Gen Z Mulai Melirik Gaya Hidup Digital Nomad, Kerja Bisa dari Mana Saja
SUARA3NEWS - Bekerja tidak selalu berarti datang ke kantor setiap pagi. Bagi sebagian anak muda, laptop bisa dibuka dari rumah, kafe, ruang kerja bersama, bahkan dari kota lain. Selama pekerjaan tetap berjalan dan koneksi internet tersedia, tempat kerja bisa berpindah.
Pola seperti ini dikenal sebagai digital nomad, yakni gaya hidup ketika seseorang bekerja secara daring sambil berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mobilitas bukan lagi sekadar bagian dari perjalanan, tetapi ikut menjadi bagian dari keseharian.
Perkembangan teknologi dan pekerjaan jarak jauh membuat pola tersebut semakin mungkin dilakukan. Penulis, desainer, programmer, pekerja pemasaran digital hingga sejumlah pekerja kreatif, misalnya, tidak selalu harus hadir secara fisik di kantor.
Tetapi pekerja remote dan digital nomad sebenarnya berbeda.
Pekerja remote bisa tetap tinggal di rumah dan bekerja untuk perusahaan yang berada di kota lain. Sementara digital nomad menjadikan perpindahan tempat sebagai bagian dari gaya hidup.
Seseorang bisa tinggal beberapa minggu di sebuah kota, bekerja dari sana, kemudian pindah lagi ke tempat lain tanpa harus meninggalkan pekerjaannya.
Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Analisis Mobilitas Tenaga Kerja Hasil Sakernas 2025 juga membahas mobilitas tenaga kerja, termasuk mobilitas temporer. Publikasi tersebut dirilis pada 27 Juli 2026. Mobilitas tenaga kerja, dengan demikian, tidak selalu berarti perpindahan secara permanen.
Fleksibilitas Jadi Pertimbangan
Bagi sebagian Gen Z, cara melihat pekerjaan juga mulai berubah. Gaji dan jabatan bukan lagi satu-satunya pertimbangan.
Kementerian Ketenagakerjaan melalui SENTA menyebut Gen Z juga mempertimbangkan makna pekerjaan, kendali atas kehidupan serta fleksibilitas dalam menjalani keseharian. Fleksibilitas kerja menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian ketika generasi ini masuk ke dunia kerja.
Bagi sebagian pekerja, kondisi tersebut membuka kemungkinan untuk tetap bekerja tanpa harus menetap di satu tempat.
Namun, gambaran digital nomad di media sosial sering terlihat lebih sederhana. Laptop terbuka dengan latar pantai, pegunungan atau kafe yang nyaman membuat bekerja sambil bepergian tampak seperti liburan panjang.
Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Rapat tetap harus diikuti. Tenggat pekerjaan tetap berjalan. Target juga tidak berubah hanya karena seseorang sedang berada di kota lain.
Penginapan, transportasi, makanan dan koneksi internet ikut masuk dalam hitungan. Belum lagi ketika waktu kerja mulai bercampur dengan waktu pribadi.
SENTA juga mencatat bahwa fleksibilitas tidak otomatis membuat keseimbangan kehidupan kerja menjadi lebih baik. Dalam penelitian terhadap 200 pekerja remote Milenial dan Gen Z di sektor teknologi digital yang dilakukan pada 2025, tuntutan pekerjaan disebut berpengaruh negatif terhadap work-life balance. Sebaliknya, fleksibilitas kerja, dukungan sosial dan efikasi diri membantu menjaga keseimbangan tersebut.
Jadi, bekerja dari mana saja tetap membutuhkan batas. Kalau tidak, pekerjaan bisa ikut terbawa ke waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat.
Penghasilan Tetap Jadi Penentu
Pilihan menjalani gaya hidup digital nomad juga tidak lepas dari kondisi keuangan.
Deloitte melalui 2026 Gen Z and Millennial Survey menemukan 55 persen Gen Z yang disurvei secara global mengatakan kondisi finansial membuat mereka menunda keputusan besar dalam hidup. Survei tersebut melibatkan 14.384 responden Gen Z dan 8.211 milenial dari 44 negara.
Temuan itu bukan gambaran khusus Gen Z Indonesia. Tetapi, hasil survei tersebut memperlihatkan bahwa persoalan finansial tetap menjadi pertimbangan penting ketika generasi muda mengambil keputusan besar dalam hidup.
Bagi pekerja dengan penghasilan relatif stabil dan pekerjaan yang bisa dilakukan secara remote, berpindah tempat mungkin lebih mudah dilakukan. Sebaliknya, bagi mereka yang pendapatannya belum pasti, gaya hidup tersebut justru bisa menambah pengeluaran.
Sebab, menjadi digital nomad bukan hanya soal membawa laptop lalu menentukan kota berikutnya.
Pekerjaan tetap harus selesai. Biaya hidup harus diperhitungkan. Koneksi internet harus aman. Waktu kerja juga perlu diatur agar tidak habis bercampur dengan waktu pribadi.
Teknologi memang membuat pilihan tempat bekerja semakin luas. Tetapi tuntutan pekerjaannya tetap ada, di mana pun seseorang berada.
Bagi sebagian anak muda, kantor mungkin tidak lagi selalu berarti satu gedung yang didatangi setiap pagi. Selama pekerjaan bisa diselesaikan dan tanggung jawab tetap dipenuhi, tempat kerja bisa saja berpindah.
Pada akhirnya, gaya hidup digital nomad bukan cuma soal bekerja sambil bepergian. Bagi sebagian Gen Z, pekerjaan tetap dijalankan, tetapi tempat untuk mengerjakannya tidak harus selalu sama.(ra/hz)

