Liburan ke Malang? Ini 4 Kuliner Legendaris yang Ramah di Kantong

Nov 6, 2026 - 18:38
 0
Liburan ke Malang? Ini 4 Kuliner Legendaris yang Ramah di Kantong
Proses memasak Sego Goreng Resek menggunakan wajan besar di atas tungku arang di kawasan Kasin, Kota Malang. (credit:fwpn)

SUARA3NEWS - Malang tidak hanya dikenal lewat bakso. Di sejumlah sudut kota, masih ada warung lama yang bertahan puluhan tahun dan tetap menjadi tujuan pencinta kuliner. Ada yang berada di dalam pasar tradisional, ada pula yang dikenal karena cara memasaknya masih dipertahankan hingga sekarang.

Bagi wisatawan, tempat-tempat seperti ini bisa menjadi pilihan untuk mengenal kuliner Malang tanpa harus selalu datang ke restoran besar. Selain punya menu khas, masing-masing menyimpan cerita tentang perjalanan usaha dan kebiasaan makan masyarakat setempat.

Berikut empat tempat yang bisa masuk daftar kunjungan saat berwisata di Kota Malang.

1. Warung Lama Haji Ridwan 1925, Kuliner di Dalam Pasar Besar

Mencari Warung Lama Haji Ridwan memang perlu sedikit usaha. Lokasinya bukan di deretan rumah makan pinggir jalan, melainkan di lantai dasar Pasar Besar Malang, kawasan Blok B15–16, Jalan Pasar Besar, Kecamatan Klojen. Pengunjung bisa masuk melalui Pintu 5 untuk memudahkan pencarian kios.

Warung ini sudah menetap di Pasar Besar sejak 1925. Sebelumnya, Haji Ridwan berjualan dengan memikul dagangannya di sekitar pasar. Riwayat tersebut juga tercatat dalam publikasi Pemerintah Kota Malang tentang kuliner legendaris di Pasar Besar.

Rawon, gulai sapi, krengsengan, nasi campur, dan sate komoh termasuk menu yang dikenal dari warung ini. Sate komoh berbahan daging sapi dengan bumbu rempah, sedangkan nasi campurnya menjadi pilihan lain yang cukup dikenal pelanggan.

Suasana pasar menjadi bagian dari pengalaman makan di sini. Pengunjung bisa menikmati makanan di tengah aktivitas jual beli yang berlangsung di sekitar warung. Bukan suasana restoran modern, melainkan lingkungan pasar yang sudah menjadi bagian dari perjalanan panjang tempat makan tersebut.

Publikasi Pemkot Malang mencatat jam operasional sekitar pukul 08.00–16.00 WIB. Karena berada di dalam pasar, sebaiknya datang tidak terlalu dekat dengan jam tutup.

2. Pecel Kawi Hj. Musilah, Bertahan Sejak 1975

Pecel mudah ditemukan di berbagai tempat di Malang. Namun, Pecel Kawi Hj. Musilah punya perjalanan panjang. Rumah makan di Jalan Kawi, Kios No. 43B, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, ini berdiri sejak 1975.

Riwayat tersebut juga pernah dimuat dalam publikasi Pemerintah Kota Malang. Usaha yang dirintis Hj. Musilah ini bertahan dengan menu utama nasi pecel yang terdiri dari sayuran rebus, bumbu kacang, dan rempeyek.

Pengunjung bisa memilih lauk pendamping sesuai selera. Tempe dan rempeyek menjadi pelengkap sajian pecel, sementara pilihan lauk lainnya membuat pesanan dapat disesuaikan dengan kebutuhan makan masing-masing.

Warung ini biasa dikunjungi sejak pagi. Informasi pada listing Google mencatat jam operasional sekitar pukul 06.30–17.00 WIB. Sejumlah ulasan pengunjung menyebut tempat ini cukup ramai pada waktu sarapan dan akhir pekan. Datang lebih pagi bisa menjadi pilihan jika ingin makan dengan lebih leluasa.

3. Sego Goreng Resek, Dimasak dengan Wajan Besar di Atas Arang

Namanya mungkin terdengar tidak biasa bagi wisatawan yang baru pertama kali mendengarnya. Sego Goreng Resek merupakan salah satu tujuan kuliner malam di kawasan Kasin, Kota Malang.

Warung di Jalan Brigjen Katamso, Kecamatan Klojen, ini dirintis Sati’ah pada 1959. Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Dalam publikasi resminya, Pemerintah Kota Malang menyebut Tukiman sebagai generasi kedua yang mengelola warung tersebut.

Nama “resek” punya kaitan dengan lokasi berjualan pada masa awal, yang berada di dekat tempat pembuangan sampah. Menurut penuturan pemilik kepada Pemkot Malang, nama itu diberikan oleh pelanggan. Jadi, sebutan tersebut merujuk pada cerita lokasi, bukan bahan makanan yang digunakan.

Ciri khas warung ini terlihat dari proses memasaknya. Nasi, mi, tauge, dan irisan kol diolah bersama bumbu dalam wajan berukuran besar. Proses memasak menggunakan api arang, dengan beberapa porsi diolah sekaligus.

Pengunjung juga bisa memilih tambahan lauk seperti telur, ayam suwir, atau ati ampela. Pilihan tersebut membuat pesanan bisa disesuaikan dengan selera.

Sego Goreng Resek dikenal sebagai kuliner malam. Informasi listing yang lebih baru mencatat jam operasional sekitar pukul 17.00–21.00 WIB. Warung biasanya ramai saat waktu makan malam, sehingga datang lebih awal bisa menjadi pilihan jika ingin menghindari waktu paling padat.

4. Tahu Lontong Lonceng, Resep Lama dari Kawasan Kotalama

Di kawasan Kotalama, ada Tahu Lontong Lonceng yang dikenal dengan sajian tahu lontong dan racikan bumbu khasnya. Lokasinya berada di Jalan R.E. Martadinata No. 66, Kecamatan Kedungkandang.

Menu yang tersedia antara lain tahu lontong biasa, tahu telur lontong, dan tahu telur nasi. Sajian ini terdiri dari tahu goreng atau tahu telur, lontong maupun nasi, tauge, dan kerupuk. Bumbu kacang yang dipadukan dengan petis memberi karakter rasa pada hidangan tersebut.

Ada hal lain yang membuat warung ini menarik. Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kota Malang pernah memuat profil Tahu Lontong Lonceng dan menyebut tahu yang digunakan merupakan produksi sendiri. Racikan bumbunya juga tetap dipertahankan sejak awal usaha.

Tempat makannya relatif sederhana dan tidak terlalu luas. Sejumlah ulasan pengunjung menyebut kapasitas tempat duduk terbatas. Jika datang saat ramai, pengunjung mungkin perlu menunggu meja kosong.

Listing Google mencatat jam buka sekitar pukul 10.45–22.00 WIB. Untuk hari Sabtu, ada informasi yang mencatat waktu buka sedikit lebih siang. Sebaiknya periksa kembali jadwal sebelum berangkat, terutama jika datang pada akhir pekan.

Keempat warung ini punya ciri masing-masing. Haji Ridwan menawarkan suasana makan di tengah Pasar Besar, Pecel Kawi mempertahankan sajian yang dikenal sejak 1975, Sego Goreng Resek punya cerita nama dan cara memasak dengan arang, sedangkan Tahu Lontong Lonceng menjaga racikan keluarga dan produksi tahu sendiri.

Lokasinya tersebar di beberapa kawasan Kota Malang. Wisatawan bisa menyesuaikan pilihan dengan rute perjalanan, waktu makan, dan tempat yang ingin dikunjungi. Jika ingin mencari kuliner malam, Sego Goreng Resek bisa masuk agenda. Sementara Haji Ridwan dan Pecel Kawi lebih cocok disinggahi pada pagi hingga siang hari.(hz)

Helmy Zulkarnain Wartawan / redaktur Suara3News Helmy Zulkarnain adalah wartawan Suara3News yang aktif menulis berita nasional, gaya hidup sosial budaya dan teknologi. Ia juga terlibat dalam peliputan berbagai peristiwa publik Bidang liputan: Pemerintahan & Hukum, Nasional, Sosial Budaya wilayah liputan: Malang Raya, Nasional