“Festival Nyusu Bareng 2026” di Brau, Saat Komoditas Menjadi Daya Tarik Wisata

Oct 2, 2026 - 15:37
 0
“Festival Nyusu Bareng 2026” di Brau, Saat Komoditas Menjadi Daya Tarik Wisata
Ilustrasi aktivitas warga dalam kegiatan festival susu di Dusun Brau, Kota Batu. Festival Nyusu Bareng 2026 dijadwalkan berlangsung Oktober 2026.(foto; dok Ist)

SUARA3NEWS – Di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, susu bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul ketika kawasan ini mulai dikembangkan sebagai tujuan wisata. Susu sudah lama menjadi bagian dari kehidupan warga.

Aktivitas peternakan berjalan bersama keseharian masyarakat. Dari kandang warga, susu dihasilkan, diolah, lalu berkembang menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi.

Kini, hasil dari aktivitas yang sudah lama dijalani warga itu mulai dikenalkan dari sisi lain: sebagai pengalaman yang bisa dinikmati wisatawan.

Gagasan tersebut akan diperkenalkan melalui Festival Nyusu Bareng 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 4 Oktober 2026 di Dusun Brau.

Ketika susu tidak lagi sekadar komoditas

Brau selama ini dikenal sebagai salah satu sentra peternakan sapi perah di Kota Batu. Bagi warga, memelihara sapi dan menghasilkan susu bukan sekadar aktivitas ekonomi. Kegiatan itu sudah menyatu dengan kehidupan sehari-hari.

Bahkan, populasi sapi perah di Dusun Brau disebut lebih banyak dibandingkan jumlah penduduknya.

Susu yang dihasilkan dari peternakan warga kemudian tidak berhenti sebagai komoditas yang dijual.

Potensinya mulai dikembangkan menjadi pengalaman yang dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh wisatawan.

Pengunjung dapat mengenal aktivitas peternak, termasuk melihat proses pemerahan susu dan mengetahui bagaimana susu segar diolah.

Dari proses tersebut lahir berbagai produk turunan seperti keju, stik susu, permen susu dan yogurt. Produk-produk itu menjadi bagian dari potensi ekonomi yang berkembang di kawasan wisata susu Brau.

Yang ditawarkan bukan hanya pemandangan

Konsep wisata di Brau membawa pengunjung lebih dekat dengan kehidupan warga.

Salah satunya melalui konsep live-in. Wisatawan dapat tinggal di rumah warga selama beberapa hari dan mengikuti aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan peternak.

Mulai dari belajar memerah sapi, melihat proses pengolahan susu hingga merasakan suasana kehidupan masyarakat di kawasan Bumiaji.

Dengan konsep itu, kunjungan ke Brau tidak berhenti pada melihat pemandangan atau mengambil gambar.

Ada kehidupan warga yang ikut menjadi bagian dari perjalanan.

Rumah warga, aktivitas peternakan, produk olahan susu dan UMKM kemudian berada dalam satu rangkaian yang dapat ditawarkan kepada pengunjung.

Di sinilah susu mulai mendapat fungsi baru. Bukan hanya hasil peternakan, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata yang dibangun dari kehidupan masyarakat setempat.

Festival Nyusu Bareng 2026 menjadi pintu masuk

Festival Nyusu Bareng 2026 dijadwalkan berlangsung pada 4 Oktober 2026, mulai sekitar pukul 07.30 WIB.

Rangkaian kegiatan mencakup senam bersama, peluncuran kegiatan minum susu bersama, bazaar UMKM serta pertunjukan seni dan musik.

Penggerak pariwisata dan tour leader dari sejumlah wilayah di Jawa dan Bali juga dijadwalkan terlibat.

Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi wisata Brau dan paket wisata yang sedang dikembangkan kepada pasar yang lebih luas.

Termasuk di dalamnya produk olahan susu dan aktivitas yang berkaitan langsung dengan kehidupan peternak.

Bukan soal satu hari ramai

Di balik sebuah festival, ada pertanyaan yang lebih panjang: apa yang terjadi setelah acara selesai?

Sebuah festival bisa membuat suatu tempat ramai dalam satu hari. Namun, menjadikan Brau sebagai tujuan wisata membutuhkan alasan bagi orang untuk datang ketika rangkaian acara sudah berakhir.

Konsep live-in, pengalaman memerah sapi, proses pengolahan susu, produk UMKM dan kehidupan peternak menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Dengan begitu, wisatawan tetap memiliki alasan untuk datang ketika Festival Nyusu Bareng sudah selesai. Ada pengalaman yang bisa dicari pada hari-hari biasa.

Di titik ini, susu mulai membawa cerita yang lebih panjang.

Ada peternak yang merawat sapi. Ada warga yang mengolah hasilnya. Ada produk yang dijual dan ada pengalaman yang kemudian ditawarkan kepada wisatawan.

Rangkaian tersebut membuka peluang agar aktivitas ekonomi tidak berhenti pada penjualan susu sebagai komoditas.

Dari kehidupan warga menjadi cerita wisata

Brau tidak harus menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru untuk menjadi destinasi wisata.

Yang mereka miliki sudah ada dalam kehidupan sehari-hari.

Sapi perah, susu, aktivitas peternak, produk olahan dan kehidupan warga merupakan bagian dari keseharian masyarakat setempat. Tantangannya adalah bagaimana semua itu dikemas tanpa kehilangan cerita aslinya.

Festival Nyusu Bareng 2026 menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan gagasan tersebut.

Bukan sekadar mengajak orang datang dan minum susu bersama, tetapi memperlihatkan bagaimana sesuatu yang selama ini menopang kehidupan warga mulai memiliki nilai lain ketika dilihat dari sisi pariwisata.

Dari Dusun Brau, ceritanya tetap berawal dari hal yang sederhana: warga, sapi perah, dan susu yang mereka hasilkan setiap hari.(red/*)