EMBA dan “Embong Bandulan” Ketika Nama Brand Jadi Polemik Informasi
SUARA3NEWS - Nama EMBA selama ini kerap dikaitkan dengan “Embong Bandulan”, nama kawasan di Kota Malang. Cerita itu bahkan pernah muncul dalam pemberitaan resmi Pemerintah Kota Malang pada 2024.
Kini muncul penjelasan berbeda dari perusahaan yang menaungi brand tersebut.
Dalam klarifikasi terbarunya, EMBA Group menyatakan EMBA bukan akronim dari Embong Bandulan. Menurut perusahaan, nama EMBA dipilih sebagai merek dagang ketika lini jeans dan pakaian kasual mereka diperkenalkan pada 1982.
Persoalannya, versi “Embong Bandulan” bukan sekadar cerita yang beredar dari mulut ke mulut. Dalam pemberitaan di situs resmi Pemkot Malang pada Juli 2024, EMBA disebut sebagai akronim dari Embong Bandulan. Penyebutan itu muncul dalam pernyataan Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat saat mengunjungi pabrik EMBA.
Dua informasi berbeda itu akhirnya bertemu pada satu pertanyaan: sebenarnya dari mana nama EMBA berasal?
Usaha Berawal di Malang, Merek EMBA Muncul Kemudian
Sejarah usahanya bermula pada 1968, ketika Bambang Herlambang dan Leonita Ikawati merintis usaha keluarga di Kota Malang.
Dari toko kain sederhana, usaha tersebut berkembang menjadi konveksi rumahan dengan tiga mesin jahit. Pada 1972, usaha itu kemudian berkembang menjadi CV Bambang Brothers Combination (BBC) yang memproduksi pakaian formal, seperti kemeja dan celana bahan.
Perubahan terjadi memasuki awal 1980-an ketika tren busana mulai bergerak ke pakaian kasual, termasuk jeans dan denim.
CV BBC kemudian meluncurkan lini jeans dan pakaian kasual pada 1982. Lini itulah yang diberi nama EMBA.
Menurut manajemen, nama EMBA dipilih karena mudah diucapkan, mudah diingat dan memiliki karakter modern. Perusahaan menyatakan nama tersebut tidak merujuk pada lokasi tertentu.
“EMBA dipilih sebagai nama brand melalui proses branding yang matang untuk pasar nasional. Ini bukan singkatan dari lokasi tertentu, melainkan identitas merek yang kami bangun dengan penuh dedikasi dan visi jangka panjang,” kata manajemen EMBA Group.
Tiga Tahun yang Perlu Dipisahkan
Kronologi tersebut membuat tiga tahun menjadi penting.
1968 merupakan awal usaha di Malang.
1982 menjadi tahun ketika merek EMBA diperkenalkan.
Sedangkan 1994 merupakan tahun ketika EMBA Group dibentuk untuk menaungi berbagai merek yang dikembangkan perusahaan.
Pemisahan ini penting karena sejarah perusahaan dan sejarah mereknya tidak dimulai pada waktu yang sama.
Setelah EMBA berkembang, produk perusahaan kemudian merambah sejumlah segmen, dari fashion pria dan wanita hingga anak-anak.
Namun, perkembangan bisnis tersebut bukan inti persoalan yang muncul sekarang. Yang dipersoalkan adalah asal nama EMBA.
Dua Versi yang Pernah Muncul di Ruang Publik
Versi “Embong Bandulan” sudah telanjur terdokumentasi. Salah satunya tercatat dalam pemberitaan resmi Pemkot Malang pada 2024.
Sementara itu, EMBA Group kini memberikan penjelasan berbeda. Perusahaan menyatakan nama EMBA diperkenalkan pada 1982 sebagai identitas merek dan bukan kependekan dari nama kawasan di Malang.
Dengan kata lain, yang sedang berhadapan bukan sejarah berdirinya usaha, melainkan dua penjelasan mengenai asal nama sebuah brand.
Usaha yang menjadi cikal bakal EMBA memang bermula di Malang pada 1968. Merek EMBA baru diperkenalkan pada 1982, sedangkan EMBA Group dibentuk pada 1994.
Di sinilah konteks menjadi penting. Pengulangan sebuah informasi dapat membuatnya terlihat sebagai fakta yang sudah mapan, terlebih ketika informasi tersebut pernah muncul dalam kanal resmi.
Dalam kasus EMBA, satu versi sudah pernah tercatat di ruang publik. Kini perusahaan menyampaikan versi yang berbeda dan meminta informasi mengenai sejarah mereknya merujuk pada sumber resmi perusahaan.
Untuk saat ini, posisi perusahaan jelas: nama EMBA yang diperkenalkan pada 1982 bukan singkatan dari “Embong Bandulan”. Sementara penyebutan berbeda masih tercatat dalam pemberitaan Pemkot Malang pada 2024.(hz/*)

