Kuliner Street Food Viral di Kota Malang Jadi Gaya Hidup dan Destinasi Wisata Favorit

Jul 31, 2026 - 14:12
 0
Kuliner Street Food Viral di Kota Malang Jadi Gaya Hidup dan Destinasi Wisata Favorit
Suasana pengunjung berburu aneka jajanan UMKM saat Car Free Day (CFD) di kawasan Jalan Ijen, Kota Malang. Tren street food yang didukung kreativitas pelaku usaha dan pengaruh media sosial menjadikan wisata kuliner sebagai bagian dari gaya hidup sekaligus daya tarik bagi masyarakat dan wisatawan.(foto/Ist)

SUARA3NEWS – Aroma ayam krispi yang baru diangkat dari penggorengan berpadu dengan wangi bumbu tabur memenuhi sudut kawasan kuliner. Tak jauh dari sana, antrean pembeli mengular di depan gerai rice ball, jilok bakar, hingga thai tea yang tengah viral di media sosial. Pemandangan seperti ini kini bukan lagi hal baru. Di berbagai kota, termasuk Malang, berburu street food telah berubah dari sekadar mencari makan menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus aktivitas rekreasi.

Fenomena tersebut tampak jelas di berbagai sentra kuliner maupun kawasan Car Free Day (CFD) Ijen setiap Minggu pagi. Setelah berjalan kaki, berlari, atau bersepeda, banyak pengunjung melanjutkan aktivitas dengan menjelajahi deretan jajanan yang menawarkan cita rasa baru maupun makanan yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial.

Bagi Dipa, salah seorang penikmat kuliner, daya tarik street food bukan hanya terletak pada banyaknya pilihan menu, tetapi juga pengalaman yang ditawarkan.

Menurutnya, makanan yang sedang viral selalu berhasil memancing rasa penasaran masyarakat untuk mencoba.

"Kalau sekarang yang lagi tren itu ayam krispi bumbu tabur, jilok, rice ball, sushi sampai thai tea. Orang-orang suka karena unik dan viral. Begitu banyak yang review, kita jadi penasaran ingin mencoba," ujarnya.

Namun, viral bukan berarti segalanya. Ia menilai cita rasa tetap menjadi alasan utama seseorang kembali membeli makanan yang sama. Harga yang sesuai dengan kantong serta kebersihan tempat berjualan juga menjadi pertimbangan penting sebelum memutuskan membeli.

"Kalau rasanya enak pasti saya beli, meskipun harganya lebih mahal. Selain itu tempatnya juga harus bersih supaya nyaman," katanya.

Bagi Dipa, kawasan street food menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di restoran. Pengunjung bisa menikmati suasana ramai, berinteraksi langsung dengan pedagang, sekaligus mencicipi makanan khas yang menjadi identitas suatu daerah.

"Setiap daerah punya makanan khas. Orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga menikmati suasana dan pengalaman kulinernya," ungkapnya.

Pengalaman serupa dirasakan Kinan saat mengunjungi Car Free Day Ijen. Baginya, berburu kuliner telah menjadi bagian dari rutinitas akhir pekan setelah berolahraga.

"Karena di sini banyak pilihan makanan yang mungkin belum pernah kita coba. Jadi sekalian jalan pagi sambil cari sarapan," katanya.

Menurut Kinan, suasana yang sejuk, bebas kendaraan bermotor, dan banyaknya pilihan jajanan membuat CFD Ijen berkembang menjadi salah satu destinasi favorit warga maupun wisatawan saat akhir pekan.

"Kalau Minggu jalan ditutup jadi lebih nyaman. Banyak juga pendatang yang sengaja datang ke sini," ujarnya.

Meski demikian, ia berharap kawasan tersebut semakin dikembangkan dengan menghadirkan lebih banyak kegiatan sehingga pengalaman pengunjung menjadi semakin beragam.

"Menurut saya sudah menarik, tapi akan lebih baik kalau event-eventnya diperbanyak lagi," katanya.

Apa yang dirasakan Dipa dan Kinan mencerminkan perubahan perilaku konsumen dalam beberapa tahun terakhir. Di era media sosial, rekomendasi teman perlahan bergeser menjadi rekomendasi algoritma. Video berdurasi singkat di TikTok, Instagram Reels, maupun platform digital lainnya mampu membuat sebuah jajanan yang sebelumnya sepi mendadak dipenuhi pembeli hanya dalam hitungan hari. Tak heran jika banyak pelaku UMKM kini berlomba menghadirkan menu yang unik, mudah dikenali, dan menarik untuk dibagikan di media sosial.

Tren tersebut juga tercermin pada perkembangan industri makanan dan minuman nasional. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mencatat industri makanan dan minuman tumbuh 6,49 persen hingga kuartal III 2025, didorong meningkatnya konsumsi makanan praktis, layanan pesan-antar, serta semakin besarnya minat masyarakat terhadap produk kuliner yang memiliki nilai tambah dan mudah dipromosikan melalui platform digital.

Pemerintah pun melihat kuliner tidak lagi sebatas aktivitas konsumsi. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai festival maupun aktivitas kuliner telah berkembang menjadi ruang promosi, kolaborasi, sekaligus penggerak ekonomi kreatif yang mampu memperkuat daya saing pelaku UMKM dan menarik kunjungan wisatawan.

Perubahan pola konsumsi tersebut membuat persaingan bisnis kuliner semakin ketat. Pelaku usaha kini tidak cukup hanya menyajikan makanan yang lezat, tetapi juga dituntut menghadirkan tampilan yang menarik, pelayanan yang baik, harga yang kompetitif, hingga strategi promosi digital yang efektif.

Meski demikian, pengalaman para penikmat kuliner menunjukkan satu hal yang belum berubah. Media sosial memang mampu membuat sebuah jajanan mendadak viral dan dipadati pembeli. Namun setelah rasa penasaran itu terpuaskan, keputusan untuk kembali membeli tetap ditentukan oleh kualitas rasa, kebersihan, serta pengalaman yang dirasakan pelanggan. Pada akhirnya, makanan yang benar-benar berkualitas akan bertahan karena kepuasan konsumennya, bukan semata karena viral di linimasa.(ra/hz)

Rahmah Keahlian: Ekonomi dan Bisnis ,news Update, gaya hidup : wisata dan fashion ,serta berita lokal dan nasional lokasi liputan : Kota Malang kota batu kota surabaya