Wacana Prodi Ditutup Menguat, 168 Ribu Mahasiswa di Malang Terancam Terdampak
SUARA3NEWS - Masa depan ribuan mahasiswa di Kota Malang ikut jadi sorotan. Saat pemerintah mulai mendorong evaluasi besar-besaran terhadap program studi yang dinilai tak lagi relevan, sekitar 168 ribu mahasiswa di kota pendidikan ini berpotensi terkena imbasnya. Bukan cuma soal kampus, tapi juga soal arah masa depan para mahasiswa.
Wacana penataan program studi (prodi) yang dianggap sudah tidak sesuai kebutuhan zaman kini makin serius dibahas. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menegaskan, langkah ini bukan penutupan massal, melainkan bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap kualitas serta relevansi pendidikan tinggi.
Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, menyebut evaluasi tersebut berkaitan dengan kebutuhan mendorong delapan sektor industri strategis nasional. Mulai dari kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi, hilirisasi, pertahanan, material maju dan manufaktur, energi, hingga maritim.
“Delapan industri strategis ini perlu tumbuh di atas 12 sampai 15 persen,” ujarnya dalam Simposium Nasional Kependudukan 2026.
Artinya, perguruan tinggi juga dituntut bergerak lebih cepat menyesuaikan kebutuhan masa depan. Termasuk meninjau ulang prodi yang peminatnya rendah, kualitasnya stagnan, atau tak lagi selaras dengan kebutuhan dunia kerja.
Malang Bisa Jadi Salah Satu Daerah Paling Terdampak
Bagi Kota Malang, isu ini jelas bukan perkara kecil. Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat sedikitnya 427 program studi di 10 perguruan tinggi, dengan total sekitar 168.623 mahasiswa. Jumlah itu masih bisa bertambah karena belum semua kampus membuka data lengkap secara rinci.
Selama ini Malang dikenal sebagai salah satu kota pendidikan terbesar di Indonesia. Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah datang setiap tahun untuk kuliah di kota ini.
Kampus besar seperti Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, hingga Universitas Muhammadiyah Malang menjadi penopang utama besarnya ekosistem pendidikan tinggi di wilayah tersebut.
Banyaknya pilihan jurusan selama ini menjadi kekuatan Malang sebagai kota mahasiswa. Namun di sisi lain, jumlah prodi yang besar juga membuka kemungkinan adanya jurusan dengan peminat minim, kualitas menurun, atau sudah tak sejalan dengan kebutuhan industri saat ini.
Jika masuk daftar evaluasi, prodi-prodi seperti itu bisa terkena penataan ulang, merger, hingga penghentian penerimaan mahasiswa baru.
BACA JUGA :
- Biaya Hidup di Malang Sudah Naik Duluan, Anak Kost makin Terjepit
- 3 Menu Anak Kost Super Hemat yang Bikin Kenyang Tanpa Boros
Akademisi Ingatkan Jangan Asal Tutup
Akademisi Universitas Brawijaya, H. Ainur Rofiq, menilai evaluasi prodi memang penting dilakukan secara berkala agar kualitas lulusan tetap terjaga.
Menurutnya, yang paling penting bukan sekadar menutup atau mempertahankan jurusan, melainkan memastikan kurikulum benar-benar relevan. Salah satunya lewat penguatan sistem Outcome-Based Education (OBE) agar lulusan punya kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.
Sementara itu, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, Cecep Darmawan, menyoroti pentingnya kebijakan pendidikan berbasis data. Menurut dia, hasil tes akademik dan indikator mutu lain perlu dipakai sebagai dasar memetakan kualitas pembelajaran secara objektif.
Mahasiswa Mulai Cemas, Nasib Kuliah Jadi Pertanyaan
Di tengah wacana ini, kekhawatiran mulai terasa di kalangan mahasiswa. Banyak yang mulai bertanya-tanya: bagaimana nasib mahasiswa aktif jika prodi mereka masuk daftar evaluasi?
Pertanyaan soal kelanjutan kuliah, status ijazah, perpindahan program studi, hingga peluang kerja setelah lulus mulai ramai dibicarakan.
Kekhawatiran itu wajar. Sebab bagi mahasiswa, memilih jurusan bukan keputusan kecil. Ada biaya, waktu, tenaga, dan harapan keluarga yang ikut dipertaruhkan.
Malang Sedang Hadapi Titik Perubahan
Dengan ratusan program studi dan ratusan ribu mahasiswa, Malang kini sedang menghadapi momen penting. Kebijakan ini akan menguji seberapa siap kampus berbenah, sekaligus menentukan seberapa aman masa depan mahasiswa di kota pendidikan ini.(ra/hz)

