Dulu Kuno, Kini Dicari Anak Muda: Batik Malang Naik Daun dan Jadi Sumber Cuan

Apr 28, 2026 - 21:57
 0
Dulu Kuno, Kini Dicari Anak Muda: Batik Malang Naik Daun dan Jadi Sumber Cuan
Ilustrasi foto, Dulu dianggap kuno, kini batik Malang justru diburu anak muda. Dari gaya hidup baru hingga sumber cuan UMKM, batik sedang naik daun.(foto/pexels)

SUARA3NEWS - Dulu batik sering dianggap pakaian resmi yang hanya keluar saat acara tertentu. Kesan kuno, kaku, dan kurang gaul sempat melekat cukup lama. Namun sekarang keadaan berubah cepat.

Di Malang, batik justru mulai dilirik generasi muda. Dipakai nongkrong, masuk tren OOTD, tampil di media sosial, hingga menjadi sumber penghasilan baru bagi banyak pelaku usaha lokal.

Yang berubah bukan hanya model pakaiannya. Cara orang memandang batik ikut berubah.

Batik Tak Lagi Terjebak Kesan Formal

Selama bertahun-tahun, batik identik dengan rapat, undangan resmi, atau seragam kantor. Padahal, di balik selembar kain batik terdapat proses panjang yang penuh ketelitian.

Mulai dari membuat pola, mencanting malam, pewarnaan, hingga tahap akhir penyelesaian, semuanya membutuhkan ketekunan dan sentuhan seni yang tidak sederhana.

Nilai batik juga terletak pada makna tiap motif. Banyak corak batik lahir dari filosofi hidup, doa, harapan, hingga identitas suatu daerah.

Karena itu, batik bukan sekadar kain bermotif. Batik adalah cerita yang bisa dikenakan.

Anak Muda Mulai Membawa Batik ke Tren Baru

Perubahan besar terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Generasi muda mulai mencari busana yang unik, tidak pasaran, dan punya nilai lokal.

Batik menjawab kebutuhan itu.

Di Malang, batik kini hadir dalam bentuk yang lebih segar. Mulai dari kemeja santai, outer, dress modern, rok, tote bag, hingga aksesori harian. Desain yang lebih fleksibel membuat batik mudah dipadukan dengan gaya kasual.

Tak sedikit anak muda yang memakai batik untuk nongkrong, datang ke kampus, bekerja di ruang kreatif, hingga membuat konten fesyen di media sosial.

Ini bukan tren sesaat. Batik sedang menemukan pasar barunya.

UMKM Malang Ikut Menikmati Gelombang Positif

Di balik naiknya minat pasar, pelaku UMKM batik di Malang ikut merasakan dampaknya.

Promosi lewat media sosial dan marketplace membuat penjualan tidak lagi terbatas pada pembeli sekitar kota. Produk lokal kini bisa menjangkau luar daerah hingga pasar nasional.

Dari pengrajin, penjahit, desainer motif, reseller, hingga penjual online, rantai ekonomi ikut bergerak.

Bagi sebagian warga, batik kini bukan hanya warisan budaya. Batik telah menjadi peluang usaha yang menjanjikan.

Dukungan Pemkot Malang Perkuat Pasar Lokal

Upaya menjaga batik tetap hidup juga diperkuat lewat kebijakan daerah.

Melalui Peraturan Wali Kota Malang Nomor 03 Tahun 2016 serta Surat Edaran Wali Kota Malang Nomor 844 Tahun 2020, Aparatur Sipil Negara (ASN) diwajibkan mengenakan pakaian khas Jawa setiap Kamis dan batik khas Malang setiap Jumat.

Kebijakan ini ikut mendorong penggunaan produk lokal secara rutin dan membantu membuka pasar yang lebih stabil bagi pelaku UMKM batik.

Saat permintaan terjaga, usaha kecil punya ruang untuk tumbuh.

Dari Warisan Lama Menjadi Peluang Masa Depan

Pengakuan UNESCO yang menetapkan batik sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2009 menjadi bukti bahwa batik memiliki nilai besar di mata dunia.

Namun hari ini, batik menunjukkan sesuatu yang lebih penting: tradisi bisa bertahan jika mampu beradaptasi.

Di Malang, selembar kain kini melahirkan kreativitas, identitas, lapangan kerja, dan harapan ekonomi baru.

Dulu dianggap kuno. Sekarang justru dicari anak muda.

Dan dari Kota Malang, batik membuktikan bahwa warisan lama masih bisa bersinar di zaman baru.(ra/hz)

Rahmah Keahlian: Ekonomi dan Bisnis ,news Update, gaya hidup : wisata dan fashion ,serta berita lokal dan nasional lokasi liputan : Kota Malang kota batu kota surabaya