Becak Listrik Mulai Beroperasi di Malang, Solusi atau Tantangan Baru?
SUARA3NEWS - Kehadiran becak listrik di Kota Malang menandai perubahan besar transportasi tradisional. Lebih ramah lingkungan dan ringan bagi pengayuh, moda ini membawa harapan baru—namun juga menyisakan tantangan yang belum sepenuhnya siap di lapangan.Bagi pengayuh becak, kendaraan ini bukan sekadar alat baru, tetapi harapan agar tetap bisa bertahan di tengah perubahan zaman. Namun di sisi lain, penerapannya juga memunculkan tantangan baru yang tak bisa diabaikan.
Lebih Ringan, Lebih Bersih, Lebih Manusiawi
Becak listrik menawarkan keunggulan utama pada ringannya beban kerja pengayuh. Tenaga listrik membantu kayuhan, sehingga pengayuh—banyak di antaranya lanjut usia—tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tenaga fisik.
“Lebih enteng nariknya, tidak cepat capek. Penumpang juga lebih nyaman,” ujar Buang (61), pengayuh becak di pusat Kota Malang.
Dari sisi lingkungan, becak listrik tanpa emisi dan minim kebisingan, sejalan dengan arah kebijakan Kota Malang sebagai kota wisata dan pendidikan yang mengedepankan kualitas udara dan kenyamanan ruang publik.
Wali Kota Malang menyebut becak listrik berpotensi memperkuat kawasan wisata heritage.
“Transportasi ini ramah lingkungan dan mendukung citra pariwisata Kota Malang,” ujarnya.
Daya Tarik Wisata, Tapi Infrastruktur Belum Siap
Selain transportasi jarak dekat, becak listrik diproyeksikan sebagai penunjang wisata kota. Pemerintah menargetkan operasionalnya di kawasan strategis seperti pusat kota dan destinasi heritage.
Namun, persoalan stasiun pengisian daya masih menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah daerah menargetkan fasilitas pengisian bisa beroperasi sebelum Lebaran 2026, bekerja sama dengan PLN dan skema CSR, meski detail lokasi masih disiapkan.
Tarif dan Aturan Masih Disusun
Masalah lain yang belum tuntas adalah tarif resmi becak listrik. Hingga kini, pemerintah masih menyusun regulasi agar tarif seragam, adil bagi pengayuh, dan tidak membebani penumpang.
“Tarif harus jelas supaya tidak merugikan pengayuh dan memberi kepastian bagi penumpang,” kata Wali Kota Malang.
Payung hukum berupa Peraturan Wali Kota ditargetkan rampung sebelum becak listrik beroperasi penuh.
Transformasi Transportasi, Bukan Sekadar Ganti Kendaraan
Pemerintah daerah menegaskan becak listrik tidak dimaksudkan bersaing dengan ojek online atau angkutan lain. Moda ini diposisikan sebagai transportasi jarak pendek dan layanan wisata, sekaligus bentuk perlindungan sosial bagi pekerja sektor informal.
Bupati Malang menilai program ini sebagai adaptasi agar pengayuh becak tetap produktif.
“Ini upaya menjaga ekonomi masyarakat kecil di tengah perubahan teknologi,” ujarnya.
Becak listrik membawa peluang besar bagi Malang Raya: transportasi lebih bersih, pengayuh lebih terlindungi, dan pariwisata lebih nyaman. Namun tanpa kesiapan infrastruktur dan aturan yang jelas, transformasi ini berisiko tersendat di lapangan.
Modernisasi transportasi kota bukan hanya soal kendaraan baru, tetapi soal keberpihakan pada manusia yang menggerakkannya. (red)

