Lontar Sewu Berawal dari Tempat Sampah Liar, Kini Gerakkan Ekonomi Warga

Sep 25, 2026 - 16:44
 0
Lontar Sewu Berawal dari Tempat Sampah Liar, Kini Gerakkan Ekonomi Warga
Wisata Edukasi Lontar Sewu di Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, yang berkembang dari pengelolaan sampah hingga menjadi unit usaha BUMDes dan menggerakkan ekonomi masyarakat.(foto:suara3news)

SUARA3NEWS - Lontar Sewu kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata di Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Namun, kawasan yang ramai didatangi wisatawan itu tidak dibangun sejak awal sebagai tempat wisata.

Sebelum berkembang menjadi Wisata Edukasi Lontar Sewu, lokasi tersebut justru merupakan tempat pembuangan sampah liar.

Dari persoalan lingkungan itu kemudian dibentuk BUMDes yang awalnya fokus menangani sampah, sebelum berkembang membuka unit usaha wisata. Bagi pengelolanya, kehadiran Lontar Sewu bukan sekadar menghadirkan tempat rekreasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menggerakkan ekonomi desa.

Direktur BUMDes Lontar Sewu, Aristoteles, mengatakan BUMDes tersebut berdiri pada Desember 2019. Saat itu, persoalan sampah menjadi perhatian karena masih banyak sampah yang dibuang tidak pada tempatnya.

“Bahkan di lokasi ini dulu adalah tempat pembuangan sampah liar,” kata Aristoteles.

Unit usaha pertama yang dibangun adalah Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPST 3R). Pengelolaannya dilakukan dengan bersinergi bersama masyarakat.

Pengelolaan sampah tersebut kemudian mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Pada akhir 2019, BUMDes Lontar Sewu mendapat pembinaan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Gresik untuk membuat proposal ke Kementerian Desa.

Hasilnya, pada 9 Februari 2020, BUMDes Lontar Sewu memperoleh bantuan melalui program PIID-PEL (Pilot Inkubasi Inovasi Desa Pemberdayaan Ekonomi Lokal) dari Kementerian Desa sebesar Rp1,3 miliar.

Bantuan tersebut kemudian digunakan untuk membentuk unit usaha kedua, yakni Wisata Edukasi Lontar Sewu.

Wisata Dibangun untuk Menggerakkan Ekonomi Warga

Sejak awal, pengembangan wisata diarahkan untuk memberi manfaat kepada masyarakat desa.

Aristoteles mengatakan visi BUMDes Lontar Sewu adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus meningkatkan ekonomi desa dan masyarakat.

Karena itu, keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam pengelolaan wisata. Aristoteles menyebut pegawai Lontar Sewu berasal dari Desa Hendrosari. Begitu pula pelaku IKM yang terlibat di dalamnya.

“Ekonomi masyarakat berjalan, itulah yang dinikmati oleh kebersamaan masyarakat desa,” ujarnya.

Dampak tersebut juga dirasakan warga. Ayu Sapila, warga Hendrosari, mengatakan keberadaan Lontar Sewu memberi kesempatan bagi masyarakat untuk berjualan sekaligus membuat desa lebih ramai didatangi orang dari luar.

Menurut Ayu, warga yang berjualan makanan, minuman maupun barang lainnya bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Kondisi itu terutama terasa ketika pengunjung ramai pada akhir pekan dan masa liburan sekolah.

Bagi warga sekitar, aktivitas wisata membuka ruang usaha yang sebelumnya tidak ada.

Justru Berhasil Saat Pandemi dan PPKM

Perjalanan Lontar Sewu sempat menghadapi hambatan besar ketika pandemi Covid-19 melanda.

Aristoteles mengatakan setelah wisata dibuka, kegiatan tersebut hanya berjalan sekitar dua minggu sebelum harus ditutup karena pandemi.

Kondisi itu ikut mengguncang perekonomian. Para karyawan sempat dirumahkan dan menurut Aristoteles, saat itu hanya petugas keamanan yang tetap bertugas.

Lontar Sewu kemudian kembali diperbolehkan beroperasi setelah mendapat pembinaan dari Dinas Pariwisata pada masa PPKM. Pengelola menerapkan protokol kesehatan dan membatasi jumlah pengunjung.

Dari kapasitas sekitar 2.000 orang, pengunjung yang diperbolehkan masuk dibatasi sekitar 1.000 orang. Arus masuk juga dilakukan bertahap, sekitar 100 orang dalam satu gelombang.

Di tengah pembatasan tersebut, Aristoteles justru menyebut 2021 sebagai masa puncak kejayaan Lontar Sewu. Pada periode itu, BUMDes mampu menghasilkan keuntungan yang kemudian memberikan kontribusi kepada desa dan masyarakat.

Menurut Aristoteles, keuntungan BUMDes dibagi dengan komposisi 50 persen untuk pengembangan wisata, 30 persen diberikan kepada desa, dan 20 persen dibagikan kepada masyarakat melalui program sosial.

Alokasi 30 persen untuk desa tersebut, kata Aristoteles, mencapai Rp1,1 miliar.

Dana itu digunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur desa, termasuk jalan dan penerangan.

Sementara bagian 20 persen untuk masyarakat disalurkan melalui berbagai program sosial. Aristoteles mencontohkan bantuan bagi warga yang meninggal dunia, pendidikan TK dan PAUD, serta santunan yatim piatu.

Lontar Sewu Mulai Fokus Kembangkan Outbound

Pengembangan Lontar Sewu kini tidak hanya berkutat pada kunjungan wisata biasa.

Aristoteles mengatakan pengelola sedang berfokus mengembangkan kegiatan outbound. Program tersebut mulai menarik peserta dari sejumlah daerah di Jawa Timur.

Ia menyebut peserta outbound datang dari Surabaya, Lamongan dan Mojokerto, sementara yang paling jauh berasal dari Bojonegoro.

Kunjungan paling ramai ke Lontar Sewu, menurut Aristoteles, biasanya terjadi pada akhir pekan atau hari-hari besar.

Warga Minta Fasilitas dan Kebersihan Terus Dijaga

Di tengah perkembangan wisata, warga sekitar melihat masih ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan.

Ayu mengatakan fasilitas Lontar Sewu perlu terus diperbaiki. Kebersihan juga harus dijaga, sedangkan promosi perlu ditingkatkan agar semakin banyak masyarakat mengetahui dan tertarik datang.

Bagi warga, semakin ramai Lontar Sewu berarti semakin terbuka pula kesempatan untuk berjualan dan mendapatkan tambahan penghasilan.

Dari Persoalan Sampah Menjadi Usaha Desa

Lontar Sewu membawa cerita yang berbeda dari sekadar destinasi wisata.

Tempat yang dahulu menjadi lokasi pembuangan sampah liar itu kemudian berkembang melalui BUMDes, dimulai dari pengelolaan sampah melalui TPST 3R hingga membentuk unit Wisata Edukasi Lontar Sewu setelah mendapat dukungan PIID-PEL.

Dari sana, wisata berkembang menjadi kegiatan usaha yang melibatkan masyarakat setempat. Warga mendapat ruang berjualan, pegawai dan pelaku IKM berasal dari desa, sementara sebagian keuntungan BUMDes dialokasikan untuk pengembangan wisata, desa dan program sosial masyarakat.

Kini, pengelola mulai memperluas aktivitas melalui outbound dan mendatangkan peserta dari berbagai daerah.

Bagi Desa Hendrosari, perjalanan Lontar Sewu menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat berkembang menjadi usaha desa yang ikut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.(ra/hz)

Rahmah Keahlian: Ekonomi dan Bisnis ,news Update, gaya hidup : wisata dan fashion ,serta berita lokal dan nasional lokasi liputan : Kota Malang kota batu kota surabaya