Kemarau Sudah Datang, Kok Masih Hujan Deras? BMKG Ungkap Penyebab dan Ancaman Genangan

Jun 24, 2026 - 14:36
 0
Kemarau Sudah Datang, Kok Masih Hujan Deras? BMKG Ungkap Penyebab dan Ancaman Genangan
Ilustrasi Hujan deras masih beberapa kali mengguyur sejumlah wilayah meski musim kemarau 2026 telah berlangsung. BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi genangan, banjir lokal, petir, dan angin kencang yang masih bisa terjadi akibat kondisi atmosfer yang belum sepenuhnya stabil. (Ilustrasi: Suara3News)

SUARA3NEWS - Beberapa hari terakhir, cuaca di sejumlah wilayah Jawa Timur membuat banyak warga heran. Pagi hari terasa cerah seperti musim kemarau pada umumnya, namun menjelang sore langit mendadak menghitam. Tak lama kemudian hujan deras turun, bahkan di beberapa titik sempat memicu genangan di jalan dan kawasan permukiman.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan yang sama di banyak tempat. Bukankah Indonesia, termasuk Jawa Timur, sudah memasuki musim kemarau?

Faktanya, musim kemarau memang mulai berlangsung di banyak wilayah. Namun hujan belum benar-benar pergi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam pemutakhiran musim kemarau 2026 menyebut sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki periode kemarau secara bertahap sejak Mei hingga Juni. Meski demikian, peluang hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih tetap ada di sejumlah daerah.

Fenomena itulah yang belakangan dirasakan masyarakat. Cuaca terlihat tenang pada pagi hingga siang hari, tetapi berubah cepat ketika awan hujan tumbuh dan berkembang dalam waktu singkat.

Kenapa Hujan Masih Turun Saat Musim Kemarau?

Menurut BMKG, musim kemarau tidak selalu berarti langit cerah sepanjang hari tanpa hujan.

Tahun ini masih terdapat sejumlah faktor atmosfer yang membuat pembentukan awan hujan tetap berlangsung di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.

Sederhananya, kandungan uap air di atmosfer masih cukup tinggi. Di saat yang sama, sejumlah dinamika cuaca di wilayah tropis masih aktif sehingga memudahkan pertumbuhan awan hujan.

Akibatnya, hujan tetap bisa turun meski secara kalender klimatologi wilayah tersebut sudah memasuki musim kemarau.

Yang berbeda, hujan pada musim seperti sekarang biasanya tidak merata. Ada daerah yang tetap panas dan kering, sementara daerah lain bisa diguyur hujan cukup lebat dalam waktu singkat.

BMKG bahkan mencatat masih adanya hujan dengan intensitas signifikan di sejumlah wilayah Indonesia pada periode pertengahan hingga akhir Juni 2026. Jawa Timur menjadi salah satu daerah yang masih mencatat curah hujan cukup tinggi pada beberapa kesempatan.

Dari Mana Asal Genangan dan Banjir Saat Kemarau?

Fenomena yang sering membuat masyarakat bingung adalah munculnya genangan bahkan banjir lokal ketika musim kemarau sudah berjalan.

Penyebabnya bukan karena hujan turun sepanjang hari, melainkan karena intensitas hujan yang tinggi dalam waktu singkat.

Ketika hujan deras mengguyur dalam satu hingga dua jam, volume air yang mengalir ke saluran drainase bisa meningkat sangat cepat. Jika kapasitas saluran tidak memadai atau tersumbat sedimentasi dan sampah, air akan meluap ke jalan maupun kawasan permukiman.

Kondisi tersebut banyak ditemukan di kawasan perkotaan yang memiliki area resapan air semakin terbatas.

Karena itu, meskipun status musim kemarau sudah berlaku, genangan maupun banjir lokal masih berpotensi terjadi setiap kali hujan deras turun.

Warga Diminta Jangan Lengah

BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap musim kemarau identik dengan cuaca aman dari hujan.

Dalam beberapa pekan ke depan, potensi hujan sedang hingga lebat masih dapat terjadi di sejumlah wilayah yang dipengaruhi dinamika atmosfer.

Warga yang tinggal di kawasan rawan genangan, bantaran sungai, maupun daerah dengan sistem drainase terbatas diminta tetap waspada.

Pengendara juga perlu berhati-hati saat beraktivitas pada sore hingga malam hari karena hujan yang turun mendadak sering kali menyebabkan jarak pandang berkurang dan jalan menjadi licin.

Di sisi lain, masyarakat tetap perlu bersiap menghadapi karakter musim kemarau yang mulai menguat. Suhu udara yang lebih panas pada siang hari, berkurangnya ketersediaan air di beberapa daerah, hingga meningkatnya risiko kebakaran lahan diperkirakan akan mulai muncul secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan.

Fenomena cuaca yang terjadi saat ini menjadi pengingat bahwa kemarau 2026 tidak berjalan secara hitam-putih. Di satu sisi musim kemarau sudah datang, tetapi di sisi lain hujan masih sesekali menunjukkan kekuatannya.

Karena itu, payung mungkin belum bisa sepenuhnya disimpan. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan, cuaca masih berpotensi berubah lebih cepat dari yang diperkirakan banyak orang.(hz/*)

Helmy Zulkarnain Wartawan / redaktur Suara3News Helmy Zulkarnain adalah wartawan Suara3News yang aktif menulis berita nasional, gaya hidup sosial budaya dan teknologi. Ia juga terlibat dalam peliputan berbagai peristiwa publik Bidang liputan: Pemerintahan & Hukum, Nasional, Sosial Budaya wilayah liputan: Malang Raya, Nasional