385 Warga Lolos Mudik Gratis Malang—Banyak Tak Kebagian, Kuota Diminta Ditambah
SUARA3NEWS - Tak semua bisa berangkat. Saat program Mudik Gratis Kabupaten Malang dibuka, antusias warga langsung membludak. Dari banyaknya pendaftar, hanya 385 orang yang akhirnya lolos dan diberangkatkan Selasa (17/3). Lonjakan ini memunculkan satu masalah baru: kuota dinilai sudah tak lagi cukup.
Program Mudik Gratis Lebaran 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Malang diserbu warga. Ratusan orang akhirnya diberangkatkan dari Pendopo Agung Kabupaten Malang, namun tingginya minat membuat program ini menyisakan catatan: tidak semua peminat bisa terakomodasi.
Sebanyak 385 peserta resmi diberangkatkan menggunakan tujuh armada bus pada Selasa (17/3) pagi. Pelepasan dilakukan langsung oleh Bupati Malang Sanusi, didampingi Wakil Bupati Lathifah Shohib, jajaran Forkopimda, serta sejumlah mitra perbankan dan swasta.
Mayoritas peserta, yakni sekitar 86 persen, merupakan warga Kabupaten Malang. Sisanya berasal dari luar daerah yang turut memanfaatkan program ini untuk pulang ke kampung halaman tanpa harus terbebani biaya transportasi yang kian mahal saat musim mudik.
Namun di balik keberangkatan itu, terselip realita lain. Tingginya minat masyarakat menunjukkan bahwa kebutuhan akan program mudik gratis jauh lebih besar dibanding kuota yang tersedia saat ini.
Pemerintah Kabupaten Malang sendiri menyiapkan tujuh bus dengan kapasitas masing-masing 55 kursi. Armada tersebut melayani sejumlah rute strategis di Jawa Timur, mulai dari Madura hingga wilayah tapal kuda dan selatan.
Rute yang dilayani meliputi perjalanan menuju Sumenep melalui jalur Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan; kemudian Ngawi via Nganjuk dan Madiun; Banyuwangi melalui Probolinggo dan Situbondo; Pacitan lewat Trenggalek dan Ponorogo; serta Bondowoso melalui jalur Probolinggo dan Jember.
Bupati Malang menegaskan, program ini bukan sekadar bantuan transportasi, melainkan langkah untuk menekan risiko besar yang selalu mengintai saat arus mudik.
“Bukan hanya soal biaya, tapi bagaimana masyarakat bisa mudik lebih aman, nyaman, dan tertib,” ujar Sanusi.
Ia juga menyoroti lonjakan kendaraan pribadi saat Lebaran yang kerap berujung pada kemacetan panjang hingga kecelakaan. Karena itu, skema mudik bersama dinilai menjadi solusi yang lebih terkendali.
Di sisi lain, tingginya animo masyarakat menjadi sinyal kuat bagi pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi. Bupati Malang secara terbuka meminta agar jumlah armada dan kuota peserta ditambah pada pelaksanaan tahun depan.
Permintaan ini bukan tanpa alasan. Setiap tahun, tren mudik menunjukkan peningkatan, sementara kapasitas program masih terbatas. Jika tidak diantisipasi, potensi warga yang tidak terlayani akan semakin besar.
Pesan juga disampaikan kepada para peserta yang berangkat. Mereka diminta menjaga kondisi fisik, mengikuti arahan petugas, dan tetap tertib selama perjalanan agar bisa tiba di kampung halaman dengan selamat.
Program Mudik Gratis ini kini tak hanya menjadi fasilitas bantuan, tetapi juga cerminan meningkatnya tekanan ekonomi masyarakat sekaligus tantangan pemerintah dalam mengelola mobilitas besar saat Lebaran.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah program ini dibutuhkan, melainkan seberapa besar kapasitasnya mampu mengejar lonjakan kebutuhan warga.(hz/*)

