Di Era Kuliner Viral, Tampilan Jadi Raja: Ketika Dapur Tak Lagi Mengejar Rasa
SUARA3NEWS - Makanan sekarang makin cantik saat masuk kamera. Saus ditata serapi mungkin, garnish dibuat mencolok, warna dipoles biar menggoda waktu muncul di feed media sosial. Tapi di balik tampilan yang makin estetik itu, ada keresahan yang pelan-pelan muncul dari dalam dapur: rasa mulai sering kalah prioritas.
Hal itu dirasakan seorang kepala dapur di salah satu usaha food and beverage. Ia mengaku ritme kerja di dapur sekarang sudah jauh berubah dibanding beberapa tahun lalu.
Kalau dulu waktu lebih banyak habis buat nyari standar rasa, sekarang perhatian justru sering tersita ke urusan plating dan tampilan makanan.
“Dulu saya sering habiskan waktu buat cari titik rasa yang pas dan sesuai standar. Tapi sekarang tidak. Justru lebih banyak waktu habis buat menyusun tampilan makanan di atas piring,” ujarnya.
Menurut dia, dapur sekarang mau tidak mau ikut bergerak mengikuti kebutuhan pasar dan media sosial. Makanan dituntut lebih dulu menarik dilihat bahkan sebelum orang mencicipinya.
“Sekarang banyak perusahaan lebih mementingkan estetika visual dulu. Padahal menurut saya, dunia culinary itu harusnya fokus ke rasa. Pakai bumbu lengkap, bukan cuma instan, karena itu pengaruh ke karakter makanan,” katanya.
Di lapangan, lanjut dia, penggunaan bumbu instan atau cara cepat demi efisiensi makin sering ditemui. Ada juga beberapa trik di dapur supaya makanan terlihat lebih cantik di kamera meski prosesnya dipangkas.
Hal yang paling terasa baginya justru ada di hasil akhirnya. Ia mengaku biasanya bisa langsung membedakan mana masakan yang benar-benar dibuat untuk dinikmati dan mana yang lebih mengejar tampilan.
“Masakan yang dibuat dengan perasaan biasanya lebih mementingkan rasa. Bahannya juga segar dan berkualitas karena memang ingin dikonsumsi orang,” ungkapnya.
BACA JUGA :
Sementara untuk makanan yang dibuat demi kebutuhan konten, menurutnya sering kali terlalu sibuk mengejar visual.
“Kalau yang cuma buat konten, biasanya terlalu banyak mengakali supaya terlihat efisien dan cantik. Di dapur istilahnya cheating,” katanya sambil tersenyum kecil.
Ia mengaku tidak mudah kalau harus mengubah kondisi dapur di industri kuliner sekarang. Sebab pada akhirnya dapur juga mengikuti ritme pasar yang terus bergerak cepat.
Meski begitu, satu hal yang menurutnya tetap penting untuk dijaga adalah standar rasa dan kualitas bahan baku. Karena dari situlah karakter sebuah masakan sebenarnya terbentuk.
Di tengah tren makanan viral yang terus bermunculan, keresahan seperti ini ternyata juga hidup di balik panas dapur. Saat banyak makanan berlomba tampil menarik di kamera, masih ada orang-orang di belakangnya yang sibuk menjaga satu hal sederhana: rasa.(rh/hz)

