Saat Rupiah Melemah, Pedagang Pasar Tradisional di Malang Mulai Kurangi Belanja Stok
SUARA3NEWS - Minyak goreng, telur, cabai, sampai bahan pokok di lapak pasar tradisional masih terlihat normal seperti biasa. Tapi di balik aktivitas jual beli itu, sebagian pedagang di Malang mulai mengeluh karena modal belanja harian pelan-pelan naik saat rupiah terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat.
Bukan karena mereka pegang dolar Amerika Serikat. Sebagian bahkan tidak pernah berurusan langsung dengan mata uang asing. Namun saat rupiah terus melemah, harga bahan baku yang bergantung pada impor ikut bergerak.
“Sekarang belanja kedelai sudah beda dibanding awal bulan. Naiknya memang belum terlalu tinggi, tapi kalau hampir tiap minggu berubah ya terasa juga,” ujar seorang pedagang tempe di kawasan Pasar Besar Malang.
Pedagang itu mengaku belum berani menaikkan harga jual. Pembeli di pasar, kata dia, sekarang lebih sensitif soal harga. Akibatnya, sebagian pedagang memilih mengurangi produksi harian supaya modal tidak langsung habis buat belanja bahan baku.
Ada yang biasanya membuat lebih dari 100 papan tempe per hari, kini mulai dikurangi sedikit demi sedikit. Sebagian lagi memilih menahan stok karena khawatir harga kedelai kembali naik.
Senin pagi, rupiah masih berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS. Di saat beberapa mata uang Asia mulai bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat, rupiah justru belum banyak beranjak dari tekanan.
Buat warga pasar, kondisi itu memang tidak langsung terasa seperti angka di layar berita ekonomi. Dampaknya justru masuk lewat hal-hal kecil yang paling dekat dengan kebutuhan harian.
Harga bahan baku naik sedikit, ongkos distribusi ikut bergerak, modal dagang bertambah, sementara uang belanja rumah tangga tetap segitu-segitu saja.
Di lorong pasar bagian bahan pokok, beberapa pembeli tampak lebih lama menawar harga. Ada juga yang memilih mengurangi jumlah belanja. Pedagang mengaku situasi seperti ini mulai sering terasa dalam beberapa minggu terakhir.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai masyarakat kecil memang menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampak pelemahan rupiah, terutama karena kebutuhan sehari-hari masih bergantung pada barang dan bahan baku impor.
“Rumah tangga miskin dan kelas menengah akan menanggung beban paling berat karena porsi belanja mereka terkonsentrasi pada makanan, transportasi, dan kebutuhan rutin,” kata Syafruddin.
Menurutnya, masyarakat memang tidak memakai dolar untuk transaksi harian. Namun ketika rupiah melemah, efeknya tetap bisa sampai ke pasar tradisional dan pengeluaran rumah tangga.
Bagi pedagang kecil dan warga dengan penghasilan harian, dolar mungkin hanya angka yang muncul di layar televisi atau media sosial. Tapi saat harga bahan baku mulai naik dan uang belanja makin ketat, dampaknya pelan-pelan terasa nyata di dapur dan lapak jualan mereka sehari-hari.(ra/hz)

