Belum Sempat Dipakai, THR Sudah Menipis: Ini yang Sebenarnya Terjadi Tiap Jelang Lebaran

Mar 17, 2026 - 15:55
 0
Belum Sempat Dipakai, THR Sudah Menipis: Ini yang Sebenarnya Terjadi Tiap Jelang Lebaran
Ilustrasi antrean warga di kasir supermarket saat momen belanja meningkat, dengan aktivitas pembeli yang padat.(foto/Ist)

SUARA3NEWS - THR akhirnya cair. Notifikasi masuk, saldo bertambah. Tapi tak lama kemudian, angkanya mulai menyusut—pelan, lalu tiba-tiba tinggal sedikit. Bukan karena boros—tapi karena kebutuhan datang hampir bersamaan.

Fenomena ini bukan cerita baru. Setiap menjelang Lebaran, banyak orang merasakan hal yang sama: THR datang, tapi rasanya tidak pernah benar-benar “tinggal”.

Bukan karena boros. Tapi karena kebutuhan datang hampir bersamaan, tanpa jeda.

Mulai dari cicilan bulanan, belanja kebutuhan pokok, hingga pengeluaran keluarga yang sudah lama tertunda, semuanya seolah menunggu satu momen: saat THR masuk ke rekening.

Dalam kondisi seperti ini, fungsi THR perlahan bergeser. Bukan lagi sekadar tambahan untuk menikmati hari raya, melainkan menjadi “penutup” dari berbagai kebutuhan yang sudah menumpuk sebelumnya.

Pengamat ekonomi dari Malang, Budi Santoso, menjelaskan bahwa fenomena ini sangat wajar terjadi, terutama di tengah tekanan kebutuhan menjelang Lebaran.

“Secara konsep, THR itu tambahan pendapatan. Tapi dalam praktiknya, banyak masyarakat langsung mengalokasikannya untuk kewajiban yang sudah ada. Jadi memang cepat habis,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (17/3/2026).

Menurutnya, kenaikan pengeluaran menjelang hari raya hampir selalu terjadi setiap tahun. Kebutuhan rumah tangga meningkat, sementara beban rutin seperti cicilan tetap berjalan.

Akibatnya, ruang untuk benar-benar “menikmati” THR menjadi semakin sempit.

Jika dilihat dari pola pengeluaran, sebagian besar THR biasanya terserap untuk kebutuhan prioritas, seperti:

  • Pembayaran utang atau cicilan

  • Belanja kebutuhan pokok

  • Keperluan anak dan rumah tangga

  • Pengiriman uang ke keluarga di kampung

“Sering kali bukan habis karena keinginan, tapi karena kebutuhan yang tidak bisa ditunda,” tambahnya.

Di sisi lain, pemerintah melalui Dinas Ketenagakerjaan memastikan bahwa pencairan THR tahun ini berjalan sesuai aturan, di mana perusahaan wajib membayarkan hak pekerja tersebut sebelum hari raya keagamaan.

Namun demikian, kondisi ekonomi setiap individu berbeda. Ada yang masih bisa menyisihkan sebagian, tetapi tidak sedikit yang harus langsung menggunakannya untuk menutup kebutuhan mendesak.

Fenomena ini pun terus berulang dari tahun ke tahun.

Dan pada akhirnya, makna THR bagi sebagian orang ikut berubah.

Bukan lagi soal berapa yang didapat, tapi apakah cukup untuk bertahan.(hz)

Helmy zulkarnain S.I.kom Wartawan / redaktur Suara3News Helmy Zulkarnain adalah wartawan Suara3News yang aktif menulis berita nasional, gaya hidup sosial budaya dan teknologi. Ia juga terlibat dalam peliputan berbagai peristiwa publik Bidang liputan: Pemerintahan & Hukum, Nasional, Sosial Budaya wilayah liputan: Malang Raya, Nasional