"Lebih Berat dari Pandemi" Curhat Pedagang Pasar Besar Malang Soal Kondisi Ekonomi Saat Ini
SUARA3NEWS - Suasana Pasar Besar Malang pada hari kerja terlihat tidak seramai akhir pekan. Lorong-lorong pasar masih dipenuhi aktivitas jual beli, namun kepadatan pengunjung yang biasanya terlihat pada Sabtu dan Minggu belum tampak pada siang itu.
Di balik aktivitas yang terus berjalan, sejumlah pedagang mengaku sedang menghadapi masa sulit. Bukan karena pasar sepi total, melainkan karena daya beli masyarakat yang mereka rasakan belum benar-benar pulih.
"Saat ini lebih parah dari pandemi," ujar seorang pedagang saat ditemui di Pasar Besar Malang.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, saat pandemi Covid-19 lalu, roda perdagangan masih bisa berputar meski dalam keterbatasan. Namun kondisi sekarang dinilai lebih berat karena pemasukan yang diperoleh sering kali tidak sebanding dengan pengeluaran yang harus ditanggung pedagang.
Pasar Besar Malang sendiri masih menjadi salah satu pusat perdagangan tradisional terbesar di Kota Malang. Sekitar 4.000 pedagang berjualan di lantai satu dan lantai dua, menawarkan berbagai kebutuhan mulai dari pakaian, perlengkapan rumah tangga hingga kebutuhan sehari-hari.
Meski hari itu tidak terlalu ramai, pembeli tetap datang silih berganti. Beberapa terlihat menawar barang, sementara pedagang sibuk melayani pelanggan yang mampir ke kios mereka.
Salah seorang pedagang yang sudah berjualan sejak 1997 mengatakan kondisi pasar dalam beberapa bulan terakhir relatif stabil. Namun peningkatan penjualan yang dirasakan tidak terlalu besar.
"Kalau perkembangan ada, walaupun sedikit. Ramainya biasanya hari Sabtu dan Minggu. Kalau hari biasa ya lumayan, cukup untuk sehari-hari," tuturnya.
Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini membuat banyak pembeli lebih berhati-hati saat berbelanja. Tidak sedikit yang membandingkan harga atau menawar lebih rendah dari harga yang ditawarkan pedagang.
Di sisi lain, harga barang dari pemasok terus mengalami kenaikan. Situasi tersebut membuat pedagang harus mencari cara agar tetap bisa menjual barang tanpa kehilangan pelanggan.
"Modal naik terus, sementara pembeli maunya yang murah," katanya.
Selain menghadapi persoalan daya beli masyarakat, pedagang juga masih berjualan di tengah kondisi bangunan pasar yang mulai menua. Dari hasil pengamatan di lapangan, sejumlah titik atap pasar terlihat mengalami kebocoran. Sementara bangunan bekas pusat perbelanjaan Matahari yang berada di atas lantai dua sudah tidak lagi beroperasi.
Meski demikian, aktivitas perdagangan tetap berlangsung seperti biasa. Pedagang membuka kios sejak pagi dan bertahan hingga sore demi menjaga penghasilan keluarga.
Setiap harinya, pedagang juga tetap membayar retribusi kepada pengelola pasar dengan nominal bervariasi, mulai sekitar Rp1.000 hingga lebih dari Rp6.000 per hari, tergantung jenis dan lokasi tempat usaha. Selain itu terdapat iuran kebersihan atau sampah sekitar Rp4.000 per bulan untuk setiap lapak.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, para pedagang berharap Pasar Besar Malang tetap dipertahankan sebagai pasar tradisional yang menjadi tempat bergantung ribuan pelaku usaha kecil.
"Yang penting kita kerja. Cari rezeki untuk hidup sehari-hari," ujar pedagang tersebut.
Bagi sebagian besar pedagang, pasar bukan sekadar tempat berjualan. Di tempat inilah mereka menggantungkan penghasilan keluarga selama puluhan tahun. Karena itu, meski kondisi ekonomi sedang tidak mudah dan bangunan pasar membutuhkan perhatian, mereka memilih tetap membuka kios setiap hari sambil berharap keadaan perlahan membaik.(ra/hz)

