Pertalite Terancam Diganti E20? Pemerintah Gaspol Biofuel di Tengah Krisis Energi

Mar 31, 2026 - 22:30
 0
Pertalite Terancam Diganti E20? Pemerintah Gaspol Biofuel di Tengah Krisis Energi
Menteri Pertanian Andi Amran dalam sebuah konfrensi pers : biofuel E20 disebut berpotensi menggantikan Pertalite di tengah tekanan krisis energi global.(foto/Ist)

SUARA3NEWS - Harga energi dunia belum stabil, tapi perubahan sudah mulai disiapkan dari dalam negeri. Diam-diam, pemerintah mendorong skema baru yang bisa mengubah isi tangki kendaraan: Pertalite bukan lagi jadi andalan—dan penggantinya bukan bensin biasa.

Di tengah tekanan krisis energi global dan ketidakpastian pasokan minyak, pemerintah Indonesia mulai menggeser arah kebijakan bahan bakar secara serius. Fokusnya jelas: mengurangi ketergantungan pada impor BBM dan beralih ke energi berbasis dalam negeri.

Langkah itu kini mengarah pada dua skema utama: B50 untuk solar dan E20 untuk bensin. Keduanya bukan sekadar campuran—tapi bagian dari strategi besar yang berpotensi mengubah peta konsumsi BBM nasional.

Yang paling menyita perhatian: E20 disebut-sebut sebagai kandidat pengganti Pertalite.

E20 Masuk Radar, Pertalite Mulai Dipertanyakan

Pemerintah secara terbuka mendorong pengembangan E20—bahan bakar campuran 20 persen etanol dan 80 persen bensin. Etanolnya tidak diimpor, melainkan diambil dari bahan lokal seperti tebu, jagung, hingga singkong.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pernah menegaskan arah kebijakan ini, bahwa campuran etanol dalam bensin bukan lagi sekadar eksperimen, tapi target nyata ke depan.

Artinya, perubahan bukan lagi soal “akan atau tidak”—
melainkan
kapan mulai terasa di SPBU.

B50 Jalan Terus, Impor Solar Ditekan

Di sisi lain, pemerintah tetap melanjutkan program B50, yaitu campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit dengan 50 persen solar.

Targetnya tegas:

  • menekan impor energi

  • menjaga ketahanan pasokan

  • sekaligus mengangkat komoditas sawit sebagai energi strategis

Program ini bahkan diklaim sudah mengurangi ketergantungan impor dalam skala besar, meski implementasinya sempat tertahan faktor teknis dan biaya.

Kenapa Sekarang? Geopolitik Jadi Alarm

Dorongan mempercepat biofuel bukan tanpa alasan.

Ketegangan global, fluktuasi harga minyak, hingga risiko gangguan distribusi energi membuat pemerintah tak punya banyak pilihan. Ketergantungan pada BBM impor kini dianggap terlalu berisiko.

Di sisi lain, Indonesia punya “senjata” sendiri:

  • sawit

  • tebu

  • jagung

  • singkong

Komoditas yang sebelumnya identik dengan pangan, kini didorong naik kelas jadi sumber energi.

Dampak Nyata: Bukan Sekadar Ganti BBM

Jika E20 benar-benar diterapkan luas, efeknya tidak berhenti di sektor energi.

1. Kebiasaan Isi BBM Bisa Berubah

Pertalite (RON 90) berpotensi perlahan tergeser. Pengguna kendaraan akan dihadapkan pada opsi baru yang belum sepenuhnya familiar.

2. Pertanian Ikut Terdorong—Tapi Ada Risiko

Permintaan jagung dan tebu bisa melonjak. Di satu sisi menguntungkan petani, tapi di sisi lain bisa memicu tekanan harga pangan jika tidak dikendalikan.

3. Pertanyaan Besar dari Masyarakat

Yang belum terjawab sepenuhnya:

  • Apakah semua motor aman pakai E20?

  • Apakah performanya sama?

  • Lebih hemat atau justru boros?

Ini bukan pertanyaan kecil—karena langsung menyentuh pengguna harian.

Realita di Lapangan: Belum Siap Sepenuhnya

Meski arah kebijakan sudah jelas, implementasi E20 masih menghadapi tantangan:

  • Infrastruktur distribusi belum merata

  • Uji teknis kendaraan masih terbatas

  • Skema harga dan subsidi belum transparan

Artinya, perubahan sudah dirancang—tapi belum sepenuhnya siap dijalankan.

Sejumlah uji teknis di Indonesia menunjukkan hasil yang beragam. Pada beberapa pengujian, campuran E20 mampu meningkatkan performa dan menurunkan emisi dibanding Pertalite. Namun di sisi lain, studi pada jenis mesin berbeda justru menemukan penurunan performa pada kadar etanol 20 persen. Pemerintah sendiri menyebut kendaraan modern di Indonesia secara teknis kompatibel hingga E20, meski kesiapan kendaraan lama masih menjadi perhatian.

Di Balik Ambisi: Siapa Diuntungkan, Siapa Waspada?

Kebijakan ini membawa dua sisi:

Yang berpotensi diuntungkan:

  • sektor pertanian & perkebunan

  • industri bioenergi

  • negara (penghematan impor)

Yang masih menunggu kepastian:

  • pengguna kendaraan harian

  • pelaku transportasi

  • masyarakat kelas menengah bawah

Karena bagi mereka, satu hal yang paling penting tetap sama:
harga dan keandalan di jalan.

E20 mungkin belum menggantikan Pertalite hari ini. Tapi arah kebijakan sudah bergerak ke sana.

Dan jika benar diterapkan, perubahan ini bukan cuma soal bahan bakar—
melainkan soal bagaimana masyarakat beradaptasi dengan “energi versi baru” di kehidupan sehari-hari.

Pertanyaannya sekarang:
siapa yang siap lebih dulu—pemerintah, atau penggunanya? (hz)

Helmy zulkarnain S.I.kom Wartawan / redaktur Suara3News Helmy Zulkarnain adalah wartawan Suara3News yang aktif menulis berita nasional, gaya hidup sosial budaya dan teknologi. Ia juga terlibat dalam peliputan berbagai peristiwa publik Bidang liputan: Pemerintahan & Hukum, Nasional, Sosial Budaya wilayah liputan: Malang Raya, Nasional