Menunggu Janji Potongan 8 Persen, Driver Ojol Malang Bertahan di Tengah Sepinya Order
SUARA3NEWS – Wacana penurunan potongan komisi ojek online (ojol) menjadi maksimal 8 persen hingga kini belum benar-benar dirasakan para pengemudi di lapangan. Di tengah persaingan mencari order yang makin ketat, sebagian driver di Malang mengaku potongan aplikasi masih berada di kisaran 15 persen.
Kondisi itu membuat sejumlah pengemudi berharap kebijakan yang sempat diwacanakan pemerintah segera diterapkan secara nyata, bukan hanya menjadi kabar yang beredar di media.
Ian, salah satu driver ojol di Kota Malang, mengatakan hingga saat ini belum ada perubahan yang dirasakan terkait besaran potongan komisi dari aplikator.
"Kalau yang diterapkan presiden itu, harapannya segera diterapkan saja. Faktanya di lapangan belum ada. Baik Grab, Gojek maupun aplikasi lain, kami masih belum merasakan potongan 8 persen itu," ujarnya saat ditemui Suara3News.
Menurut Ian, selain persoalan komisi, peningkatan jumlah order juga menjadi kebutuhan utama para pengemudi. Salah satu caranya, kata dia, dengan memperbanyak promo kepada pelanggan agar permintaan layanan transportasi maupun pesan antar makanan meningkat.
"Kalau pelanggan dapat banyak promo, otomatis order juga bertambah. Itu yang paling terasa dampaknya buat kami," katanya.
Keluhan serupa disampaikan Viki, driver Maxim yang sudah enam bulan menjalani pekerjaan sampingan sebagai pengemudi ojol. Ia mengaku pendapatan dari aplikasi masih cukup membantu kebutuhan sehari-hari, namun besaran komisi dinilai masih memberatkan.
"Kalau bisa komisinya diturunkan sedikit. Sekarang masih sekitar 15 persen," ujarnya.
Saat ditanya mengenai rencana penurunan komisi menjadi 8 persen, Viki mengaku belum melihat perubahan apa pun di aplikasi yang digunakannya.
"Belum ada sampai sekarang. Masih sama," katanya singkat.
Sementara itu, tantangan yang dihadapi pengemudi ternyata tidak berhenti pada persoalan komisi. Irfan, driver ShopeeFood yang juga berstatus mahasiswa semester akhir, mengaku waktu tunggu menjadi salah satu kendala yang paling sering ditemui selama bekerja.
Menurutnya, pengemudi kerap harus menunggu cukup lama, baik saat pesanan masih diproses restoran maupun ketika pelanggan belum siap menerima pesanan, terutama pada transaksi cash on delivery (COD).
"Kadang pelanggan belum siap saat COD, jadi kita harus menunggu. Belum lagi kalau antrean di restoran juga lama," kata Irfan.
Mahasiswa semester delapan itu juga menyoroti sistem penggabungan pesanan atau double order yang dinilai belum memberikan pendapatan sebanding dengan pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Kalau satu pesanan dapat sekitar Rp6 ribu, dua pesanan seharusnya bisa dua kali lipat. Tapi seringnya tidak sampai segitu," ujarnya.
Di sisi lain, tidak semua pengemudi merasakan penurunan pendapatan. Bintang, driver ojol yang sehari-hari beroperasi di wilayah Malang, mengaku penghasilannya relatif stabil meski jumlah pengemudi terus bertambah.
Menurutnya, cara mencari order turut menentukan hasil yang diperoleh setiap pengemudi.
"Ada yang menunggu di satu tempat, ada yang keliling. Saya lebih sering keliling cari order, jadi sejauh ini masih stabil," katanya.
Meski demikian, ia mengakui situasi sepi order tetap kerap terjadi.
"Biasanya nunggu 15 sampai 30 menit. Pernah juga seharian tidak dapat order sama sekali," ungkapnya.
Beragam cerita para pengemudi tersebut menggambarkan kondisi yang mereka hadapi setiap hari. Di satu sisi, pekerjaan sebagai driver ojol masih menjadi penopang tambahan penghasilan. Namun di sisi lain, mereka masih menunggu realisasi kebijakan yang diyakini dapat membuat pendapatan lebih layak dan memberi ruang napas lebih panjang bagi para pengemudi di jalanan.(ra/hz)

