Keluarga Korban Penghilangan Orang Paksa ‘97/’98 Menanti Proses Penyelesaian Non-Yudisial Kepada Presiden Terpilih
SUARA3NEWS, Kota Malang - Berada di sebuah gang kecil di jalan Bengawan Solo, Kota Malang, seorang tua yang kini telah berumur 79 tahun dari hari ke hari menanti kejelasan keberadaan anaknya yang hilang.
Sejak 26 tahun yang lalu tepatnya 30 Maret 1998, Petrus Bima Anugrah atau yang akrab dipanggil Bimpet (Bimo Petrus) telah dinyatakan hilang dan hingga kini belum ditemukan. Hilangnya Bimo diduga terkait dengan aktivitas politiknya saat menjadi aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi dari Universitas Airlangga Surabaya dan aktivis PRD menjelang kejatuhan rezim Suharto.
Saat ditemui di rumahnya pada akhir Agustus yang lalu, Ayah Bimo, Dionysius Utomo Raharjo atau yang biasa dipanggil Utomo mengingat kembali masa anaknya pamit ke Jakarta untuk bergabung bersama gerakan rakyat dan akhirnya menjadi korban penculikan dan penghilangan paksa.
Utomo menceritakan bahwa sempat terjadi perselisihan antara dirinya dan juga istri terkait restu yang diberikan kepada Bimo saat pamit ke Jakarta. Baginya keyakinan tentang nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi yang akan diperjuangkan Bimo di Jakarta membuatnya merestui keberangkatan anaknya namun sikap berbeda ditunjukkan oleh ibu Bimo.
Foto Bimo saat berada di Tahanan Polda (kiri) dan foto keluarga utomo bersama anak istri saat masih utuh (Foto : An Mei)
Kehilangan seorang anak merupakan tragedi bagi kehidupan Utomo, namun sebagai umat Katolik yang taat, Utomo selalu percaya bahwa akan ada cahaya kebenaran terhadap kejelasan nasib anaknya.
“Walaupun sudah banyak yang membuat cerita dan kesaksian bahkan ada juga yang telah membuat novel dengan judul Laut Bercerita, namun kebenaran tentang kejadian sebenarnya harus dijelaskan oleh negara. Sebagai umat Katolik, baru beberapa tahun terakhir saya melakukan doa arwah teruntuk Bimo dan istri saya yang telah mendahului,” kata Utomo.
Utomo kini sudah menyerahkan anaknya kepada kuasa Tuhan termasuk pelaku yang telah menghilangkan secara paksa kehidupan Bimo Petrus. Namun sebagai seorang ayah, dia tetap tidak akan diam dan selalu meminta penjelasan kepada negara terkait kebenaran akan peristiwa yang menimpa anaknya.
Bahkan kepada media ini, setelah 26 tahun, Utomo berharap dapat bertemu langsung dengan Presiden terpilih Prabowo Subianto. Dia ingin mengetahui kejujuran Prabowo, apakah yang terjadi kepada anaknya adalah andil dari tangan Prabowo?.
"Harapan dari pertemuan keluarga korban dan Pak Prabowo adalah kejujuran. Kami ingin mendengar secara langsung kebenaran yang disampaikan oleh Pak Prabowo. Umpama Pak Prabowo mengakui kesalahan dan peristiwa penculikan dilakukan oleh anak buahnya pada saat itu, saya masih bisa memaafkan. Dan saya akan bersyukur bahwa pada akhirnya Pak Prabowo dibukakan hati nuraninya terhadap keluarga korban,” ungkap Mbah Tomo.
Presiden terpilih Prabowo Subianto selalu dituding berada dibalik peristiwa pelanggaran HAM berat penculikan para aktivis pada tahun 1997/1998.
Dari Pemilu ke pemilu kasus penghilangan orang secara paksa sering digunakan untuk meminta pertanggungjawaban Prabowo dihadapan publik. Bahkan dalam debat calon presiden, peristiwa penculikan selalu muncul dan dipakai oleh lawan politik sebagai materi untuk menyerang Prabowo Subianto termasuk pada Pemilu tahun 2024 yang lalu.
Pertemuan keluarga korban bersama petinggi Partai Gerindra
Kini, menjelang satu bulan pelantikan Presiden terpilih Prabowo Subianto pada Oktober 2024 mendatang, terdapat pertemuan yang sangat penting antara Sufmi Dasco Ahmad mewakili Prabowo Subianto dan keluarga korban pelanggaran HAM Berat penghilangan orang secara paksa tahun 1997-1998.
Artikel Petrus Bimo Anugrah yang diterbitkan oleh Kompas, Sabtu,10 Januari 1998 dengan judul Pemerintahan Bersih, Ada Syaratnya. *Catatan untuk Andre H Pareira (Foto : An Mei)
Pertemuan yang diadakan di Hotel Fairmont Jakarta pada 2 Agustus 2024 yang lalu telah menjadi harapan bagi Utomo untuk mengetahui nasib anaknya.
“Pertemuan tersebut akan menjadi awal saya berkomunikasi secara langsung kepada Prabowo dan mempertanyakan kebenaran-kebenaran. Dari hasil pertemuan di Fairmont itu juga dijanjikan pertemuan-pertemuan selanjutnya termasuk pemulihan bagi keluarga korban,” jelas Utomo.
“Walaupun dalam pertemuan di Fairmont telah diberikan peduli kasih dari perwakilan Prabowo, saya tetap akan mempertanyakan kejelasan anak saya dimana. Kalau dibunuh dimana lokasinya. Suatu saat saya merasa yakin akan bertemu secara langsung dengan Prabowo,” tambahnya.
Utomo dan beberapa keluarga korban saat ini hanya menunggu upaya yang sedang dilakukan negara dalam penyelesaian non-yudisial pelanggaran Ham berat masa lalu. Upaya Jokowi dengan mengeluarkan 3 peraturan dan hadirnya Tim Penyelesaian Non Yudisial Pelanggaran HAM (PPHAM) berat masa lalu dianggap belum mampu membawa rasa keadilan bagi korban maupun keluarga korban.
Tongkat estafet kepemimpinan nasional kini sedang berganti, mampukah Prabowo Subianto sebagai Presiden terpilih menjawab keinginan keluarga korban dengan menyampaikan kebenaran dan kejujuran?
Seperti yang dikatakan Bimo dalam suratnya kepada ibunya, “Tidak enak rasanya kalau hidup hanya datar-datar saja. Tidak ada seninya. Mumpung masih muda Bimo ingin masa muda betul-betul bermakna. Entah itu salah atau benar jalan yang Bima tempuh yang penting bermakna. Daripada sampai jadi kakek-kakek tapi tidak berbuat satupun makna dalam hidupnya.”

