Rp12 Triliun Bansos Turun, Tapi Harga Cabai di Malang Tembus Rp120 Ribu—Warga Masih Nombok

Mar 30, 2026 - 19:41
 0
Rp12 Triliun Bansos Turun, Tapi Harga Cabai di Malang Tembus Rp120 Ribu—Warga Masih Nombok
Harga cabai di Malang tembus Rp120 ribu/kg, bansos triliunan belum sepenuhnya meredam kenaikan bahan pokok.(Foto/Suara3News)

SUARA3NEWS - Triliunan rupiah bantuan sosial sudah digelontorkan pemerintah. Tapi di pasar-pasar Malang, kenyataannya berbeda: cabai tetap mahal, minyak goreng belum stabil, dan belanja dapur masih terasa berat. Di titik ini, pertanyaannya mulai berubah—bukan lagi “ada bantuan atau tidak”, tapi “kenapa tetap terasa kurang?”

Uang Turun Besar, Tapi Dapur Tetap Nombok

Pemerintah pusat sepanjang 2025 telah menyalurkan bantuan sosial (bansos) hingga Rp12,135 triliun kepada 3,33 juta keluarga penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Program seperti PKH (Program Keluarga Harapan) dan BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) diharapkan menjadi bantalan bagi masyarakat saat harga kebutuhan pokok naik.

Namun di Kota Malang, efeknya belum sepenuhnya terasa.

Di level paling dekat dengan warga—pasar dan dapur rumah tangga—harga bahan pangan justru masih berada di titik yang membuat banyak orang harus menghitung ulang pengeluaran harian.

Cabai “Menyengat”, Minyak Masih Bikin Was-Was

Data lapangan menunjukkan, harga cabai rawit di Malang sempat menyentuh Rp120.000 per kilogram pada pertengahan Maret 2026.

Angka ini bukan sekadar statistik. Bagi pedagang dan pembeli, ini berarti perubahan nyata dalam pola belanja.

Mengacu pada laporan pemantauan harga dari instansi perdagangan daerah dan operasi pasar murah Jawa Timur, harga cabai memang mengalami lonjakan tajam menjelang Ramadan hingga Lebaran—dipicu pasokan terganggu dan cuaca yang tidak stabil.

Sementara itu, minyak goreng yang sempat dijual Rp13.000 per liter dalam program pasar murah, di lapangan masih kerap dijual lebih tinggi di sejumlah titik.

Beras premium pun berada di kisaran Rp14.000 per kilogram—angka yang bagi sebagian warga masih terasa berat, terutama saat kebutuhan lain ikut naik.

Data Bicara: Kemiskinan Turun, Tapi Beban Hidup Naik

Secara statistik, kondisi di Malang terlihat membaik.

Jumlah penduduk miskin tercatat sekitar 3,85 persen atau sekitar 34,4 ribu jiwa per Maret 2025. Namun di saat yang sama, garis kemiskinan justru ikut naik.

Kini, rata-rata kebutuhan minimum per kapita mencapai Rp737.954 per bulan.

Artinya sederhana:
meski jumlah warga miskin menurun, biaya hidup justru semakin tinggi.

Dan di titik ini, bansos tidak selalu mampu mengejar laju kenaikan harga.

Pemerintah Akui Tekanan Belum Reda

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyebut bansos tetap disalurkan dengan skema yang ditargetkan untuk kelompok rentan.

Namun ia juga mengakui, lonjakan harga pangan—terutama cabai—dipengaruhi faktor eksternal.

Tekanan inflasi global serta kondisi cuaca yang berdampak pada produksi menjadi dua faktor utama yang membuat harga sulit dikendalikan dalam waktu singkat.

dari berbagai laporan lapangan—baik dari dinas perdagangan, pantauan media lokal, hingga operasi pasar—menunjukkan kecenderungan yang sama:

  • Pembeli mulai mengurangi jumlah belanja, terutama untuk komoditas seperti cabai

  • Pedagang mengaku penjualan melambat saat harga terlalu tinggi

  • Warga penerima bantuan tetap merasa harus “menambal” kebutuhan dari kantong pribadi

Situasi ini memperlihatkan satu hal yang cukup jelas:
bantuan memang membantu, tapi belum cukup untuk menutup seluruh tekanan yang ada.

Antara Bantuan dan Kenyataan yang Belum Sinkron

Di atas kertas, bansos Rp12 triliun adalah angka besar. Tapi di kehidupan sehari-hari, dampaknya tidak selalu terasa sebanding.

Harga pangan yang fluktuatif membuat bantuan yang diterima cepat “tergerus” kebutuhan lain.

Di Malang, kondisi ini seperti berjalan di dua jalur yang berbeda:
bantuan terus disalurkan, sementara harga di pasar tetap bergerak naik.

Dan bagi warga, yang dirasakan bukan besarnya angka bansos—
melainkan seberapa jauh uang itu bisa bertahan sampai akhir bulan.

Pertanyaan yang Belum Terjawab

Situasi ini menyisakan satu pertanyaan yang semakin sering muncul di tingkat bawah:

jika bantuan sudah besar, kenapa tekanan belum juga reda?

Selama faktor pasokan, distribusi, dan cuaca belum stabil, harga pangan akan tetap mudah naik. Dan selama itu pula, bansos berisiko hanya menjadi penahan sementara—bukan solusi jangka panjang.

Di Malang hari ini, masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya bantuan.
Tapi apakah bantuan itu benar-benar cukup, saat harga terus bergerak ke atas. (hz)



Helmy zulkarnain S.I.kom Wartawan / redaktur Suara3News Helmy Zulkarnain adalah wartawan Suara3News yang aktif menulis berita nasional, gaya hidup sosial budaya dan teknologi. Ia juga terlibat dalam peliputan berbagai peristiwa publik Bidang liputan: Pemerintahan & Hukum, Nasional, Sosial Budaya wilayah liputan: Malang Raya, Nasional