Lomba Video Literasi Malang 2026 Dibuka, Video 5–7 Menit Bisa Bikin Karyamu Dilihat Banyak Orang
SUARA3NEWS - Warga Malang usia 17–35 tahun, ini bukan sekadar lomba biasa. Kalau selama ini cuma jadi penonton konten, sekarang waktunya bikin karya sendiri—dan berpeluang ditonton lebih luas.
Peringatan HUT ke-112 Kota Malang tahun ini tidak hanya soal seremoni. Ada ruang yang dibuka untuk anak muda yang ingin karyanya benar-benar “terlihat”.
Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang resmi menggelar Lomba Video Konten Literasi 2026. Sasarannya jelas: masyarakat umum, khususnya usia 17 sampai 35 tahun yang punya ide, tapi mungkin belum tahu harus menyalurkannya ke mana.
Kepala Dispussipda Kota Malang, Ir. Yayuk Hermiati, MH, menyebut ajang ini sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat literasi dengan cara yang lebih dekat dengan kebiasaan sekarang.
“Kami mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk ikut berperan dalam gerakan literasi melalui karya kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Temanya tidak kaku. Justru dibuat cukup luas supaya peserta bisa menyesuaikan dengan gaya masing-masing. Mulai dari gedung perpustakaan, buku dan koleksi, layanan inklusif, digital library, sampai naskah kuno dan peran masyarakat dalam literasi.
Artinya, tidak harus selalu serius. Mau dibikin santai, storytelling, atau bahkan gaya dokumenter ringan—semuanya masih masuk.
“Kami memberikan banyak pilihan tema supaya peserta bisa lebih bebas mengekspresikan gagasan mereka,” tambah Yayuk.
Durasi videonya juga tidak panjang. Cukup 5 sampai 7 menit. Diunggah ke YouTube, lalu kirimkan tautannya. Selesai.
Sederhana. Tapi di situ justru peluangnya.
Karena begitu video dipublikasikan, yang melihat bukan hanya juri. Siapa saja bisa menonton, membagikan, bahkan mungkin mengenal nama pembuatnya untuk pertama kali.
Penilaian akan dilakukan oleh dewan juri yang sudah cukup dikenal di bidangnya: Achmad Faris (praktisi komunikasi dan kreatif sekaligus Ketua YouTuber Malang), Nurlayla Ratri (Pemimpin Redaksi Jatim Times Network), serta Syaiful Arif (Redaktur Javasatu.com).
Yang dicari bukan sekadar visual yang rapi. Lebih dari itu, ada pesan yang sampai. Ada cerita yang terasa dekat. Dan kalau bisa, ada sesuatu yang bikin orang ikut berpikir.
Di tengah banjir konten yang lewat begitu cepat, karya yang punya makna biasanya justru lebih diingat.
Karena itu, ajakan ini sebenarnya sederhana: jangan cuma scroll.
“Jangan ragu untuk ikut. Satu karya video bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang dan menggerakkan literasi di Kota Malang,” tutup Yayuk.(hz/*)

