Lulusan Siap Kerja, tetapi Harus ke Luar Negeri? Berapa Gajinya?

Oct 28, 2026 - 14:01
 0
Lulusan Siap Kerja, tetapi Harus ke Luar Negeri? Berapa Gajinya?
Ilustrasi wisudawan wisudawati disebuah perguruan tinggi di kota Malang yang bersiap memasuki dunia kerja. (Foto: Ist)

SUARA3NEWS – Sebanyak 10 alumni Universitas Kepanjen, Kabupaten Malang, sedang dipersiapkan untuk bekerja di Arab Saudi, Rusia, dan Jepang. Mereka merupakan bagian dari 313 wisudawan yang dilepas kampus pada 21 Oktober 2026.

Peluang kerja ke luar negeri ini muncul di tengah persaingan mencari pekerjaan di dalam negeri. Apalagi, penghasilan tenaga kesehatan di sejumlah negara tujuan disebut bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

Berapa kisaran gajinya? Dan bagaimana jika dibandingkan dengan peluang kerja di Indonesia?

Lulusan Universitas Juga Masih Menghadapi Persaingan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia pada Mei 2026 sebesar 4,65 persen. Pada periode yang sama, rata-rata upah buruh tercatat Rp3,39 juta per bulan.

Pengangguran juga mencakup lulusan perguruan tinggi. Pada Februari 2025, jumlah penganggur berpendidikan universitas mencapai sekitar 1,01 juta orang. Pada Agustus 2025, jumlahnya turun menjadi sekitar 904 ribu orang.

Angka itu bukan jumlah lulusan baru yang belum mendapat pekerjaan. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa gelar sarjana tidak otomatis membuat seseorang langsung terserap di dunia kerja.

Di Kabupaten Malang, TPT pada 2025 tercatat sebesar 5 persen. Angka ini menggambarkan kondisi ketenagakerjaan daerah secara umum, bukan khusus lulusan perguruan tinggi.

Gaji Luar Negeri Bisa Puluhan Juta Rupiah

Rektor Universitas Kepanjen, Tri Nurhudi Sasono, menyebut penghasilan tenaga kesehatan atau pendamping perawat di Jepang bisa mencapai Rp25 juta hingga Rp28 juta per bulan. Untuk kawasan Timur Tengah, kisarannya disebut Rp18 juta hingga Rp20 juta per bulan.

Angka tersebut merupakan kisaran yang disampaikan rektor, bukan gaji yang dipastikan akan diterima setiap alumni.

Jenis pekerjaan juga berpengaruh. Di Jepang, lulusan bisa memulai dari posisi asisten perawat. Perkembangan karier selanjutnya bergantung pada pengalaman, kompetensi, dan persyaratan yang berlaku.

Sebagai gambaran, rata-rata upah buruh di Indonesia sebesar Rp3,39 juta per bulan pada Mei 2026. Angka nasional ini bukan gaji khusus lulusan sarjana atau tenaga kesehatan, sehingga tidak bisa langsung dibandingkan dengan gaji di luar negeri.

Besarnya nominal memang menarik. Namun, calon pekerja tetap perlu memperhitungkan biaya keberangkatan, potongan gaji, dan biaya hidup di negara tujuan.

Sepuluh Alumni Bersiap ke Tiga Negara

Dari 10 alumni yang dipersiapkan bekerja ke luar negeri, empat merupakan lulusan S1 Keperawatan yang diarahkan ke Arab Saudi. Lima lulusan S1 Administrasi Rumah Sakit dipersiapkan ke Rusia, sedangkan satu lulusan D3 Keperawatan menuju Jepang.

Menurut informasi yang dipublikasikan kampus, para alumni telah menjalani proses wawancara dan sedang menyiapkan tahapan keberangkatan. Sebagian disebut telah menerima Letter of Employment (LoE).

Mereka masih dalam proses persiapan. Informasi yang tersedia belum merinci status akhir kontrak dan jadwal keberangkatan masing-masing alumni.

Kampus juga menyebut telah menjalin hubungan dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), BP3MI Jawa Timur, dan sejumlah mitra penempatan. Bantuan biaya awal untuk kebutuhan seperti paspor, visa, dan persiapan keberangkatan turut dijajaki.

Peluang kerja di dalam negeri juga ada. Sejumlah alumni disebut telah diterima di fasilitas kesehatan, antara lain RS Al-Basyiroh dan Mitra Delima di Kabupaten Malang. Namun, belum ada rincian lengkap mengenai jumlah seluruh wisudawan yang sudah bekerja.

Peluang di Dalam Negeri Tetap Jadi Pertimbangan

Bekerja ke luar negeri bisa menjadi pilihan bagi lulusan yang memenuhi persyaratan dan siap menjalani proses penempatan. Namun, kisaran gaji yang besar belum tentu menggambarkan seluruh kondisi pekerjaan.

Kepastian posisi, isi kontrak, biaya yang harus dikeluarkan, dan penghasilan bersih tetap perlu diperhitungkan sebelum memutuskan berangkat.

Dari 313 wisudawan Universitas Kepanjen, 10 alumni sedang dipersiapkan menuju tiga negara. Berapa banyak lulusan lainnya yang sudah bekerja di dalam negeri maupun luar negeri belum dirinci dalam informasi yang tersedia.(hz/*)

Helmy Zulkarnain Wartawan / redaktur Suara3News Helmy Zulkarnain adalah wartawan Suara3News yang aktif menulis berita nasional, gaya hidup sosial budaya dan teknologi. Ia juga terlibat dalam peliputan berbagai peristiwa publik Bidang liputan: Pemerintahan & Hukum, Nasional, Sosial Budaya wilayah liputan: Malang Raya, Nasional