Wisata Hutan Mangrove Surabaya Makin Dikenal, tapi Kesadaran Pengunjung Dinilai Masih Kurang

Aug 31, 2026 - 16:04
 0
Wisata Hutan Mangrove Surabaya Makin Dikenal, tapi Kesadaran Pengunjung Dinilai Masih Kurang
Kawasan hutan mangrove di Surabaya yang kini semakin dikenal sebagai ruang wisata, edukasi, dan konservasi lingkungan.(foto:suara3news)

SUARA3NEWS - Wisata hutan mangrove di pesisir Surabaya kini makin dikenal. Kawasan yang dulu belum banyak dipahami manfaatnya itu mulai dimanfaatkan sebagai ruang wisata dan edukasi.

Namun, di tengah makin banyaknya orang yang datang, masih ada persoalan yang cukup sederhana: kesadaran untuk menjaga kebersihan kawasan.

Intania Dewi, petugas yang bertanggung jawab menjaga kawasan mangrove di pesisir Surabaya, mengatakan mangrove memiliki banyak manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat sekitar.

Salah satunya untuk membantu menahan abrasi dan menjaga lingkungan. Mangrove juga menjadi tempat hidup ikan, kepiting dan berbagai hewan lainnya.

Salah satunya untuk menahan abrasi dan menjaga lingkungan,” ujar Intania.

Menurutnya, mangrove juga bisa dikembangkan sebagai tempat wisata. Pemanfaatan itu sekaligus dapat membantu perekonomian masyarakat sekitar.

Dulu belum banyak dikenal, sekarang makin terawat

Intania melihat perubahan pada kondisi mangrove saat ini. Menurut dia, kawasan tersebut lebih terawat dan semakin dikenal masyarakat.

Sekarang kondisinya lebih terawat dan semakin banyak dikenal masyarakat. Dulu mungkin belum banyak yang tahu manfaatnya mangrove. Tapi sekarang masyarakat mulai sadar kalau mangrove itu penting,” katanya.

Perhatian terhadap mangrove di Surabaya juga terlihat dari berkembangnya Kebun Raya Mangrove (KRM) di Gunung Anyar, Medokan Sawah dan Wonorejo. Kawasan ini memiliki luas sekitar 34 hektare dan dikembangkan untuk konservasi, pendidikan lingkungan, penelitian serta ekowisata.

Jumlah pengunjungnya pun tercatat cukup tinggi. Data Pemerintah Kota Surabaya mencatat KRM Gunung Anyar dan Wonorejo didatangi 86.021 orang sepanjang Januari hingga 21 Desember 2025.

Artinya, mangrove kini tidak lagi hanya dikenal oleh mereka yang berkepentingan dengan lingkungan. Masyarakat umum juga datang dan berinteraksi langsung dengan kawasan tersebut.

Di sinilah persoalan lain muncul.

Menjaga mangrove bukan sekadar menanam

Menjaga mangrove tidak berhenti setelah bibit ditanam.

Intania mengatakan perawatan dilakukan melalui penanaman, pemeliharaan serta menjaga kebersihan. Masyarakat juga dilibatkan.

Tetapi sampah masih menjadi tantangan.

Tantangannya itu biasanya sampah dan masih ada pengunjung yang kurang sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan,” ujar Intania.

Persoalan ini terdengar sederhana. Tidak membuang sampah dan menjaga kebersihan semestinya bukan hal yang sulit dilakukan.

Tetapi ketika kawasan mangrove makin ramai dikunjungi, kebiasaan kecil itu ikut menentukan kondisi lingkungan di dalamnya.

Ikan, kepiting dan hewan lainnya hidup di ekosistem tersebut. Karena itu, menjaga kebersihan bukan hanya soal membuat tempat wisata terlihat rapi.

Ada lingkungan yang harus tetap dijaga.

Ketika mangrove mulai ramai

Pengembangan mangrove sebagai ruang wisata dan edukasi membuat masyarakat bisa lebih dekat dengan lingkungan. Pengunjung dapat mengenal mangrove sekaligus melihat langsung bagaimana kawasan tersebut dirawat.

Di sisi lain, bertambahnya kunjungan juga membuat kebersihan menjadi perhatian.

Bagi Intania, pekerjaan di lapangan tetap bertumpu pada hal-hal yang mendasar: menanam dan merawat mangrove, menjaga kebersihan, serta melibatkan masyarakat.

Mangrove kini sudah lebih dikenal.

Tantangannya, kesadaran orang yang datang untuk ikut menjaga kebersihan masih perlu terus dibangun.(ra/hz)

Rahmah Keahlian: Ekonomi dan Bisnis ,news Update, gaya hidup : wisata dan fashion ,serta berita lokal dan nasional lokasi liputan : Kota Malang kota batu kota surabaya