Indonesia Darurat Sampah Plastik, Mengapa Masih Sulit Dikurangi?
SUARA3NEWS – Kantong plastik masih berpindah tangan di pasar, minimarket, hingga pusat perbelanjaan hampir setiap hari. Kampanye pengurangan plastik sekali pakai memang terus digencarkan, tempat sampah terpilah mulai tersedia di sejumlah ruang publik, dan ajakan membawa tas belanja sendiri semakin sering disuarakan. Namun di lapangan, kebiasaan masyarakat belum banyak berubah.
Kenyataan itu tergambar dari hasil wawancara Suara3News dengan tiga narasumber dari latar belakang berbeda. Semuanya memahami bahaya sampah plastik bagi lingkungan. Namun mereka juga sepakat, membangun kesadaran jauh lebih mudah dibanding mengubah kebiasaan.
Bagi Mauliana, seorang ibu rumah tangga, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai bukan sekadar mengikuti gaya hidup ramah lingkungan. Ia menyadari limbah plastik membutuhkan waktu lama untuk terurai sehingga harus dikurangi sejak dari sumbernya. Karena itu, setiap kali berbelanja ke pasar maupun minimarket, ia membiasakan membawa tas belanja sendiri.
Perubahan kecil itu, menurut Mauliana, mulai diikuti sebagian warga di lingkungan tempat tinggalnya. Meski belum menjadi kebiasaan semua orang, semakin banyak ibu-ibu yang memilih membawa tas belanja daripada menerima kantong plastik setiap kali berbelanja.
Kebiasaan serupa dilakukan Septia Angsti, seorang pegawai swasta. Hampir setiap hari ia membawa tumbler sendiri untuk mengurangi penggunaan botol minuman sekali pakai. Saat membeli makanan, ia lebih memilih makan di tempat agar tidak menambah limbah kemasan plastik.
Komitmen itu juga ia terapkan ketika mendaki gunung. Sampah yang dibawanya tidak pernah ditinggalkan, melainkan dibawa turun kembali hingga menemukan tempat pembuangan yang semestinya. Menurut Septia, menjaga lingkungan bukan pekerjaan yang dilakukan sesekali, tetapi kebiasaan yang harus dibangun setiap hari.
Ironisnya, ia menilai persoalan utama saat ini bukan lagi kurangnya informasi mengenai bahaya sampah plastik. Edukasi sudah banyak dilakukan, tetapi belum semua orang mau mengubah kebiasaan. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan dengan cara yang santun ketika melihat ada yang masih membuang sampah sembarangan.
Hal yang sama dirasakan Vina, warga Surabaya. Menurutnya, sampah plastik masih mudah dijumpai di saluran air maupun ruang-ruang publik. Kondisi itu bukan hanya mengganggu kebersihan lingkungan, tetapi juga berpotensi memicu banjir akibat saluran yang tersumbat.
Sebagai langkah sederhana, Vina memilih menggunakan kantong kain saat berbelanja agar bisa dipakai berulang kali. Ia juga menilai persoalan terbesar saat ini bukan lagi soal fasilitas. Tempat pemilahan sampah mulai tersedia di sejumlah lokasi, tetapi kesadaran masyarakat untuk memilah dan membuang sampah sesuai jenisnya masih tergolong rendah.
Cerita dari ketiga narasumber tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan sebenarnya mulai tumbuh. Sayangnya, perubahan itu masih berjalan sendiri-sendiri dan belum menjadi kebiasaan bersama. Akibatnya, penggunaan plastik sekali pakai masih tetap menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat.
Padahal, langkah sederhana seperti membawa tas belanja sendiri, menggunakan tumbler, memilah sampah rumah tangga, hingga membuang sampah pada tempatnya dapat memberi dampak besar jika dilakukan secara konsisten oleh lebih banyak orang.
Pada akhirnya, persoalan sampah plastik bukan semata tentang banyaknya limbah yang dihasilkan setiap hari. Persoalan terbesar justru terletak pada kemauan untuk mengubah kebiasaan. Selama perubahan itu masih bergantung pada kesadaran segelintir individu, tumpukan sampah plastik akan terus bertambah. Namun ketika kepedulian tumbuh menjadi budaya bersama, harapan menghadirkan lingkungan yang lebih bersih bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan sesuatu yang bisa diwujudkan.(ra/hz)

