Vila di Malang Laris Manis Saat Libur Sekolah, Ternyata Bukan Sekadar Tempat Menginap
SUARA3NEWS – Ada yang berbeda pada musim libur sekolah tahun ini. Vila-vila di Malang bukan hanya dipadati tamu, tetapi juga semakin banyak dipilih sebagai tempat berkumpul keluarga maupun komunitas. Dampaknya, tingkat hunian sejumlah vila bahkan menembus sekitar 90 persen.
Andre, perwakilan salah satu agensi pengelola vila, melihat lonjakan itu hampir terjadi di seluruh unit yang dikelolanya. Selama musim libur sekolah, sebagian besar vila nyaris tak menyisakan kamar kosong. Dibandingkan bulan sebelumnya, jumlah pemesanan meningkat hampir dua kali lipat.
"Untuk minggu ini vila-vila sudah sekitar 90 persen penuh. Dibanding bulan lalu peningkatannya hampir dua kali lipat," ujarnya.
Soal pilihan vila, tamu rupanya masih sangat mempertimbangkan anggaran. Meski begitu, mereka tetap berharap mendapatkan fasilitas yang lengkap, terutama kolam renang dan meja biliar.
"Yang paling banyak dicari vila dengan fasilitas lengkap, tapi tetap sesuai budget. Kalau soal desain estetik justru tidak terlalu menjadi prioritas," kata Andre.
Suasana ramai juga dirasakan Afrida yang sehari-hari melayani pemesanan vila. Baginya, musim libur sekolah kali ini terasa lebih sibuk dibanding libur Lebaran. Jika saat Lebaran banyak orang memilih pulang kampung, libur sekolah justru dimanfaatkan untuk berlibur bersama keluarga.
Kebanyakan tamu mencari vila dengan dua hingga tiga kamar. Selain kolam renang, mereka juga kerap menanyakan fasilitas ramah anak, mulai dari kolam khusus anak hingga area bermain. Bahkan, tak sedikit yang meminta vila dengan akses lebih mudah untuk anggota keluarga lanjut usia.
"Kalau ada tamu yang membawa orang tua menggunakan kursi roda, kami usahakan mencarikan vila yang aksesnya lebih mudah, seperti minim anak tangga dan memiliki kamar di lantai bawah," jelasnya.
Di balik ramainya pemesanan, ada tantangan lain yang cukup sering dihadapi admin. Tidak sedikit calon tamu menginginkan fasilitas vila premium, tetapi tetap berharap mendapat harga yang jauh lebih murah.
"Biasanya kami edukasi dulu. Kalau fasilitas yang diinginkan memang di luar budget, pilihannya menyesuaikan kebutuhan atau menambah anggaran," ungkap Afrida.
Pengalaman berbeda datang dari Rani, wisatawan asal Kalimantan Timur yang kini menempuh pendidikan di Surabaya. Bersama teman-temannya, ia sengaja memilih vila karena suasananya terasa lebih leluasa dibanding hotel.
Baginya, vila memberi ruang untuk berkumpul tanpa dibatasi area seperti di hotel. Mereka bisa berdiskusi, menonton bersama, berenang hingga menggelar acara barbecue dalam satu tempat.
"Kalau di vila kami bisa ngobrol, nonton, berenang sampai BBQ bersama. Tempatnya lebih mendukung untuk bonding," tuturnya.
Selain suasana yang hangat, kelengkapan fasilitas juga menjadi alasan Rani merasa puas selama menginap. Menurutnya, pelayanan yang diberikan sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, meski saat itu sedang memasuki musim liburan.
"So far pelayanannya bagus, fasilitasnya lengkap dan menurut saya harganya masih worth it meski sedang high season," katanya.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan cara masyarakat menikmati liburan. Vila tak lagi dipilih sekadar sebagai tempat bermalam, tetapi juga menjadi ruang untuk berkumpul, berbagi waktu, dan menciptakan momen bersama keluarga maupun komunitas.(ra/hz)

