Kiriman Belum Masuk, Biaya Hidup di Malang Sudah Naik Duluan—Anak Kost Makin Terjepit
SUARA3NEWS - Belum sempat napas panjang, pengeluaran sudah duluan membengkak. Buat mahasiswa di Malang, akhir April ini jadi momen yang bikin sadar: uang bulanan makin cepat habis, bahkan sebelum benar-benar dipakai.
Kenaikan biaya hidup di Malang sekarang bukan lagi cerita pelan-pelan—ini sudah terasa langsung di kantong mahasiswa. Roudhotun Jannah, mahasiswa Universitas Negeri Malang, merasakan sendiri perubahan itu saat berburu kost di akhir April 2026.
“Baru kerasa banget sekarang. Waktu cari kost akhir April ini, harganya sudah beda dari sebelumnya,” ujarnya.
Bukan cuma soal tempat tinggal. Pengeluaran makan juga ikut terdorong naik, meski terlihat kecil di angka, tapi terasa di akumulasi.
“Beberapa makanan naik sekitar Rp1.000 sampai Rp2.000. Kemungkinan efek dari kenaikan harga plastik kemarin,” tambahnya.
Setengah Uang Bulanan Habis Buat Bertahan
Data dari Rumah123 menunjukkan, rata-rata biaya hidup di Malang pada 2026 sudah mendekati Rp1,5 juta per bulan.
Biaya kost jadi pengeluaran terbesar, sekitar Rp891 ribu per bulan. Sisanya terserap untuk makan sekitar Rp217 ribu, ditambah kebutuhan lain seperti transportasi, listrik, dan konsumsi harian.
Di atas kertas, angka ini mungkin terlihat “masih aman”. Tapi kalau disandingkan dengan UMP Jawa Timur 2026 sebesar Rp2.446.880, realitanya lain: lebih dari separuh sudah habis hanya untuk bertahan hidup.
Buat mahasiswa yang masih mengandalkan kiriman orang tua, ini bukan lagi soal cukup atau tidak—tapi soal bisa bertahan sampai akhir bulan atau tidak.
Tekanan Datang dari Dua Arah
Kondisi ini bukan kebetulan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya sudah mengingatkan bahwa tekanan inflasi, terutama di sektor pangan dan energi, masih jadi tantangan besar.
Di tingkat lokal, inflasi Malang pada Maret 2026 tercatat sekitar 3,75 persen. Harga bahan pokok naik, tarif energi ikut menyesuaikan.
Di saat yang sama, Malang sebagai kota pendidikan menghadapi tekanan lain: permintaan hunian terus naik. Mahasiswa datang, kamar terbatas—harga ikut terdorong.
Ekonom dari Universitas Brawijaya, Ferry Prasetyia, menyebut ini sebagai kombinasi faktor yang saling mengunci.
“Kenaikan biaya hidup di daerah seperti Malang tidak lepas dari inflasi, terutama pangan dan energi. Ditambah permintaan hunian yang tinggi, harga sewa otomatis ikut naik,” jelasnya.
BACA JUGA :
- Wacana Prodi Ditutup, 168 Ribu Mahasiswa di Malang Terancam Terdampak
- 3 Menu Anak Kost Super Hemat yang Bikin Kenyang Tanpa Boros
Realita Baru: Lebih Hemat atau Kehabisan Lebih Cepat
Di tengah kondisi ini, mahasiswa mulai “menyetel ulang” cara hidup.
Bukan lagi soal gaya, tapi bertahan.
Lebih sering masak dibanding beli. Nongkrong mulai dipilih-pilih. Pengeluaran kecil yang dulu dianggap sepele, sekarang mulai dihitung.
Perencana keuangan dari Financial Planning Standards Board Indonesia, Rista Zwestika, menekankan satu hal sederhana yang sering diabaikan: sadar ke mana uang pergi.
“Kalau tidak dicatat, uang terasa cepat habis tanpa tahu sebabnya. Dari situ baru bisa menentukan mana yang harus didahulukan,” ujarnya.
Pola sederhana seperti membagi 50 persen untuk kebutuhan utama, 30 persen kebutuhan tambahan, dan 20 persen tabungan mulai jadi pegangan—meski dalam praktiknya, tidak semua mahasiswa bisa benar-benar menjalankannya.
Bukan Sekadar Bertahan, Tapi Belajar Realita
Buat mahasiswa di Malang hari ini, kuliah bukan cuma soal hadir di kelas atau mengejar nilai.
Ada pelajaran lain yang datang diam-diam tapi terasa paling nyata: bagaimana bertahan di tengah biaya hidup yang terus naik, bagaimana mengatur uang yang terbatas, dan bagaimana tetap menjaga mimpi—meski ruang geraknya makin sempit.
Dan buat sebagian dari mereka, ini mungkin jadi pelajaran paling keras sebelum benar-benar masuk ke dunia nyata.(ra/hz)

