Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering, Malang Terancam Krisis Air dan Kebakaran Lahan
SUARA3NEWS - Kemarau 2026 diprediksi tak sekadar kering—tapi bisa memicu krisis air di sejumlah wilayah Malang. BMKG sudah memberi sinyal bahaya: kekeringan panjang dan ancaman kebakaran lahan berpotensi datang lebih awal dari perkiraan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur resmi merilis prakiraan musim kemarau 2026. Hasilnya memberi sinyal yang tak bisa dianggap ringan—kemarau tahun depan berpotensi lebih kering dan berlangsung lebih lama.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, menegaskan bahwa informasi ini merupakan peringatan dini agar semua pihak bisa bersiap sejak sekarang. Menurutnya, ada potensi penguatan fenomena El Nino pada pertengahan hingga akhir tahun, yang bisa memperparah kondisi kekeringan di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Malang.
Secara umum, musim kemarau diperkirakan mulai masuk pada Mei 2026 dan akan meluas secara bertahap. Namun, sebagian wilayah di Malang diprediksi sudah lebih dulu merasakan kondisi kering sejak akhir April, sebelum akhirnya hampir seluruh kawasan terdampak pada Juni.
Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026—fase yang biasanya ditandai dengan minimnya curah hujan dan meningkatnya suhu udara. Pada periode ini, risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) cenderung berada di titik tertinggi.
BMKG mencatat, karakter kemarau tahun depan tidak hanya kering, tetapi juga panjang. Durasi musim kemarau diperkirakan bisa mencapai lima hingga delapan bulan di sejumlah wilayah. Curah hujan pun diprediksi berada di bawah normal, memperbesar potensi krisis air di daerah-daerah tertentu.
Bagi warga di wilayah rawan, kondisi ini bukan sekadar perubahan musim. Berkurangnya pasokan air bersih bisa berdampak langsung pada aktivitas sehari-hari—mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga pertanian.
Situasi ini bukan tanpa peringatan. Sebelumnya, pemerintah sudah lebih dulu menetapkan status darurat bencana di Malang sebagai sinyal kondisi yang perlu diwaspadai.
BACA JUGA : Data BNPB: Waspada banjir, longsor, dan gempa di awal 2026
BPBD Kabupaten Malang siaga bencana hingga Maret 2026
Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, ancaman ini bukan tanpa bukti. Data mencatat, puluhan desa di Kabupaten Malang sempat mengalami krisis air bersih dalam beberapa tahun terakhir. Jumlahnya bahkan cenderung meningkat sebelum akhirnya tidak tercatat kasus pada 2025. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menjamin situasi akan aman di tahun berikutnya.
Jika tidak diantisipasi sejak awal, kemarau panjang berpotensi kembali memicu krisis serupa. Terlebih, penurunan debit sumber air akibat minimnya hujan serta kendala pada jaringan distribusi masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya tuntas.
Selain kekeringan, ancaman lain yang perlu diwaspadai adalah kebakaran hutan dan lahan. Wilayah dengan tutupan lahan kering, terutama di kawasan perbukitan dan pegunungan, menjadi titik paling rentan ketika suhu meningkat dan kelembapan menurun drastis.
Menghadapi kondisi ini, BMKG mendorong langkah antisipatif sejak dini. Di sektor pertanian, petani disarankan menyesuaikan pola tanam serta memilih varietas yang lebih tahan kekeringan atau berumur pendek untuk menekan risiko gagal panen.
Sementara itu, masyarakat juga diimbau mulai menyiapkan cadangan air sejak sisa musim hujan. Penampungan air melalui embung, tandon, atau waduk bisa menjadi langkah sederhana namun krusial untuk menghadapi musim kering yang panjang.
Penggunaan air secara bijak juga menjadi kunci. Di tengah ancaman kemarau yang lebih ekstrem, setiap penghematan kecil bisa berdampak besar dalam menjaga ketersediaan air.
Di sisi lain, pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya dalam penyediaan dan distribusi air bersih di wilayah rawan. Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan juga perlu diperkuat, terutama di area yang memiliki riwayat kejadian serupa.
Tak kalah penting, masyarakat diimbau menjaga kondisi kesehatan. Perubahan cuaca ekstrem dan suhu udara yang lebih panas saat puncak kemarau berpotensi memicu gangguan kesehatan jika tidak diantisipasi sejak dini.(hz/*)

