fenomena biasa. Ini adalah alarm.
Alarm bahwa sungai sedang tercemar.
Alarm bahwa ekosistem mulai bergeser.
Dan alarm bahwa manusia sering baru sadar saat semuanya sudah berubah.
Ikan ini mungkin tidak menarik, tidak mahal, bahkan sering dianggap tak berguna.
Tapi justru dari situlah pesan besarnya datang.
Kalau suatu hari sungai kembali bersih, mungkin ikan sapu-sapu tak akan lagi mendominasi.
Dan saat itu terjadi, itu bukan kehilangan—melainkan tanda bahwa alam akhirnya mulai pulih.(ra/hz)

