Inflasi Turun ke 2,42 Persen, Kenapa Semua Masih Mahal?
SUARA3NEWS - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada April 2026 turun ke angka 2,42 persen secara tahunan. Secara angka, kondisi ini terlihat membaik dibanding Maret 2026 yang sempat berada di 3,48 persen.
Namun bagi banyak warga Kota Malang, situasinya belum terasa benar-benar ringan. Biaya jalan masih naik, harga kebutuhan makan belum ramah, sementara pemasukan banyak orang tetap jalan di tempat.
Di tengah turunnya angka inflasi nasional, tekanan biaya hidup justru masih terasa di pengeluaran harian masyarakat.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan inflasi April masih dipengaruhi naiknya biaya mobilitas masyarakat setelah penyesuaian harga bahan bakar.
“Kenaikan inflasi disumbang tarif angkutan udara dan juga harga bensin,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (4/5/2026).
Kenaikan harga avtur ikut mendorong tarif penerbangan, sedangkan bensin nonsubsidi juga mengalami penyesuaian. Efeknya tidak berhenti di sektor perjalanan jauh, tetapi ikut merembet ke biaya transportasi sehari-hari dan distribusi barang.
Bagi warga Malang, kondisi ini paling terasa pada pengeluaran rutin. Pekerja yang tiap hari berangkat kerja harus menambah biaya transportasi. Mahasiswa perantau mulai lebih ketat mengatur uang bulanan. Pedagang kecil juga menghadapi ongkos belanja dan kirim barang yang ikut naik.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang utama inflasi bulanan. Indeks harga konsumen sektor ini tercatat naik menjadi 111,74 poin, dari sebelumnya 110,65 poin.
Selain ongkos jalan, beban lain datang dari dapur rumah tangga. BPS mencatat inflasi pangan April 2026 sebesar 3,06 persen, sedikit turun dari Maret yang berada di 3,34 persen.
Meski turun tipis, harga sejumlah kebutuhan pokok masih terasa tinggi. Komoditas seperti beras, minyak goreng, dan telur tetap menjadi sumber tekanan pengeluaran warga.
Bagi keluarga dengan pendapatan tetap, kondisi seperti ini cukup menyulitkan. Pengeluaran bertambah, tapi pemasukan belum tentu ikut naik.
Secara umum, Indeks Harga Konsumen (IHK) April 2026 berada di 111,09 poin, naik dari 110,95 poin pada Maret. Sementara inflasi inti tahunan tercatat 2,44 persen, menandakan tekanan harga di luar komponen bergejolak masih ada.
Sepanjang awal tahun 2026, laju inflasi bergerak naik turun. Januari berada di 3,55 persen, lalu melonjak ke 4,76 persen pada Februari, sebelum turun bertahap hingga April menjadi 2,42 persen.
Secara bulanan, inflasi April juga melandai ke 0,13 persen, dari 0,41 persen pada Maret.
BPS mencatat tekanan inflasi tahun ini dipicu sejumlah komoditas dan layanan seperti emas perhiasan, minyak goreng, makanan jadi, biaya pendidikan, rokok, tarif pesawat, serta bensin. Sementara dari sektor pangan bergejolak, tekanan datang dari beras dan daging ayam.
Meski data nasional menunjukkan perbaikan, kenyataan di lapangan belum sepenuhnya sama. Bagi banyak warga Kota Malang, hidup masih terasa mahal.
Selama ongkos jalan dan harga makan belum stabil, turunnya inflasi di atas kertas belum tentu langsung terasa di dompet masyarakat.(ra/hz)

