Trans Jatim Koridor II Malang-Kepanjen Segera Beroperasi, Ini yang Sudah Siap dan Masih Belum Pasti
SUARA3NEWS– Warga Malang Raya sebentar lagi memiliki pilihan angkutan umum baru untuk perjalanan dari Kota Malang menuju Kepanjen. Trans Jatim Koridor II disiapkan menghubungkan Terminal Arjosari dengan Terminal Talangagung, Kabupaten Malang.
Rutenya sekitar 49 kilometer dengan waktu tempuh diperkirakan 1 jam 50 menit. Tarif yang disiapkan Rp5.000 untuk penumpang umum dan Rp2.500 bagi pelajar. Layanan ini juga akan didukung 12 kendaraan feeder untuk menjangkau kawasan yang tidak langsung dilalui bus utama.
Namun, sebelum warga benar-benar bisa mengandalkannya untuk perjalanan sehari-hari, ada beberapa hal yang perlu diketahui. Sebagian sudah disiapkan, sementara beberapa lainnya masih menunggu kepastian.
Target Oktober, Jadwal Belum Benar-Benar Final
Trans Jatim Koridor II sebelumnya ditargetkan diluncurkan pada 12 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur.
Namun hingga 17 September, Dinas Perhubungan Kabupaten Malang masih menunggu arahan dan koordinasi dari Dishub Jawa Timur terkait kepastian jadwal peluncuran.
Artinya, Oktober masih menjadi target, tetapi calon penumpang belum seharusnya menganggap 12 Oktober sebagai jadwal operasional yang sudah final.
Hal ini penting bagi warga yang mulai merencanakan perjalanan dengan mengandalkan layanan baru tersebut.
Dari Arjosari ke Kepanjen Lewat Mana?
Rute utama dimulai dari Terminal Arjosari, kemudian melewati kawasan Panji Suroso, Araya, Sunandar Priyo Sudarmo, Sulfat, Danau Kerinci, Danau Toba, Ki Ageng Gribig dan Terminal Madyopuro.
Perjalanan kemudian menuju Terminal Hamid Rusdi, dilanjutkan melalui Sempalwadak, Krebet dan Terminal Gondanglegi sebelum menuju wilayah Kepanjen hingga berakhir di Terminal Talangagung.
Dengan jarak sekitar 49 kilometer, perjalanan ujung ke ujung diperkirakan memerlukan waktu sekitar 1 jam 50 menit.
Bagi warga yang berada di sepanjang koridor tersebut, layanan ini memberikan alternatif baru untuk perjalanan lintas Kota Malang–Kabupaten Malang tanpa harus membawa kendaraan pribadi sepanjang perjalanan.
Tapi Tidak Semua Penumpang Tinggal di Jalur Bus
Di sinilah feeder menjadi bagian penting.
Sebanyak 12 unit feeder disiapkan untuk mendukung Koridor II. Kendaraan pengumpan ini dibutuhkan untuk menjangkau kawasan yang tidak dilalui bus utama sekaligus menghubungkan calon penumpang dengan titik layanan Trans Jatim.
Secara sederhana, perjalanan warga nantinya tidak selalu dimulai dengan naik bus Trans Jatim.
Seseorang bisa saja berangkat dari rumah menggunakan feeder, menuju titik layanan utama, kemudian melanjutkan perjalanan dengan Trans Jatim sampai tujuan.
Karena itu, keberadaan 12 feeder bukan sekadar tambahan jumlah kendaraan. Rute dan pola layanan feeder akan ikut menentukan apakah Trans Jatim benar-benar mudah digunakan oleh warga yang tinggal di luar koridor utama.
Halte Juga Belum Sepenuhnya Beres
Pemkab Malang menyiapkan anggaran sekitar Rp2 miliar melalui PAK APBD 2026 untuk pembangunan halte dan penunjang operasional Trans Jatim. Sebanyak 10 halte direncanakan berada di wilayah Kabupaten Malang.
Namun titik pembangunan halte tersebut belum ditentukan. Pemkab masih menunggu kepastian teknis penempatan halte di sepanjang koridor.
Bagi calon penumpang, titik halte bukan persoalan kecil.
Tarif yang terjangkau tetap tidak banyak membantu jika halte terlalu jauh dari permukiman, sekolah, tempat kerja atau pusat aktivitas. Begitu pula feeder yang tidak terhubung dengan baik dengan halte utama akan membuat perjalanan menjadi lebih panjang dan kurang praktis.
Karena itu, setelah layanan mulai berjalan, bukan hanya jumlah bus yang perlu dilihat. Lokasi halte, akses menuju halte, waktu tunggu dan keterhubungan feeder juga akan menentukan pengalaman penumpang.
Tarif Murah, Tapi Itu Baru Satu Bagian
Tarif yang disiapkan untuk Koridor II adalah Rp5.000 bagi penumpang umum dan Rp2.500 bagi pelajar.
Harga tersebut menjadi salah satu daya tarik layanan. Tetapi bagi pengguna harian, biaya perjalanan tidak hanya soal tiket bus utama.
Jika seseorang harus menggunakan feeder untuk mencapai halte, kemudian berganti ke Trans Jatim, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana integrasi kedua layanan tersebut berjalan di lapangan.
Begitu pula dengan waktu perjalanan. Perjalanan sekitar 1 jam 50 menit dari Arjosari ke Talangagung adalah estimasi perjalanan koridor, bukan jaminan bahwa setiap penumpang akan menempuh perjalanan dengan durasi yang sama dari rumah sampai tujuan.
BACA JUGA:
Kepanjen Malang Arjosari Bakal Terhubung Trans Jatim, Begini Nasib Angkot
Yang Sudah Siap dan Yang Masih Harus Dibuktikan
Dari persiapan yang berjalan, sejumlah bagian Koridor II sudah semakin jelas: rute utama Arjosari–Talangagung, panjang perjalanan, tarif, serta dukungan feeder.
Namun beberapa hal masih harus ditunggu atau diuji setelah layanan benar-benar berjalan, terutama kepastian jadwal operasional, titik halte, pola feeder, waktu tunggu dan konsistensi perjalanan.
Ini penting karena ukuran keberhasilan transportasi publik bukan hanya apakah bus sudah diluncurkan.
Yang lebih penting bagi warga adalah apakah layanan tersebut mudah dijangkau, mudah digunakan, memiliki waktu tunggu yang masuk akal dan benar-benar membantu perjalanan sehari-hari.
Trans Jatim Koridor II pada akhirnya bukan sekadar penambahan satu jalur bus di Malang Raya. Layanan ini akan menjadi bagian dari sistem transportasi yang mempertemukan Kota Malang dengan wilayah Bululawang, Gondanglegi hingga Kepanjen.
Karena itu, setelah bus mengaspal, masyarakat tidak hanya perlu melihat berapa banyak armada yang tersedia, tetapi juga seberapa mudah layanan itu digunakan dan seberapa konsisten berjalan sesuai yang dijanjikan.
Di situlah manfaat Koridor II nantinya akan benar-benar terlihat.(hz/*)

