Kini Ada ‘SPBU’ Minyak Goreng di Malang, Warga Bisa Beli Mulai Rp2 Ribu
SUARA3NEWS - Suasana tak biasa terlihat di Jalan Bukirsari Raya, Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru, Senin siang. Sejumlah warga tampak berdatangan sambil membawa botol plastik dan wadah kecil. Mereka penasaran mencoba membeli minyak goreng dari mesin nozel yang bentuk dan cara pakainya mirip pengisian BBM di SPBU.
Di tempat itu, warga kini memang bisa membeli minyak goreng ecer mulai Rp2 ribu.
Depo bernama Pomindo tersebut resmi dibuka sebagai pom mini minyak goreng pertama di Malang Raya. Begitu mesin mulai dioperasikan, perhatian warga langsung tertuju ke layar digital dan nozel pengisian yang mengeluarkan minyak sesuai nominal pembayaran pembeli.
Beberapa warga terlihat masih kebingungan saat pertama mencoba. Ada yang bertanya cara mengisi, ada pula yang sengaja membeli nominal kecil hanya untuk melihat apakah takarannya benar-benar sesuai.
Konsep penjualan seperti ini tergolong baru di Kota Malang. Pembeli tidak harus membeli satu liter penuh atau kemasan tertentu. Warga cukup menyebut nominal uang yang dimiliki, lalu minyak akan keluar otomatis sesuai ukuran yang terbaca di mesin.
Direktur Utama PT Parama Artha Buwana, Yaya Sumantri, mengatakan sistem itu dibuat agar masyarakat bisa membeli minyak goreng sesuai kemampuan ekonomi masing-masing.
“Jadi masyarakat bisa beli sesuai kebutuhan. Mau Rp2 ribu, Rp3 ribu, Rp5 ribu bisa,” kata Yaya saat ditemui di lokasi peresmian.
Menurutnya, konsep tersebut menyasar semua kalangan, terutama masyarakat kecil hingga pelaku UMKM yang membutuhkan minyak goreng harian dalam jumlah terbatas.
Minyak yang dijual di depo itu dipatok Rp22 ribu per liter. Pengelola menyebut minyak yang digunakan merupakan minyak curah premium jenis CP10.
Namun sejumlah klaim yang disampaikan pengelola masih belum dapat diverifikasi secara independen. Termasuk pernyataan bahwa kualitas minyak disebut setara dengan beberapa merek ternama di pasaran.
Hingga peresmian berlangsung, belum ada penjelasan detail terkait hasil uji laboratorium maupun dokumen pembanding kualitas yang diperlihatkan secara terbuka kepada publik.
Selain itu, pengelola juga mengklaim sistem nozel yang digunakan telah melalui proses tera ulang agar volume minyak yang diterima pembeli sesuai ukuran sebenarnya.
“Titik fokus kami bagaimana masyarakat mendapatkan ukuran yang benar-benar sesuai,” ujarnya.
Meski begitu, detail hasil tera maupun lembaga pengujinya juga belum dijelaskan lebih jauh saat peluncuran berlangsung.
Peresmian Depo Pomindo turut dihadiri Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, bersama sejumlah pejabat wilayah lainnya.
Eko menyebut kebutuhan minyak goreng masih menjadi persoalan penting bagi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil kuliner yang setiap hari bergantung pada harga dan ketersediaan minyak di pasaran.
“Kita tahu minyak goreng menjadi kebutuhan penting masyarakat, terutama UMKM,” katanya.
Ia menilai sistem pembelian fleksibel seperti itu bisa membantu warga yang tidak selalu mampu membeli dalam jumlah besar sekaligus.
Di sisi lain, munculnya pembelian minyak goreng nominal kecil juga menggambarkan kondisi ekonomi sebagian warga yang kini semakin berhitung dalam belanja harian. Bagi pedagang gorengan, warung kecil, hingga rumah tangga berpenghasilan harian, membeli kebutuhan dapur sedikit demi sedikit sering kali jadi pilihan agar uang belanja tetap cukup sampai akhir hari.
Cabang di Lowokwaru ini disebut menjadi outlet pertama Pomindo di Malang Raya sekaligus outlet ke-252 secara nasional. Pengelola mengaku depo tersebut mampu menampung distribusi hingga 9 ribu liter minyak goreng dalam sekali pengiriman.
Meski konsep “pom minyak goreng” ini sukses menarik perhatian warga karena dinilai praktis dan unik, sejumlah hal masih menjadi catatan yang perlu diawasi ke depan. Mulai dari konsistensi kualitas minyak, transparansi takaran, hingga pengawasan distribusi dan legalitas produk yang dijual ke masyarakat.(ra/hz)

