Kenapa Daya Beli Masih Lesu Meski Harga Bahan Pokok Turun?

Jul 1, 2026 - 18:47
 0
Kenapa Daya Beli Masih Lesu Meski Harga Bahan Pokok Turun?
Harga sejumlah bahan pokok memang sempat turun pada periode pasca-Lebaran 2026. Namun, kondisi tersebut belum mampu mendongkrak daya beli masyarakat secara signifikan. Data menunjukkan keputusan masyarakat untuk berbelanja lebih dipengaruhi pendapatan, kepastian pekerjaan, dan keyakinan terhadap kondisi ekonomi dibanding sekadar perubahan harga pangan.(foto ilustrasi)

SUARA3NEWS - Harga cabai, telur ayam ras, hingga daging ayam sempat turun pada periode pasca-Lebaran 2026 seiring membaiknya pasokan. Kondisi itu sempat memunculkan harapan daya beli masyarakat ikut membaik karena beban belanja rumah tangga berkurang.

Di balik kondisi tersebut, persoalannya ternyata bukan hanya harga pangan. Data menunjukkan keputusan masyarakat untuk berbelanja lebih banyak justru dipengaruhi oleh pendapatan, kepastian pekerjaan, hingga keyakinan terhadap kondisi ekonomi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian nasional. Pada Triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan dengan konsumsi rumah tangga menyumbang 54,36 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau berkontribusi 2,94 poin terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Meski demikian, pemulihan konsumsi belum berlangsung secepat yang diharapkan.

Hal itu terlihat dari Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) yang sempat turun 0,75 persen pada Januari 2026 sebelum kembali meningkat secara bertahap hingga Mei. Angka tersebut menunjukkan aktivitas belanja masyarakat mulai bergerak, tetapi belum cukup kuat untuk mencerminkan pemulihan daya beli secara menyeluruh.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, dalam rilis ekonomi Triwulan I 2026, menjelaskan konsumsi masyarakat masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, data yang sama juga memperlihatkan bahwa penguatan konsumsi berlangsung secara bertahap, bukan melonjak dalam waktu singkat.

Dari sisi harga, kondisi justru relatif terkendali. Inflasi masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia, sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau sempat mengalami deflasi pada April 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan penurunan harga tersebut dipengaruhi normalisasi permintaan setelah HBKN serta meningkatnya pasokan sejumlah komoditas seperti cabai, telur ayam ras, dan daging ayam ras.

Meski harga pangan lebih bersahabat, perilaku belanja masyarakat belum banyak berubah.

Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) memang masih berada pada level optimistis. Namun, nilainya cenderung menurun dibanding bulan sebelumnya. Penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini, pendapatan, serta rencana pembelian barang tahan lama ikut melemah. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa sebagian rumah tangga masih memilih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran.

Pengamat ekonomi LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya tercermin pada peningkatan upah riil masyarakat. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis mendorong konsumsi apabila kenaikan pendapatan masyarakat berjalan sangat terbatas.

Pandangan senada disampaikan Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Ia mengingatkan bahwa tekanan terhadap daya beli kelompok berpendapatan rendah sering kali lebih besar dibanding yang tergambar dalam angka inflasi secara umum. Karena itu, inflasi yang terkendali belum tentu mencerminkan kondisi seluruh lapisan masyarakat.

Inilah yang membuat harga pangan murah belum tentu identik dengan meningkatnya daya beli masyarakat.

Bagi sebagian rumah tangga, harga cabai atau telur yang lebih rendah memang membantu mengurangi pengeluaran. Namun dalam praktiknya, masyarakat juga harus memperhitungkan cicilan, biaya pendidikan, biaya kesehatan, ongkos transportasi, hingga kepastian pekerjaan. Selama faktor-faktor tersebut masih menjadi kekhawatiran, tambahan ruang dari turunnya harga pangan lebih banyak dimanfaatkan untuk menjaga pengeluaran tetap aman dibanding menambah konsumsi.

Pandangan serupa juga pernah disampaikan Wakil Ketua BAKN DPR RI, Amin AK. Menurutnya, inflasi yang rendah tidak selalu menjadi kabar baik apabila di saat yang sama toko-toko masih sepi, pelaku usaha menahan ekspansi, dan masyarakat belum berani meningkatkan belanja. Inflasi yang rendah baru benar-benar memberikan manfaat ketika diikuti pendapatan yang lebih kuat serta lapangan kerja yang tetap terjaga.

Karena itu, pemulihan daya beli masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan stabilitas harga pangan. Harga yang terkendali memang menjadi fondasi penting, tetapi pertumbuhan pendapatan riil, tersedianya lapangan kerja, serta meningkatnya rasa percaya diri masyarakat terhadap kondisi ekonomi menjadi faktor yang akan menentukan seberapa kuat konsumsi rumah tangga mampu kembali menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia.

Bagi masyarakat, harga pangan yang lebih murah tentu menjadi kabar baik. Namun bagi perekonomian nasional, ukuran keberhasilannya bukan hanya ketika harga turun, melainkan saat masyarakat kembali merasa yakin untuk membelanjakan uangnya. Ketika kepercayaan itu pulih, roda perdagangan bergerak lebih cepat, pelaku usaha kembali bergairah, dan konsumsi rumah tangga dapat kembali menjalankan perannya sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi.(hz)

Helmy Zulkarnain Wartawan / redaktur Suara3News Helmy Zulkarnain adalah wartawan Suara3News yang aktif menulis berita nasional, gaya hidup sosial budaya dan teknologi. Ia juga terlibat dalam peliputan berbagai peristiwa publik Bidang liputan: Pemerintahan & Hukum, Nasional, Sosial Budaya wilayah liputan: Malang Raya, Nasional