Tren Fashion Bergeser, Kenyamanan Kini Jadi Pertimbangan Utama Saat Belanja Pakaian
SUARA3NEWS – Outfit yang viral di media sosial memang masih cepat menarik perhatian. Namun ketika benar-benar hendak membeli pakaian, banyak orang kini tidak lagi menjadikan tren sebagai penentu utama. Kenyamanan, kualitas bahan, hingga karakter desain justru menjadi pertimbangan yang lebih penting sebelum membawa pulang sebuah produk fashion.
Perubahan cara pandang itu tergambar dari hasil wawancara dengan seorang desainer lokal, konsumen pengguna jasa desainer, serta pelanggan toko fashion. Meski memiliki latar belakang berbeda, ketiganya sama-sama melihat bahwa selera pribadi kini lebih menentukan dibanding sekadar mengikuti apa yang sedang ramai diperbincangkan.
Bagi desainer lokal Ishika, perubahan tersebut terlihat dari pilihan konsumen dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, masyarakat semakin menyukai pakaian yang sederhana, nyaman dikenakan, tetapi tetap menarik dipandang. Potongan oversize, warna-warna netral seperti hitam, putih, krem, dan cokelat menjadi pilihan yang semakin banyak diminati. Tak hanya model, pembeli juga mulai lebih memperhatikan kualitas bahan serta produk yang mengusung konsep sustainable fashion.
Meski tren terus berubah, Ishika menilai seorang desainer tidak seharusnya kehilangan identitas hanya demi mengikuti selera pasar. Menurutnya, mode yang populer hari ini bisa saja tergeser dalam hitungan bulan, sedangkan karakter sebuah karya akan tetap dikenali.
"Kalau hanya mengikuti tren, karya akan cepat tergantikan. Yang paling penting adalah memiliki ciri khas sehingga orang langsung mengenali identitas desain tersebut."
Hal serupa dirasakan Devina, salah seorang konsumen yang pernah memesan pakaian dari desainer lokal. Baginya, karya desainer memiliki daya tarik karena mampu menghadirkan sentuhan baru tanpa menghilangkan unsur budaya.
Ia mencontohkan perkembangan busana batik yang kini tampil lebih modern dengan berbagai inovasi model. Menurutnya, perubahan itu membuat batik tidak lagi terkesan kaku dan lebih mudah dikenakan oleh kalangan muda maupun pekerja kantoran. Ia pun berharap para desainer lokal terus berinovasi mengikuti perkembangan mode, tetap menjaga kualitas produk, menawarkan harga yang sepadan, serta aktif memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat.
Pengalaman berbeda disampaikan Melidia yang lebih senang berburu pakaian langsung di toko dibanding berbelanja secara daring. Baginya, mencoba pakaian secara langsung memberi kepastian apakah ukuran, model, dan potongannya benar-benar sesuai dengan bentuk tubuh maupun gaya berpakaian yang disukai.
Ia juga mengaku tidak mudah tergoda membeli pakaian hanya karena sedang viral.
"Kalau sedang viral tetapi tidak cocok dengan gaya saya, ya tidak saya beli. Tapi kalau memang sesuai selera, baru saya ambil."
Menurut Melidia, toko yang rutin menghadirkan koleksi baru menjadi alasan dirinya kembali berbelanja. Kehadiran produk impor dengan model yang selalu mengikuti perkembangan mode memang menjadi nilai tambah, tetapi keputusan membeli tetap bergantung pada kecocokan dengan gaya pribadi, bukan sekadar karena sedang menjadi tren.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tren fashion masih memiliki pengaruh, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya penentu. Di balik ramainya gaya berpakaian yang silih berganti, konsumen kini cenderung lebih selektif memilih busana yang nyaman dikenakan, berkualitas, dan mampu mencerminkan karakter diri. Bagi pelaku industri fashion, perubahan tersebut menjadi pengingat bahwa mengikuti tren memang penting, tetapi membangun identitas dan kualitas karya tetap menjadi modal utama untuk memenangkan kepercayaan konsumen.(ra/hz)

