Virus Nipah Kembali Muncul, Bagaimana Cara Penularannya, Apakah Indonesia Berisiko?

Jan 28, 2026 - 15:25
 0
Virus Nipah Kembali Muncul, Bagaimana Cara Penularannya, Apakah Indonesia Berisiko?
Ilustrasi Mikrograf jaringan otak yang menunjukkan infeksi virus Nipah, salah satu virus zoonosis dengan tingkat kematian tinggi yang menyerang sistem saraf manusia. (Ilustrasi ilmiah/pixnio)

SUARA3NEWS - Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia setelah otoritas kesehatan India melaporkan kasus baru yang memicu karantina puluhan orang dan penguatan pengawasan medis. Penyakit zoonosis dengan tingkat kematian tinggi ini menimbulkan kekhawatiran global. Namun, seberapa berbahaya virus Nipah sebenarnya, bagaimana cara penularannya, dan apa yang perlu dilakukan jika muncul gejala?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa virus Nipah merupakan salah satu patogen zoonosis paling berbahaya dengan tingkat kematian yang tinggi serta berpotensi menular antarmanusia jika tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Sejumlah epidemiolog juga menilai, tantangan utama penanganan virus Nipah terletak pada gejala awalnya yang sering menyerupai penyakit umum, sehingga banyak pasien datang terlambat ke fasilitas kesehatan.

Apa Itu Virus Nipah?

Virus Nipah (Nipah virus/NiV) adalah penyakit menular yang berasal dari hewan dan dapat berpindah ke manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, reservoir alami virus ini adalah kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus. Virus ini termasuk keluarga Paramyxoviridae dan dikenal dapat menyerang sistem pernapasan serta saraf manusia.

BACA JUGA: Lonjakan Flu Global Jadi Sorotan: Varian Subclade K Terdeteksi di Indonesia

Cara Penularan Virus Nipah

Berdasarkan data WHO dan CDC, virus Nipah menular melalui beberapa jalur utama:

  1. Dari hewan ke manusia

    • Kontak langsung dengan kelelawar pemakan buah

    • Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi air liur, urine, atau kotoran kelelawar

    • Pada wabah tertentu, penularan melibatkan hewan perantara seperti babi

  2. Antarmanusia

    • Kontak erat dengan penderita melalui cairan tubuh

    • Risiko tinggi pada anggota keluarga dan tenaga kesehatan tanpa perlindungan memadai

  3. Lingkungan

    • Paparan area atau benda yang terkontaminasi cairan tubuh penderita atau hewan terinfeksi

Catatan penting: Virus Nipah tidak menular melalui udara jarak jauh seperti COVID-19, melainkan membutuhkan kontak dekat.

Gejala Awal hingga Komplikasi Berat

Gejala awal virus Nipah sering tidak spesifik, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, batuk, dan sakit tenggorokan. Pada sebagian pasien, kondisi dapat memburuk dengan cepat.

Dalam kasus berat, virus ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan radang otak (ensefalitis). WHO mencatat, komplikasi neurologis bisa muncul dalam waktu singkat, ditandai kebingungan, kejang, hingga koma dalam 24–48 jam.

Tingkat Kematian Tinggi, Belum Ada Obat Spesifik

Virus Nipah memiliki tingkat kematian yang tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung pada kecepatan deteksi dan kualitas layanan kesehatan. Hingga kini, belum tersedia obat antivirus atau vaksin khusus untuk Nipah. Penanganan pasien dilakukan secara suportif untuk mengurangi gejala dan komplikasi.

Respons Cepat Jika Mengalami Gejala

Jika seseorang mengalami demam tinggi, sakit kepala berat, muntah, gangguan pernapasan, atau kebingungan—terutama setelah bepergian ke wilayah terdampak atau kontak dengan orang bergejala—langkah berikut perlu segera dilakukan:

  • Isolasi diri dan hindari kontak dekat dengan orang lain

  • Gunakan masker dan jaga kebersihan tangan

  • Segera ke fasilitas kesehatan terdekat

  • Sampaikan riwayat perjalanan dan kontak secara jujur kepada tenaga medis

  • Hindari pengobatan sendiri, karena tidak ada terapi rumahan yang terbukti efektif

Deteksi dan penanganan dini sangat penting untuk menurunkan risiko kematian dan mencegah penularan lanjutan.

Riwayat Wabah Nipah

Virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada 1999 di Malaysia dan Singapura, terkait peternakan babi. Sejak itu, wabah sporadis terus muncul, terutama di Bangladesh dan India. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah Kerala dan Bengal Barat di India tercatat beberapa kali melaporkan kasus.

Situasi Terbaru di India

Kasus terbaru di India mendorong karantina kontak erat dan penguatan protokol kesehatan di rumah sakit. Sejumlah tenaga kesehatan masuk pemantauan ketat. Meski belum menjadi wabah besar, kemunculan ini memicu kewaspadaan regional.

Bagaimana dengan Indonesia?

Hingga kini, belum ada laporan resmi kasus virus Nipah pada manusia di Indonesia. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan keberadaan antibodi virus Nipah pada populasi kelelawar di Asia Tenggara. Kondisi ini membuat para ahli menilai penguatan surveilans penyakit zoonosis tetap penting dilakukan.

Pakar: Waspada Tanpa Panik

Epidemiolog menekankan bahwa virus Nipah perlu disikapi dengan kewaspadaan berbasis informasi, bukan kepanikan. Edukasi masyarakat, deteksi dini, dan kesiapan sistem kesehatan dinilai menjadi kunci utama pengendalian risiko.

Kemunculan kembali virus Nipah menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit menular masih ada. Dengan pemahaman cara penularan, pengenalan gejala, dan respons cepat, risiko dapat ditekan tanpa menimbulkan ketakutan berlebihan di masyarakat.(red)