Bediding Selimuti Malang Raya, Suhu Dini Hari Turun hingga 17 Derajat Celsius
SUARA3NEWS - Udara dingin mulai terasa di sejumlah wilayah Malang Raya seiring masuknya musim kemarau. Fenomena yang dikenal masyarakat sebagai bediding itu membuat suhu udara pada malam hingga dini hari turun lebih rendah dibandingkan hari-hari biasa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, bediding merupakan fenomena musiman yang umum terjadi saat musim kemarau, terutama di wilayah Jawa Timur.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Linda Fitrotul, mengatakan fenomena tersebut dipengaruhi aktifnya angin monsun timur yang membawa massa udara kering dan relatif dingin dari Australia menuju Indonesia, termasuk Jawa Timur.
“Selain dipengaruhi angin monsun timur, minimnya tutupan awan pada malam hari menyebabkan panas dari permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer sehingga suhu udara menjadi lebih dingin,” ujarnya.
Berdasarkan data pengamatan BMKG, suhu udara di Malang Raya selama fenomena bediding berlangsung tercatat berada pada kisaran 17 hingga 18 derajat Celsius saat dini hari.
Sementara itu, suhu udara pada malam hari berkisar 20 hingga 21 derajat Celsius. Memasuki pagi hari sekitar pukul 07.30 WIB, suhu berada pada rentang 22 hingga 25 derajat Celsius, sebelum kembali meningkat menjadi 27 hingga 29 derajat Celsius pada siang hari.
Perbedaan suhu yang cukup mencolok antara dini hari dan siang hari menjadi salah satu ciri khas fenomena bediding saat musim kemarau berlangsung.
Menurut BMKG, kondisi ini diperkirakan masih akan terjadi selama periode musim kemarau. Masyarakat di Malang Raya diimbau menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca yang lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari.
Fenomena bediding sendiri bukan hal baru bagi masyarakat Malang Raya. Hampir setiap musim kemarau, suhu udara di wilayah tersebut cenderung menurun akibat dominasi massa udara kering serta berkurangnya tutupan awan pada malam hari.(ra/hz)

